Polemik Cadar Jangan Berujung Diskriminasi

SURABAYA PAGI, Surabaya - Menristekdikti M. Nasir tegaskan bahwa lembaga yang ia pimpin tidak akan meregulasi terkait penggunaan cadar oleh para mahasiswi. Hal tersebut menjadi polemik setelah beberapa perguruan tinggi mengeluarkan larangan bercadar bagi para mahasiswinya.

Ditemui di Universitas Airlangga, Kamis (8/3), Menteri Nasir mengatakan bahwa regulasi berpakaian merupakan otonomi kebijakan dari masing-masing perguruan tinggi. "Tetapi pada prinsipnya adalah kebebasan bagi seluruh anak bangsa adalah wajib," jelasnya.

"Kemenristekdikti tidak akan meregulasi hal tersebut secara khusus. Karena perkara pakaian itu kewenangan kampus," tambah Nasir.

Meskipun demikian, Ia juga mengatakan bahwa akan segera menjadwalkan pertemuan dengan Menteri Agama untuk membicarakan terkait hal itu. "Karena pada prinsipnya dari kami adalah jangan sampai ada radikalisasi. Kecuali kalau ada radikalisme, baru kita lawan. Nah kalau kasus ini kan yang melarang kampusnya dibawah Kemenag. Nanti akan saya diskusikan," pungkasnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Rektor Universitas Airlangga M. Nasih memandang bahwa regulasi menyangkur cadar masih belum memiliki urgensi. Menurutnya, yang lebih penting ditekankan untuk saat ini adalah tata cara dan aturan berperilaku di lingkungan kampus.

"Seperti berpakaian harus sopan, tak boleh memakai celana sobek. Kuliah tak boleh pakai celana pendek karena bisa mengganggu konsentrasi dosen. Itu kami atur,” kata Nasih.

Di sisi lain, Ia juga memandang bahwa penggunaan cadar di kalangan mahasiswa Unair tak perlu dipermasalahkan. Sebab, menurutnya semua itu masih dalam batas wajar. "Kami juga belum menerima laporan bahwa yang bercadar itu mengganggu pemandangan, konsentrasi, dianggap tidak sopan dan lain-lain," bebernya.

“Sepanjang waktu ujian dia mau menunjukkan sebagai mahasiswa tidak ada masalah. Tapi jika ada perilaku yang menyimpang, ada pemahaman tertentu, maka akan coba diantasipasi. Persoalan bukan di cadar, tapi aspek lain,” tegas Nasih lebih lanjut.

Sebagai informasi, polemik terkait cadar mulai menyeruak setelah Rektor UIN Sunan Ampel(UINSA) Prof A’la menuturkan bahaa penggunaan cadar memang mengganggu komunikasi di kawasan kampus. Pihaknya mengaku sudah lama meminta secara lisan agar para dekan menghimbau civitas akademika UINSA untuk tidak memakai cadar.ifw