•   Kamis, 20 Februari 2020
PERISTIWA

Populerkan Musik Keroncong pada Anak Muda Jaman Now, OKRD Pilih Cover Lagu Barat

( words)


SURABAYAPAGI.COM, KEDIRI - Orkes Keroncong Rantauan Delimo (OKRD) turut berkontribusi melestarikan musik keroncong di kalangan anak muda.
Kepeduliannya terhadap musik keroncong patut mendapat apresiasi.
Sebagai aksi sosial mereka senantiasa hadir di tengah publik untuk mempopulerkan musik keroncong.
Rata-rata anggotanya adalah remaja yang berasal dari luar daerah.
Mereka mempunyai hobi dan skill bermain musik.
Adapun personilnya pada posisi ukulele bernama Luthfi Elkalatiny (23) warga Kecamatan Lawean, Solo dan Ipang Arsyad (26) berasal dari Kecamatan Sruwen Salatiga.
Eros Chandra (23) asal Jember (Cello petik), Marzuki Ahmad (22) Subang Jawa Barat (Gitar bass).
Sedangkan, vokalis I, Tuyex (25) warga Sintang, Kalimantan Barat, Pontianak, vokalis II, Mustika Bintoro (24) warga Cakung, Jakarta Timur dan Additional, Itot warga Surabaya, sebagai pemain biola.
Luthfi Elkalatiny memaparkan mereka biasanya perform di kawasan Kampung Inggris Desa Tulungrejo, Kelurahan Pare Kabupeten Kediri.
Apalagi, di kawasan itu banyak anak muda berasal dari luar daerah.
"Lebih untuk menyalurkan hobi sekaligus mengenalkan musik keroncong ke anak muda," tuturnya kepada SURYA.co.id, Rabu (7/2/2018)
Menurut dia, bersama teman-temannya ini telah sepakat untuk fokus pada genre musik keroncong.
Sasarannya adalah untuk lebih mempupulerkan keroncong ke anak muda.
Karena itulah, mereka sering kali mengcover lagu barat versi keroncong supaya lebih mudah diterima kalangan muda.
"Saat perform sering membawakan lagu barat dan lagu hits terbaru dicover versi keroncong. Lirik lagu tak terdengar asing di telinganya dengan aransemen musik keroncong yang khas," jelasnya .
Adapun lagu favorit mereka adalah cover Can't Take My Eyes Off You versi kerocong.
Sedangkan, tembang lawas Jawa yaitu Bengawan Solo, Sepanjang Jalan Kenangan dan lainnya.
Untuk lebih mengenalkan keroncong ke generasi muda, group OKRD telah memiliki aktivitas rutin yakni tampil di Car Free Day (CFD) Pare.
"Sasaran pendengar musik keroncong yang kami mainkan memang anak muda," bebernya.
Namun, OKRD secara profesional perfrom di Cafe, bahkan telah beberapa kali diundang dalam acara wedding dan seminar.
Mereka mempunyai totalitas tinggi terhadap musik keronconguntuk menyalurkan hobi bermain musik.
"Kalau dibilang totalitas tidak juga, karena masing-masing mempunyai tanggungjawab pekerjaan," imbuhnya.
Dijelaskannya, OKRD terbentuk dari perkumpulan pemuda yang belajar bahasa di Kampung Inggris Pare.
Karena memiliki minat hobi bermusik dan pemikiran yang sama maka mereka sepakat membentuk group musik keroncong, Oktober 2016.
"Di sini merupakan wadah tempat menyalurkan hobi bermusik," ujarnya.
Para personilnya indekos di kawasan Kampung Inggris.
Background personil mulai dari tutor Bahasa Inggris, pengusaha bengkel bekerja cafe hingga pelajar bahasa di kampung Inggris.
Di sisi lain, setiap personil telah memiliki basic bermain musik.
Para personilnya menganut kepercayaan genre bermusik yang berbeda-beda.
"Genre personilnya mulai dari Reggea, Pop, Dangdut dan Jazz," pungkasnya.
(cr/trbnws)

Berita Populer