•   Sabtu, 22 Februari 2020
TapalKuda

Protes Pernyataan Bupati, Sejumlah Warga Gelar Tahlilan di Halaman DPRD Jember

( words)
Aksi Tahlilan di depan gedung DPRD Jember.


SURABAYAPAGI.com, Jember - Sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Tertindas (Format) Jember menggelar tahlil dan doa bersama di halaman gedung DPRD Jember, Jawa Timur, Kamis (11/4/2019).

Aksi tahlil dan doa bersama ini dipimpin Ketua Format, Kustiono Musri. Mereka menuntut kejelasan sikap DPRD Jember terkait dengan viralnya video Bupati Faida yang menyinggung 50 anggota parlemen.

“Dari perjalanan politik di kabupaten, sudah mentok rasanya, sehingga kami tak punya cara lain kecuali mengembalikan (penyelesaian persoalan) kepada Sang Pencipta yang memiliki segalanya untuk kemudian menggerakkan para pihak,” kata Kustiono kepada wartawan, Kamis 11 April 2019.

Meskipun hanya diikuti 12 orang, aksi itu dikawal sejumlah polisi yang berjaga tepat di depan pintu masuk DPRD Jember. “Di mata bupati, 50 orang anggota DPRD ribut terus, tak mau sinkron dengan bupati, karena 50 anggota DPR itu mau suap. Bupati lupa, menurut konstitusi, DPR tidak boleh mesra dengan eksekutif,” ujar Kustiono.

Video yang menjadi viral tersebut, Bupati Faida sedang berbicara dalam rumah salah satu warga dan dikelilingi beberapa orang. Tampak juga Abdul Rohim, suaminya sekaligus calon legislator DPR RI dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Dalam video itu, Faida berharap DPRD kabupaten betul-betul diisi oleh para legislator yang memperjuangkan rakyat. “Bukan kayak sekarang, 50 orang geridduh meloloh (ribut terus). Berantem terus sama bupati. Saya memang tidak mau kalau suruh nyogok-nyogok terus baru ditandatangani APBD. Tidak mau saya. Makanya geridduh meloloh,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

“Maka saya pesan kepada bapak ibu, sekarang jangan pilih caleg yang bagi-bagi uang. Kalau dia bagi-bagi uang, terus habis banyak, waktu jadi pasti dia korupsi. Waktu jadi, pasti mengganggu pembangunan,” sambung Faida.

“Kalau yang bagi-bagi uang kita pilih, kita memilih calon koruptor. Hati-hati. Bagaimana kalau ada yang bagi-bagi uang? Deremmah? Kalak pesennah, jek peleh orenga (Bagaimana? Ambil uangnya jangan pilih orangnya),” kata Faida.

Menurut Kustiono, jika memang 50 anggota DPRD Jember meminta sogokan, maka sebaiknya dilaporkan ke aparat kepolisian dan tak hanya diwacanakan di masyarakat. “Kalau perlu dijebak,” katanya.

Kustiono khawatir, pernyataan dalam video tersebut bisa memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap parlemen. Padahal, 17 April 2019, pemilu legislatif digelar, dan salah satunya untuk memilih anggota-anggota DPRD Jember.

“Ini begitu mendasar dan berpotensi merusak tatanan demokrasi. Menurut kalkulasi matematis saya, paling tidak akan meningkatkan angka golput. Ketika ngomong golput, pelaksanaan pemilu tidak sukses, pasti ada efeknya kepada (capres) incumbent. Jadi multiplier effect-nya panjang. Ketika kepercayaan publik terhadap fungsi parlemen melemah, maka bisa dipastikan golput tinggi,” jelasnya. (Koes)

Berita Populer