•   Rabu, 26 Februari 2020
Ekonomi Global

Perang Dagang, Perekonomian Dunia, dan Mata Uang Rupiah

( words)
Peranga dagang memberikan dampak ekonomi yang serius, SP/ggl


SURABAYAPAGI.com – Tensi perang dagang AS dengan China membuat tekanan cukup berat terhadap Rupiah pada perdagangan Jumat, (2/8). Tetapi hal itu sedikit bernilai positif, setidaknya nilai tukar Yuan

Presiden Donald Trump kembali meningkatkan tensi perang dagang yang sebelumnya sempat mendingin. Trump kembali menaikkan bea impor 10% terhadap produk China yang selama ii ditangguhkan kenaikannya. Total nilai produk tersebut sebesar US$ 300 miliar dan mulai berlaku di bulan September.

Akibat kebijakan Trump tersebut babak baru perang dagang bisa dimulai, China sudah mengancam akan melakukan hal yang serupa.

Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing bakal menerapkan serangan balasan jika AS jadi mengenakan bea masuk baru.

"Kalau AS melakukan itu, maka kami akan melakukan balasan. Kami tidak mau ada perang dagang, tetapi tidak takut untuk menghadapinya”.

"Kami harap AS berhenti melakukan ilusi dan bertanggung jawab dengan kembali mencari solusi masalah-masalah perdagangan. Bea masuk tidak akan menguntungkan AS, China, dan seluruh dunia.”

"Sikap China dalam perundingan dagang tetap konsisten. China tidak akan tunduk terhadap ancaman dan intimidasi. Pintu perundingan selalu terbuka," papar Hua Chunying, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti dilansir dari CNBC

Pertumbuhan ekonomi global kini terancam mengalami pelambatan yang lebih dalam, yang tentunya tidak menguntungkan bagi semua negara.

Pada Jumat (2/8) pukul 12.45 WIB, dari 12 mata uang Asia yang terhimpun di data pasar Bloomberg, hanya yen Jepang dan baht Thailand yang berhasil menguat. Penguatan baht pun tak banyak, yakni hanya sebesar 0,87 persen.

Rupiah berada di nilai 14.242 pada jam 12.40 kemudian menutup hari dengan 14,220 per dollar AS.
Diolah dari beberapa sumber

Berita Populer