•   Kamis, 23 Januari 2020
Surabaya

Prestasi Risma Dipertanyakan

( words)
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini


Usai Terima Penghargaan Guangzhou Award, Walikota Tri Rismaharini Dikritik Banyak Tokoh. Sebab 8 Tahun Memimpin Surabaya, Pembangunan yang Dilakukan Banyak Untungkan Warga Kaya.

Firman Komeng, Jemmi Purwodianto, Noviyanti Tri
Tim Wartawan Surabaya Pagi
----------------
Kota Surabaya baru saja terpilih sebagai kota terpopuler secara online di ajang Guangzhou International Award 2018. Namun penghargaan yang diterima Walikota Surabaya Tri Rismaharini di Guangzhou, China, Jumat (7/12) lalu, menjadi polemik. Sejumlah tokoh justru mempertanyakan prestasi wanita yang kini telah menjadi kader PDIP itu. Pasalnya, pembangunan yang dilakukan Tri Rismaharini selama 8 tahun ini dinilai hanya berdampak pada masyarakat kaya saja.
------
Demikian diungkapkan Anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Demokrat Muhammad Mahmud, Pakar ekonomi Tjuk Sukiadi yang juga dikenal sebagai budyawan, Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi, Anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Gerindra Sutadi yang juga mantan pejabat Pemkot Surabaya, serta Pakar Tata Kota dari Universitas Kristen Petra Surabaya Benny Poerbantanoe.
M. Mahmud, misalnya. Mantan Ketua DPRD Surabaya ini mengaku bangga dengan penghargaan yang diterima kota Surabaya di ajang Guangzhou Award tersebut. Namun ia akan lebih bangga jika Walikota Tri Rismaharini mau membangun kota Surabaya dengan merata.
Sebab, selama ini pembangunan masih terpusat di tengah kota. Belum sampai ke daerah pinggiran. Padahal, kekuatan APBD Kota Surabaya cukup besar. Tahun anggaran 2019, APBD Surabaya mengalami kenaikan dari tahun 2018 senilai Rp9,3 triliun menjadi Rp9,5 triliun.
"Dana APBD itu kan bukan dari orang tengah kota saja. Lah orang pinggiran juga memiliki hak sama. Kalau di kota habis-habisan membangun, pinggiran ketinggalan, buat apa?" ungkap Mahmud kepada Surabaya Pagi, Minggu (9/12/2018).

Image
Mahmud menambahkan pembangunan yang tidak merata akan membuat kecemburuan sosial bagi warga Surabaya. Ia mencontohkan pembangunan jalan buntu di Manukan. Selama ini, kata Mahmud, ia sudah berusaha agar Pemkot Surabaya membangun jalan tersebut tembus ke jalan lainnya.
"Kalau jalan itu tembus kan bisa menaikan perekonomian warga sekitar. Banyak pengendara yang lewat situ. Tapi sudah bertahun-tahun saya usahakan tapi tak di respon. Malah jalan yang dari Galaxi Mall menuju Juanda (MERR/JLLT, red) yang terus diperhatikan. Ini kan tidak adil," tambah Mahmud.
Untuk diketahui, Jalur Lingkar Luar Timur (JLLT) yang dibangun Pemkot Surabaya ini menghubungkan kawasan Suramadu, Kenjeran hingga Gunung Anyar (Surabaya Timur).
Begitu juga dengan pembangunan Jalur Lingar Luar Barat (JLLB) yang membentang di Surabaya Barat, mulai dari Romokalisari, Pakal, Sememi, hingga Lakarsantri. Menurut Mahmud, pembangunan jalan tersebut lebih menguntungkan pengusaha dan pengembang.
Ia mencontohkan, begitu MERR dibangun langsung dimanfaatkan pengembang untuk mendirikan apartemen, mall dan hotel. Diantaranya, apartemen Gunawangsa, Bale Hinggil, One East Residences, hingga Galaxi Mall yang melakukan pengembangan proyek porpertinya di seberang jalan.
Pakuwon City yang membangun mall, apartemen dan perumahan (landed house) juga disebut mendapat keuntungan dari pembangunan MERR/JLLT.
"Dengan bangga, pemkot mengumumkan jika pembebasan lahan yang disumbangkan Pakuwon Jati berupa tanah setara dengan uang Rp 8 miliar. Dan pemkot dibebankan pengaspalan saja. Seakan Pemkot terbantu dengan hal itu. Padahal itu justru membantu pengembang agar penjualan propertinya cepat laku," papar Mahmud.
Hal itu juga terjadi di Surabaya Barat. Pengembang Citraland turut membebaskan lahan miliknya untuk proyek JLLB. “Jadi JLLB ini, pastinya menguntungkan Citraland juga," lanjut Mahmud.

Image
Diskriminasi Pembangunan
Chrisman Hadi juga menyoroti terpilihnya Surabaya sebagai kota terpopuler di Guangzhou Awards. Menurut Chrisman, Surabaya di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini dalam pembenahan kota belum sepenuhnya dianggap berhasil.
Capaian penghargaan-penghargaan yang sudah diraih, sejauh ini hanya dinilai melalui konsep pembangunan secara fisik. Padahal menurut Chrisman, pembangunan spirit jauh lebih penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sedang pembangunan fisik di mata Chrisman, hanya berdampak pada masyarakat kaya.
"Yang lebih penting membangun spirit sebuah kota. Penghargaan-penghargaan itu kan arah dan penilaiannya hanya berdasarkan besaran kriteria sarana dan prasana fisik belaka. Persoalannya ketika kota sudah benar-benar tertata dengan indah dan artistik, coba dilakukan riset mendalam, siapa gerangan yang lebih menikmati prestasi keindahan tersebut. Apakah lapisan mayoritas warga kota dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah ataukah lapisan minoritas papan atas penghuni kota yang saya kira gak lebih dari 10% penduduk kota Surabaya," ungkap Chrisman kepada Surabaya Pagi, kemarin.
Hal tersebut dinilai Chrisman hanya merupakan ego pribadi Risma sebagai Walikota. "Penghargaan-penghargaan itu tetap perlu. Tapi menurut saya hanya artifisial yang hanya berkaitan dengan ego pribadi pemimpin kota, tapi belum menyentuh pada akar persoalan yang lebih mendalam, yang lebih dibutuhkan untuk membangun spirit sebuah kota yang lebih beradab dan berkebudayaan di masa depan," lanjutnya.
Selain itu, ketidaktuntasan Risma dalam melihat spirit Surabaya dapat dilihat dari cara Risma yang dianggap membohongi seniman-seniman di Surabaya. Menurut Chrisman, seniman tidak hanya sebagai lambang suatu kebudayaan, tetapi juga representasi pelaku ekonomi kreatif yang kebanyakan juga dari kalangan bawah.
"Dulu, di awal pemerintahan beliau sebagai walikota periode pertama, di depan banyak kawan-kawan seniman di Balai Pemuda beliau menyatakan, ’Balai Pemuda tidak boleh dijadikan target PAD Surabaya. Balai Pemuda harus jadi ruang bebas untuk seniman-seniman berekspresi’. Tapi sekarang realitasnya sudah jadi target PAD dan secara bertahap para seniman yang beraktifitas di sana pelan-pelan diusir oleh Risma melalui Disparta, dan diminta pindah ke Tugu Pahlawan. Balai Pemuda steril dari kegiatan berkesenian. Ini adalah salah satu contoh tidak tersentuhnya ranah pembangunan spirit oleh Risma," tukasnya.
Soal Ekonomi dan Infrastruktur
Hal senada diungkapkan Tjuk Sukiadi. Pengamat ekonomi yang pernah mengajar di Universitas Airlangga (Unair) dan STIE Perbanas ini menyoroti kebiajakan Tri Rismaharini yang gencar membanguan taman di sejumlah lokasi. Hingga Surabaya dikenal menjadi garden city.
“(Tri Rismaharini, red) dulunya Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, lalu jadi walikota. Ia memang mempunyai passion dengan pertamanan, namun di aspek infastruktur lain masih kurang," tutur Tjuk Sukiadi, saat dihubungi Minggu (9/12) kemarin.
Menurut Tjuk Sukiadi, Surabaya butuh cara untuk mengatasi kemacetan banjir. Meski sejumlah ruas jalan telah dibangun dan dilebarkan, tapi nyatanya masih terjadi kemacetan. Ini membuat warga tidak nyaman.
"Saya sendiri pernah pulang dari Balai Kota ke Medokan sampai di rumah menempuh waktu 2 jam. Seharusnya perempatan yang ramai itu dibangun fly over atau underpass," ungkapnya.
"Jika Bu Risma ingin dikenang menjadi walikota legendaries, harusnya perbaikan infastruktur yang akan merubah kota Surabaya menjadi lebih baik," tambahnya.
Kalau untuk ekonomi, lanjut Tjuk Sukiadi, Surabaya harus hati-hati. Seperti di SIER, banyak industri berpindah di kota lain karena UMK Surabaya dirasa terlalu tinggi. "Banyak slot-slot di SIER yang kosong. Ini harus diperhatikan wali kota," tandasnya.
Tol Jakarta-Surabaya juga dapat mempengaruhi ekonomi di Surabaya. “Kalau tidak ada pemikiran besar dari walikota dan para pembantunya, maka Surabaya akan ketinggalan di faktor ekonominya. Surabaya harusnya tidak hanya dikenal garden city, namun juga perekonomiannya harus maju," jelasnya.
One Lady Show
Tjuk Sukiadi juga membicarakan masalah sampah plastik. Menurutnya di Surabaya harus dibuatkan kampanye besar-besaran bukan hanya botol plastik untuk pembayaran naik Suroboyo Bus.
"Jika mau membuat warga Surabaya sadar dan mau mengurangi sampah plastik, harus dibuatkan kampanye secara besar-besaran. Sebab sekarang masih banyak yang menilai wali kota baik setelah mendapatkan Guangzhou Award," tuturnya.
Tjuk Sukiadi juga berharap Walikota Tri Rismaharini harus mengerakkan aparatnya sampai ke jajaran lurah, jangan hanya menjadi one lady show saja, karena kurang tepat selama ia menjabat.
Belum Sentuh Wong Cilik
Dihubungi terpisah, BF Sutadi mengatakan penghargaan yang didapat Risma perlu mendapat apresisasi dari warga. Sebab, selama memimpin Surabaya, banyak perubahan yang diberikan untuk kota Surabaya.
"Meski banyak prestasi yang dicapai, akan tetapi banyak hal juga yang perlu diperhatikan, seperti mengatasi kemiskinan, kesehatan dan pendidikan di kota Surabaya," kata Sutadi.
Menurut Sutadi, seharusnya Walikota Tri Rismharini selain mendahulukan pembangunan jalan dan taman, juga harus memperhatikan sekolah swasta yang berada di Surabaya.
Sebab, tidak semua anak di Surabaya sekolah di negeri, untuk itu pemkot juga harus memperhatikan itu. Selain pendidikan, perbaikan rumah tak layak huni di Kota Surabaya juga perlu ditingkatkan.
Sementara itu, Benny Poerbantanoe punya pandangan tersendiri. Dosen perencanaan wilayah UK Petra Surabaya ini ikut bangga dengan terpilihnya Surabaya sebagai kota terpopuler di Guangzhou Award.
Namun Benny berpendapat jika penghargaan itu bukan prestasi pribadi Walikota. Namun seluruh warga kota tanpa kecuali, turut andil di penghargaan itu.
“Tanpa mengecilkan arti dan peran Wali kota Tri Rismaharini, saya mengatakan beliau adalah reseprentasi yang mewakili," cetus Benny dihubungi terpisah.
Menurut Benny penghargaan itu hanya sebuah instrumen untuk mendorong tanggung jawab kolektif seluruh warga kota tanpa kecuali. Baik untuk gotong royong peduli membangun, merawat permukimannya yang sehat secara berkelanjutan.
Kata Risma
Surabaya menyabet kategori Online Popular City setelah meraup sekitar 1,5 juta dukungan secara online dalam City of Your Choice. Sementara 5 kota juara utama yakni Kota Wuhan (China), Milan (Italia), Guadalajara (Meksiko), Mezitli (Turki), dan New York (Amerika Serikat).
Walikota Surabaya Tri Rismaharini berharap penghargaan di Guangzhou International Award 2018 ini memacu peningkatan kinerja Pemkot Surabaya.
"Mudah-mudahan ini memberikan semangat untuk kami, untuk teman-teman di pemerintah kota dan warga Surabaya untuk lebih giat lagi tidak berhenti karena penghargaan," ujar Risma lewat Vlog seperti terlihat kemarin. n

Berita Populer