Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Prabowo, Kampanye Naik Ojek, Trik Garap Ekonomi Kerakyatan Transportasi Alt

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Anda Capres Prabowo Subianto, Minggu Kemarin (16/12/2018) melakukan kopi darat dengan ribuan pengemudi ojek online (ojol) di Sentul. Anda Capres Prabowo berangkat ke lokasi acara dengan naik ojek.
Acara ini dihadiri sejumlah petinggi Partai Gerindra yang tergabung dalam Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno. Di antaranya Direktur Legislatif BPN Edhy Prabowo, Direktur Kampanye BPN Sugiono, Direktur Eksekutif BPN Mayor Jenderal TNI (purn) Musa Bangun, Direktur Saksi Prasetyo Hadi dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Harijadi alias Titiek Soeharto.
Laporan yang saya terima dari wartawan saya, Anda nampak tersenyum menikmati perjalanan saat dibonceng driver ojol. Wartawan saya yang mengikuti kampanye Anda siang kemarin tidak mencatat ada dialog soal problema transportasi alternative berbasih profit sharing, seperti saat Sandi menemui emak-emak di pasar-pasar tradisional.
Saya berharap ingin tahu Anda melakukan kampanye dialogis. Mengingat, kampanye dialogis dalam Pilpres 2019 telah dimulai dengan mendatangi pasar-pasar tradisional.
Bila didalami mengenai bentuk kampanye, kampanye tatap muka atau dialogis termasuk modus baru yang konon baru diperkenalkan pada pemilu tahun 1997. Ciri menonjol kampanye dialogis karena ada dialog antara jurukampanye dengan audiens.
Dalam ilmu komunikasi, dialog mengisyaratkan kemampuan memahami ‘’kondisi’’ mitra dialog. Dalam dialog terkandung keinginan, aspirasi, harapan, kepentingan, cita-cita, ketakutan, kekhawatiran yang dirasakan mitra dialog.
Dalam setiap pemilu yang saya ikuti, umumnya mitra dialog adalah rakyat, bukan pengurus atau kader OPP tandingan. Umumnya kampanye dialogis juru kampanye berusaha melibatkan diri secara intim dalam dunia sosial rakyat mitra dialog.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Saya memahami bahwa Ojek online termasuk layanan transportasi alternative. Dari hasil wawancara dengan beberapa pengemudi ojek melalui undercover, saya menemukan fakta bahwa layanan ojek online telah menciptakan pola relasi kerja yang cukup kompleks.
Sistemnya bukan seperti upah umumnya ojek konvensional. Dalam ojek online, terjadi mekanisme sharing economy. Salah satu yang kelihatan adalah bentuk penyediaan sepeda motor yang melibatkan multi aktor yang bersifat peer-to-peer.
Pengemudi ojek online memang menyewakan sepeda motornya ke suatu sistem jaringan penyedia transportasi alternative.
Saya amati tahun ke tahun, layanan transportasi alternatif ini telah menyerap banyak pekerja. Sedangkan jasa ojek konvensional makin menyusut.
Menurut data yang dihimpun oleh Tirto setidaknya terdapat 204.800 driver per tahun 2016 dengan driver terbanyak didominasi oleh platform penyedia layanan GO-JEK sebanyak 200.000 driver.
Indikasi semakin besarnya jumlah driver ojek online salah satunya dikarenakan semakin banyak publik yang memakai jasa berroda dua yang mudah didapatkan di jalan-jalan dalam hitungan menit.
Peminatnya makin banyak, karena ojek online memungut harga yang terjangkau dan transparan. Jika biasanya ojek konvensional mematok harga dikisaran Rp 20.000,-, untuk rute 2-3 km.
Ojek online memungut harga lebih murah. Utamanya mengukur pada jarak tujuan. Apalagi adanya akses yang mudah. Akses ini yang semakin memanjakan konsumen.
Praktiknya, konsumen hanya tinggal menggunakan aplikasi ojek online, konsumen akan dipertemukan salah satu driver ojek yang terdaftar. Hal ini menciptakan efisiensi waktu dan uang bagi konsumen dengan tanpa harus berjalan kaki ke pangkalan ojek konvensional .
Keberadaan konsumen yang kian meningkat inilah yang kemudian menarik banyak orang pemilik roda dua untuk berkerja di jasa ojek online.
Mengikuti tren tingginya jumlah pengguna ojek online, pertanyaan yang menggelitik saya, pengemudi ojek online ini pekerja atau wirausaha bagi hasil?
Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) mencatat penghasilan pengemudi transportasi berbasis aplikasi initernyata melebihi pendapatan rata-rata upah minimum kabupaten/kota di Indonesia.
Pada survei sembilan wilayah. di Jabodetabek, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Bandung, icome bersih pengemudi ojek online melebihi rata-rata upah mininum yakni Rp 2,8 juta per bulan.
Riset LD FEB UI juga mengungkapkan bahwa 90 persen mitra pengemudi Go-Jek merasa kualitas hidupnya jauh lebih baik setelah bergabung dengan perusahaan transportasi berbasis aplikasi ini. Riset itu juga menyebutkan pendapatan pengemudi ojek online Go-Jek juga meningkat 44 persen setelah bergabung dengan perusahaan..
Salah satunya, adalah Hermawan yang mampu menyelesaikan kuliah dengan bekerja sampingan sebagai pengemudi Go-Jek.
Pria kelahiran Jombang yang melakukan usaha ojek online, kini mampu membiayai kuliahnya sendiri di Universitas Terbuka (UT) Surabaya.
Hermawan mengungkapkan, penghasilannya sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per hari. ”Saya kerja 25 hari, jadi rata-rata pendapatan saya dari Go-Jek dalam sebulan itu sekitar Rp 9 juta,” paparnya.
Pendapatan sebesar ini diraih dengan ketekunan dan kerja keras. Hermawan bercerita, pendapatan sebesar itu diperoleh dari 17 sampai 23 pesanan (order) per hari. Kini, mayoritas orderan sekitar 80 persen dari layanan Go-Ride. Sisanya dikontribusikan dari pemesanan Go-Food, Go-Send, atau Go-Mart.
Sekarang ini, saat jumlah ojek online meningkat drastis, untuk mendapatkan penumpang sudah tak mudah dua-tiga tahun lalu. Kini dengan banyaknya pengemudi ojek online lain, baik dari satu perusahaan maupun perusahaan berbeda, telah menambah persaingan.
Jarwo, pengojek online dari Gresik, saat saya tanya, setiap hari perlu mengeluarkan uang hingga Rp 50 ribu untuk mengisi bensin, Kemudian Rp 60 ribu per bulan untuk Internet, dan Rp 30 ribu per bulan untuk pulsa telepon. Total modalnya pun menjadi sekitar Rp 1,6 juta per bulan..
Dalam sehari, Jarwo, paling banyak mendapatkan 1o penumpang. Dengan rata-rata order 7-10 kilometer, total pendapatan kotor harian berkisar antara Rp 140 ribu-200 ribu atau Rp 4,2 juta-6 juta per bulan.
Dengan potongan bagi hasil 20 persen dan biaya harian maupun bulanan yang perlu dikeluarkan, Jarwo, bisa mengantongi uang untuk istri, sekitar Rp 1,7 juta- 3,2 juta. Pendapatan ini belum termasuk bonus dan komisi dari fitur dari Gojek lain, seperti Go-Send atau Go-Food.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Sebagai jurnalis yang suka berdekatan dengan rakyat kecil, akal sehat saya mengatakan kondisi ekonomi berbasis sharing ojek online itu, ternyata kian marak. Naiknya minat ojek onlime, menimbulkan implikasi sebuah pertanyaan lain yang lebih umum terkait posisinya yang berkehidupan mengandalakan platform yang menggunakan sistem ekonomi berbasis kerakyatan.
Akal sehat saya mengakui Ojek online merupakan fenomena yang cukup menyita perhatian publik. Anda Capres Prabowo, juga tergiur.
Saya bisa mengerti ketertarikan Anda Capres Prabowo, terhadap ojek online. Maklum, beberapa sentra pengusaha kecil di Surabaya, juga menggunakan jasa antaran Ojek Online. Termasuk untuk melakukan delivery barang nya. Kampanye Anda di Sentul ini bagian dari trik menggarap ekonomi kerakyatan di sektor transportasi alternative.
Seorang penjual Gudeng di Surabaya Barat mengakui mengantarkan satu barang ke tempat lain menggunakan Ojek Online lebih simple. Maklum layanan antara jemput ojek online dan tracking barang dapat lebih mudah dilakukan daripada harus datang ke kantor - kantor pos konvensional. Demikian seorang junalis dan advokat, dalam mengantar dokumen lebih efisien dan efektif menggunakan ojek online dibanding menyuruh sopir pribadinya.
Sekarang, pengelola warung makan, penjual UMKM skala kecil, juga berlomba membuat aplikasi untuk melakukan order dimana order nya dapat menggunakan Ojek Online.
Saya mengamati, meski pengembangan UMKM model ini belum banyak di identifikasi, tetapi bila dihitung para Pelaku UMKM di Surabaya mau berkerja sama dalam hal pemasaran yang memposisikan pengemudi ojek online sebagai tenaga pemasar dan mempertemukan penjual dan pembeli, akal sehat saya mengatakan bukan tidak mungkin ekonomi direct selling ini mengalahkan perusahaan Ritel yang masih konevsional.
Apalagi kini mulai bermunculan komunitas ojek online. Kumpulan melepas cape kantar pengemudi ojek online ini sudah mulai menjamur. Sekali jalan di Surabaya, saya menyaksikan jumlah ‘’pengkalan – pangkalan’’ ojek online. Merke menunggu penumpang sambil melepas lelah antar pengemudi ojek online.
Saya pernah mengamati bahwa pengemudi ojek online yang ada di ‘’pangkalan’’ adalah ‘’wirausaha transportasi alternative yang senasib dan sepenangunggan menjalankan profesi baru. Beberapa malah ada yang semakin dekat membentuk bisnis baru. Melakukan usaha bersama, membagi informasi bisnis dan sebagainya dalam praktik ekonomi kerakyatan.
Sadar atau tidak, kini ojek online. yang tadinya terpisah dan tidak termanajemeni dengan baik, tampaknya dengan hadirnya aplikasi, pengemudi ojek online telah melakukan kegiatan ekonomi kerakyatan dengan banyak efek domino yang ditimbulkannya. Semoga Anda berdua bisa menangkap pengemudi ojek online itu layak diberdayakan seperti pelaku UMKM lainnya yang membutuhkan political will dari Anda. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)