•   Minggu, 26 Januari 2020
Kriminal

Pria 78 Tahun di AS Mengaku Sudah Bunuh 90 Wanita

( words)
Samuel Little


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Seorang pria 78 tahun di Amerika Serikat mengaku telah membunuh 90 wanita selama puluhan tahun terakhir. Penelusuran tengah dilakukan dan jika pengakuannya benar, maka dia adalah pembunuh berantai dengan korban terbanyak di negara itu.
Pria bernama Samuel Little itu sebelumnya pada 2014 telah divonis penjara seumur hidup karena membunuh tiga wanita di Los Angeles antara 1987 hingga 1989. Ketiganya dipukuli dan dicekik.
Pengungkapan kasus pembunuhan tersebut terjadi tidak sengaja ketika Little ditangkap di rumah penampungan tunawisma di Kentucky pada 2012 karena kasus narkoba. Dia lalu diekstradisi ke California dan pengujian medis menunjukkan DNA-nya cocok dengan kasus pembunuhan tiga wanita tersebut.
Jaksa Penyidik Ector County, Bobby Bland, mengatakan dalam penyelidikan lanjutan Little mengakui pembunuhan lainnya, yaitu Denise Christie Brothers di Odessa, Texas, pada 1994.
Ranger Texas James Holland berhasil melakukan pendekatan dengan Little pada Mei lalu, membuat pria kulit hitam itu mengakui lebih banyak lagi pembunuhan yang dilakukannya antara 1970 hingga 2005 di banyak kota dan negara bagian.
Total Little mengaku telah membunuh hingga 90 orang. Sejauh ini, telah 34 pembunuhan yang telah terverifikasi.

Pembunuh Terbanyak
Kehidupan Little berakhir di jalanan ketika dia keluar dari SMA dan meninggalkan kampung halamannya di Ohio pada 1950-an. Sejak saat itu, dia hidup berpindah-pindah dengan mobilnya.
Pembunuhan tersebut dilakukan Little dengan memukuli korban dan mencekiknya sehingga polisi mengira korban tewas karena overdosis narkoba, kecelakaan, atau meninggal secara alamiah.
Menurut Bland, Little masih ingat betul satu per satu korbannya, bahkan bisa menggambarkan wajah mereka dengan gamblang. Namun dia lupa tanggal pasti pembunuhan tersebut dilakukan.

Jika pengakuan ini benar, kata Bland, "Little akan menjadi pembunuh berantai dengan korban terbanyak dalam sejarah Amerika".

Berita Populer