Pergunjingan Pendeta Happy Family Center

Pendeta Gereja Kristen HFC yang Berpusat di Embong Sawo Diduga Lakukan Pelecehan Seksual ke beberapa Perempuan. Gereja Komunitas yang Punya cabang di Ruko Rich Palace dan Rungkut, Selama ini Mendapat Sokongan Dana dari Eksportir-Importir Andy Wiryanto

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Gereja lokal “Happy Family Centre” yang dikenal mendapat donasi cukup besar dari eksportir dan importir Andy Wiryanto, kini menjadi pergunjingan di kalangan jemaat gereja yang lebih dikenal bernama “HFC”. Ada dugaan pelecehan seksual yang diduga ditudingkan ke Pdt. HL, suami Pdt. AM. Suara santer di kalangan pemeluk Kristiani setelah misa natal, 25 Desember 2019 lalu, Pdt HL dimasukan Andy Wiryanto, ke kepolisian untuk diusut, pada hari natal pertama. Konon anak Andy Wiryanto, diduga pernah dicabuli. Posisi Gembala Pdt HL di gereja itu kemudian diganti oleh Pdt Xavier Quentin Pranata, yang dikenal juga seorang penulis di beberapa media sosial.

Namun, hingga Jumat (27/12/2019) sore kemarin, Surabaya Pagi menelusuri di Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim, belum ada laporan ataupun penghuni tahanan yang bernama HL, yang berstatus pendeta senior di HFC ini.

“Andy Wiryanto itu tajir. Dikalangan jingjak (sebutan polisi dalam bahasa Tiongkok), sampai sekarang, Andy masih punya teman banyak di Mabes Polri sampai Polrestabes,” kata seorang perwira menengah Polrestabes Surabaya, kepada Surabaya Pagi, Jumat siang kemarin (27/12/2019).



**foto**



Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi dari jemaat gereja HFC menyebutkan, Pdt HL dikenal besan Andy Wiryanto, pengusaha eksport-impor yang berkantor di Jl. Waspada Surabaya.

“Kabar santer Pdt HL, konon juga melakukan pelecehan terhadap anaknya di tahun 2005,” jelas sumber jemaat gereja HFC yang meminta namanya dirahasiakan kepada Surabaya Pagi, Jumat (27/12/2019) kemarin.

Beberapa pihak menyebut, pengaruh Pdt HL, di jemaat gereja HFC ini cukup besar, karena masih family dari Andy Wiryanto. “Dia (Pdt HL), itu masih besannya kho Andy,” tambah sumber itu.

Maklum, Andy Wiryanto merupakan donatur terbesar di gereja HFC. “Bahkan Pdt. HL dikenal sebagai pendeta keluarga Andy,” jemaat ini menambahkan.

Dugaan Pelecehan Seksual

Dari informasi yang dihimpun Surabaya Pagi, dugaan pelecehan seksual ini dibalik seolah-olah bahwa sang wanita yang kerap menggoda Pdt HL. Maklum, pendeta senior HFC ini, kaya raya bak sosialita.

Bahkan, penampilan mewahnya pernah dikupas di media sosial instagram @Pastorinstyle. Hanny juga memiliki sejumlah mobil mewah jenis Porsche dan beberapa jam tangan branded seharga miliaran rupiah. Bahkan, jam tangan branded Bichrono Baby senilai $14,498. “Hanny Layantara with de la cour #hannylayantara,” tulis di akun @Pastorinstyle, yang diakses Surabaya Pagi, Jumat (27/12/2019) kemarin.

Ada sinyalemen, perempuan yang dilecehkan Pdt. HL, diduga mencapai puluhan. “Saya dengar akibat pergunjingan santer ini Pdt HL sudah minta maaf kepada Andy. Tapi tanggal 25 Desember, mencuat lagi. Meski ada pergunjingan moral seperti ini, pendeta HL, tak mau dikeluarkan dari gereja HFC,” jelas jemaat gereja HFC, yang juga warga Surabaya Timur.

Menangis

Seorang teman Andy Wiryanto menginformasikan pada Surabaya Pagi, Jumat (27/12/2019) kemarin, saat anak Andy mau menikah, dia mati-matian tidak mau diberkati oleh Pdt HL.

Ini yang membuat Keluarga jadi curiga.

Mengingat pendeta HL merupakan Pendeta keluarga dari Andy Wiryanto. Konon, Pdt HL, juga telah diberi Porsche dan diajak jalan-jalan keluar negeri bersama keluarga Andy.

Setelah didesak oleh suami istri Andy, si anak malah menangis dan mengaku bahwa dia dicabuli oleh pendeta HL sejak usia 12 tahun.

Undercover Gereja HFC

Mendapat informasi sejak Kamis (26/12/2019) hingga Jumat (26/12/2019) kemarin, tim Surabaya Pagi undercover ke dua tempat gereja Happy Family Center di Embong Sawo dan di Ruko Rich Palace Mayjend Sungkono.

Namun, dua gereja HFC baik di Embong Sawo dan Mayjend Sungkono sedang tutup. Surabaya Pagi yang hendak menemui Pdt. HL dan Pdt. AM, tidak bisa ditemui. Hanya ditemui seorang petugas keamanan.

“Pendeta Hannynya ada pak?” tanya Surabaya Pagi.

Seketika, petugas penjaga itu menjawab, tidak ada kegiatan ibadah. Ia pun menyarankan untuk datang kembali pada hari Sabtu atau Minggu besok. “Kemarin baru saja ada ibadah misa, mas. Coba aja kembali Sabtu atau Minggu besok,” jawab singkat.

Ketika Surabaya Pagi mencoba menanyakan terkait adanya informasi pelecehan seksual, petugas penjaga langsung dengan ekspresi kaget dan berusaha menghindari Surabaya Pagi dengan mengalihkan pertanyaan.

"Waduh, kalau urusan itu saya tidak mau menjawab. Sudah ya mas, saya mau kerja dulu," kata penjaga tersebut sembari meninggalkan Surabaya Pagi.

Konfirmasi Andy Wiryanto

Terpisah, Jumat (27/12/2019) sore kemarin, Surabaya Pagi mencoba konfirmasi ke pihak Andy Wiryanto, terkait adanya informasi bahwa Pdt. HL merupakan pendeta keluarga pengusaha eksport-impor itu.

Namun, dari tiga nomor ponsel yang dimiliki harian Surabaya Pagi di nomor 085331589xxx, 0822155899xxx, dan 081357089xxx, saat dihubungi sekitar pukul 19:37 WIB Jumat malam, ketiga nomor ponsel tersebut tidak terhubung, dan tersambung pada voice mail.

Kemudian Surabaya Pagi mencoba mengirim pesan singkat (sms) dengan isi pertanyaan sebagai berikut: “1. Info yang berkembang anak perempuan Pak Andy dicabuli Pdt Hanny sejak umur 12 tahun? 2. Akibat itu saat dinikahkan dgn pria lain, dan menggunakan pdt Hanny, anak Pak Andy gak mau? Benarkah? 3. Apa benar Pdt Hanny, adalah pendeta keluarga Pak Andy?”. Pesan dikirim pukul 20:07 WIB, namun hingga pukul 21:30 WIB malam tadi, pesan tersebut masih belum direspon.

Polisi Belum Terima Laporan

Terpisah, dikonfirmasi melalui sambungan teleponya, Kanit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak), AKP Ruth Yeni menyatakan jika dirinya belum pernah menerima laporan pengamanan atas pendeta yang melakukan cabul. Ditanya terkait laporan kejadian tersebut, Ruth Yeni akan melakukan pengecekan lebih dalam.

"Laporannya belum tau, nanti saya cek dulu ya," kata Ruth.

Hal senada juga disampaikan Kanit Reskrim Polsek Genteng, Ipda Agus Istianto. Perwira denga satu balok ini juga mengatakan jika belum ada laporan resmi tentang pencabulan yang dilakukan pendeta di dalam gereja. "Belum ada laporan itu mas, mungkin laporannya langsung ke polrestabes," kata Agus.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran, Jumat (27/12/2019) kemarin. Perwira menengah itu menyebutkan bahwa perkara pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh pendeta belum masuk ke mejanya. “(Perkara Pelecehan seksual pendeta) belum masuk ke kita. Belum ada laporan,” jawab Sudamiran.

Pdt HL Melawan PDAM Surabaya

Pdt. HL alias Hanny Layantara sendiri pernah terlibat kasus kepemilikan gedung cagar budaya eks Markas TKR yang digunakan oleh PDAM Surabaya.

Saat itu, sejak tahun 2016, Hanny Layantara digugat oleh PDAM Surabaya, terkait obyek sengketa tanah di Basuki Rachmat. Saat itu, gugatan PDAM Surabaya itu terdaftar dengan nomor perkara 475/Pdt.Bth/2016/PN SBY tertanggal 16 Juni 2016. Bahkan, gugatan sengketa tanah itu sudah sampai di tingkat Kasasi Mahkamah Agung.

Sengketa kantor PDAM dengan Hanny Layantara berawal sejak tanah milik ahli waris tanah Siti Fathiyah meninggal, kemudian dibeli oleh Pdt Hanny Layantara. Berdasarkan akta jual beli yang dibuat oleh notaris Johanes Limardi, Hanny Layantara mengajukan gugatan dan akhirnya mendapatkan surat penetapan eksekusi dengan nomor 93/EKS/2013/PN.SBY.