•   Rabu, 23 Oktober 2019
Ekonomi Asean

Pertumbuhan Ekonomi ASEAN, Indonesia Peringkat Enam

( words)
Presiden terpilih Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjalan usai keluar dari Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Sabtu (13/7).


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi dunia sedang mengalami disrupsi, akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Perang dagang yang belum kunjung usai memberikan efek domino ke berbagai negara.

Bagi wilayah ASEAN, perang dagang memberikan tantangan dan peluang. Tantangan muncul karena ekonomi dunia yang melambat, sementara peluang hadir untuk meningkatkan sektor manufaktur karena ASEAN dinilai sebagai alternatif bisnis selain China.

Pertumbuhan ekonomi di ASEAN melambat, tetapi masih dalam taraf baik. Pertumbuhan Indonesia diprediksi tetap di kisaran 5,2 persen tahun 2019.

Myanmar: 7,1 persen, Vietnam: 6,9 persen, Laos: 6,8 persen, Kamboja: 6,5 persen, Filipina: 5,7 persen, Indonesia: 5,2 persen, Thailand: 3,5 persen, Malaysia: 4,5 persen, Singapura: 1,6 persen, Brunei: 0,5 persen.

Myanmar, meski sedang disorot karena kasus Rohingya, memiliki pertumbuhan tertinggi di ASEAN. Bank Dunia menyebut ekonomi Myanmar tumbuh berkat kuatnya manufaktur (garmen), pengeluaran infrastruktur, dan liberalisasi sektor ritel, asuransi, dan perbankan.

Pertumbuhan Indonesia tercatat lebih tinggi daripada Malaysia yang ekonominya terpantau lesu di era Mahathir. Namun, tak ada perubahan dari ekonomi Indonesia 2019 dan tahun lalu.

Singapura dan Brunei memiliki pertumbuhan ekonomi terendah, tetapi sebetulnya pertumbuhan Brunei naik 0,4 persen. Pertumbuhan 0,4 persen adalah yang tertinggi di ASEAN.

Ekonomi Thailand juga tercatat minus 0,6 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar 4,1 persen, dan terakhir pertumbuhan Filipina juga menurun 0,5 persen dari tahun lalu yang sebesar 6,2 persen.

Berita Populer