•   Senin, 20 Januari 2020
Pilpres 2019

Prabowo Bilang Negara ini bisa Punah, Disertai Argumentasi

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (101

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Ternyata pernyataan Anda Capres Prabowo, yang menyatakan “Kalau kita kalah negara ini bisa punah”, satu dua hari ini menjadi polemik.
Anda mendapat kritik dari elite koalisi partai politik pendukung Anda Capres Jokowi.
Adanya polemik ini, saya sejak Selasa sore kemarin (18/12/2018) berusaha tanya ke beberapa kawan saya di Jakarta, rekaman pidato Anda Capres Prabowo. Ternyata kawan-kawan saya, baik dari media maupun parpol, juga tidak menyimpan transkrip pernyataan Anda Capres Prabowo, dalam pidato di acara Konfernas Partai Gerindra di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12/2018).
Saya baru dikasih seorang anggota DPR-RI setelah sholat magrib. Saya disarankan membuka situs CNN.Indonesia. Benar, saya bisa mendapatkan liputan pidato Anda Capres Prabowo, cukup mendalam.
Saya baru buka CNN Indonesia, edisi Senin, 17/12/2018.
Berita disitus ini sengaja saya kutip lengkap, agar bisa mendapatkan info yang akurat. Artinya bukan sepenggal-penggal. Meski berita CNN ini lebih lengkap memuat pidato Anda Capres Prabowo, tapi saya anggap liputan ini merupakan sumber informasi sekunder. Mengapa? Medsos CCN Jakarta menyajikan tulisan kutipan pidato Anda Capres Prabowo, tidak secara utuh. Ada kutipan pidato dan ada diskripsi pernyataan dengan argumentasi. Berikut berita utuhnya:
“Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto memastikan dirinya harus keluar sebagai pemenang dalam Pilpres 2019 mendatang. Prabowo mengatakan jika dia dan para pendukungnya tidak keluar sebagai pemenang, maka negara Indonesia bisa punah.
"Kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah negara ini bisa punah," kata Prabowo saat menyampaikan pidato di acara Konfernas Partai Gerindra yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12).
Kepunahan ini bisa terjadi, kata dia, sebab sudah semakin dan terlalu lama para elite berkuasa dengan langkah dan cara yang keliru. Menurut dia, kondisi ini telah menyebabkan tingginya ketimpangan sosial di Indonesia
Sistem yang salah ini pun menurut dia harus segera diubah dan diselesaikan karena semakin lama justru kian melemahkan negara. "Dan saya katakan, bahwa sistem ini kalau diteruskan akan mengakibatkan Indonesia lemah. Indonesia semakin miskin, dan semakin tidak berdaya, bahkan bisa punah," ujarnya.
Dia pun mencontohkan, dalam analisis berbagai ahli, penghasilan masyarakat Indonesia saat ini mencapai 4.000 USD per kapita per tahun. Tapi, dari 4.000 USD itu, sambungnya, 49 persen atau setengahnya justru dikuasai hanya sekitar satu persen penduduk Indonesia.
"Jadi kalau kita cabut yang satu persen, kekayaan penghasilan kita setahun tinggal setengahnya yaitu 1.900. Itu kata penasihat saya, Pak Fuad Bawazier. Jadi kalau kita cabut yang satu persen tinggal setengahnya. Kita per kapita bukan 3.800 dolar, tapi setengahnya, 1.900 kurang lebih, 1.900 dolar per kapita, artinya dibagi rata," kata Prabowo
Tak hanya itu, dari angka 1.900 itu pun masih ada tanggungan utang yang harus ditanggung oleh setiap warga negara. Bahkan, kata Prabowo, bayi yang belum lahir pun telah mendapat tanggungan utang sebesar Rp9 juta per orang.
"Kita semua punya utang. Bahkan anakmu baru lahir, punya utang. Utangnya kurang lebih, 600 dolar. Jadi iya, utang kamu itu 600 dolar. Kurang lebih 600 dolar itu, berapa ya? Ya sekitar sembilan juta. Anakmu baru lahir, utang sudah sembilan juta," kata dia.
"Jadi kekayaan kita sebenarnya hanya 1.300 USD per kapita," kata Prabowo.
Samakan Indonesia dengan Negara Terbelakang
Dengan pendapatan seminim itu, Prabowo pun lantas menyamakan posisi Indonesia saat ini dengan beberapa negara terbelakang yang bahkan sedang menghadapi perang, seperti Rwanda, Afghanistan, Chad, Ethiopia, Burkina Faso dan beberapa negara lainnya
“Kita setingkat dengan Rwanda, setelah 70 tahun merdeka kita tetap kacau. Negara kita masih setingkat Burkina Faso yang bahkan laut aja enggak punya," katanya
Hal inilah, kata Prabowo yang tak pernah mau diakui oleh para elite negara saat ini. Maka untuk mengubah keadaan, pihaknya harus memenangkan kontestasi Pilpres 2019 mendatang. "Saudara-saudara ini yang tidak pernah diakui oleh elite kita karena itu tidak ada jalan lain kita harus memenangkan pemilihan 2019," katanya.
Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Jujur, setelah membaca berita dari CNN ini, akal sehat saya menilai pernyataan Anda Capres Prabowo, bukan pokoke.
Anda menyatakan sebuah pendapat yanh disertai argumentasi. Contoh pernyataan Anda sebagai pendapat: “Kita setingkat dengan Rwanda, setelah 70 tahun merdeka kita tetap kacau. Negara kita masih setingkat Burkina Faso yang bahkan laut aja enggak punya. Hal inilah, yang tak pernah mau diakui oleh para elite negara saat ini. Maka untuk mengubah keadaan, pihaknya harus memenangkan kontestasi Pilpres 2019 mendatang. "Saudara-saudara ini yang tidak pernah diakui oleh elite kita karena itu tidak ada jalan lain kita harus memenangkan pemilihan 2019.”
Sedang argumentasi Anda Capres Prabowo, Contoh: “dalam analisis berbagai ahli, penghasilan masyarakat Indonesia saat ini mencapai 4.000 USD per kapita per tahun. Tapi, dari 4.000 USD itu, sambungnya, 49 persen atau setengahnya justru dikuasai hanya sekitar satu persen penduduk Indonesia.
Jadi kalau kita cabut yang satu persen, kekayaan penghasilan kita setahun tinggal setengahnya yaitu 1.900. Itu kata penasihat saya, Pak Fuad Bawazier. Jadi kalau kita cabut yang satu persen tinggal setengahnya. Kita per kapita bukan 3.800 dolar, tapi setengahnya, 1.900 kurang lebih, 1.900 dolar per kapita, artinya dibagi rata.”
Anda adalah calon pemimpin dengan predikat presiden Indonesia periode 2019-2024.
Ada baiknya saya berbagi pengetahuan tentang konsep leadership diamond yang digagas Peter Koestenbaum (2002), The Inner Side of Greatness.

Buku ini memiliki konsep pengajaran yang bukan melahirkan pemimpin biasa, melainkan pemimpin besar (great leader with greatness).
Nah, ketika Indonesia dilanda hoax yang bisa memicu kebencian dan hoaxmaker-nya mengakui bohong (3/10/2018), banyak orang tersontak.
Nah, dalam Leadership Diamond, diajarkan seseorang hanya bisa menjadi besar kalau selalu bekerja dengan fakta. Bukan ilusi. Nah, semoga Anda berdua selalu bekerja dan berbicara dengan fakta.
Dan pada abad 21, Profesor Yuval Noah Harari, juga mengingatkan bencana disillusionment akibat teknologi dan disrupsi. Baginya, “Clarity is Power”.
Apalagi bagi pemimpin yang sudah makan asam garam. Pemimpin seperti itu seharusnya sudah dibekali validity check dan intuisi yang kuat. Artinya tanpa kemampuan mendeteksi fakta, seorang ekonom tak akan mungkin bisa menjadi menteri keuangan yang baik. Juga tanpa ini seorang panglima perang tak bisa membentengi bangsanya dalam peperangan.
Menurut Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Leadership diamond Koestenbaum memang bukan semata soal uji kebenaran. Selain reality check, ada etika, visi dan keberanian mengeksekusi yang perlu dimiliki seorang great leader.
Tetapi dalam era disrupsi, bekerja dengan reality adalah yang terpenting.
Seperti kata Seth Stephens Davidowitz, semua orang (yang) berbohong selalu akan meninggalkan digital footprint yang bisa dilacak. Digital footprint itu bisa berupa rekaman suara, tangkapan kamera CCTV, absen digital, transfer uang, rekaman GPS, pemantau jalan, sampai statement-statement di sosial media.
Jadi, menurut konsep ini, semua orang bisa mengeluarkan pendapat, tapi pendapat mereka belum tentu valid selama tidak ada bukti. Hal ini yang membedakan antara debat kusir dan debat sungguhan.
Penulis buku ini menyarankan, bila kita ingin debatnya berbobot dan ilmiah, harus menghadirkan bukti yang kredibel, tidak diragukan keabsahannya dan disertai penjelasan ilmiah ataupun empiris.
Apalagi dalam persaiangan untuk memperebutkan kekuasaan dalam pilpres 2019. Mengingat, persaingan adalah nilai-nilai terpenting dalam politik. Artinya, tidak ada persaingan menandakan bahwa politik yang dilakukan tidak sehat. Maka itu, setiap warga Negara yang ingin menjadi penguasa dan pembuat kebijkan untuk rakyatnya, harus melalui fase persaingan politik. Dan ini merupakan fase politik untuk mencapai kekuasaan tertinggi.
Terkait ini, Mohandas Gandhi menengarai adanya ancaman serius bagi sebuah Negara. Gandhi menyebutnya sebagai tujuh dosa besar yang dapat merusak Negara. Tujuh dosa besar tersebut antara lain adalah politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa kerja keras, kesenangan tanpa nurani, pendidikan tanpa karakter, sains tanpa humanitas, dan perdebatan tanpa pengorbanan.
Ketujuh dosa besar ini yang sekarang menjadi warna dasar kehidupan berbangsa. Nah negara yang semestinya menjadi Negara berperadaban, tetapi realitanya mengikuti pandangan Machiavelli yaitu malabmh sebagai Negara korup atau Negara jahiliyah.
Akal sehat saya mengatakan pernyataan Anda Capres Prabowo bahwa bila klah, negara ini punah dan disertai argumentasi, bagian dari cara pandang pemimpin. Maka itu, saat ini ada polemik terbuka, dan Anda Capres Prabowo, harus mempertahankan pendapat Anda dengan upaya mematahkan pendapat orang lain ( parpol pengusus Anda Capres Jokowi) adalah keliru.
Menurut Vincent, dalam bukunya yang berjudul Becoming A Critical Thinker: A Mater Student texts, argumentasi merupakan suatu pernyataan yang didukung oleh bukti-bukti yang dapat mengubah atau mempengaruhi pikiran orang lain. Argumen juga dapat diartikan sebagai proses untuk memperkuat suatu klaim melalui analisis berpikir kritis berdasarkan dukungan dengan bukti-bukti dan alasan yang logis.
Anda Capres Prabowo, dalam pernyataan ini telah menampilkan data-data dan insha Alloh bisa diterima sebagai suatu kebenaran oleh publik yang masih berpikir obyektif. Makanya akal sehat saya mengatakan argumentasi Anda bisa sebagai suatu pernyataan (klaim) yang bukan semata-mata Anda ucapkan dengan tanpa dasar. Semoga pernyataan Anda itu dapat diterima sebagai kebenaran. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)
Dalam pernyataan ini telah mena-data dan insh (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer