Banyak praktisi yang menggeluti bidang ini, bahkan

Pengobatan Herbal Makin Diminati

Banyak praktisi yang menggeluti bidang ini, bahkan secara turun temurun. Banyak sudah yang mengakui keampuhan pengobatan herbal ini bahkan dunia kedokteran juga mengakuinya.
Namun sebelum Anda memilih herbalis dan obat herbalis ada baiknya bersikap kritis seperti, Apa obat herbal yang akan di pilih? Apakah saya mendapatkannya dari sumber yang terpercaya? Apakah itu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh saya? Bagaimana saya menggunakannya, apakah sesuai dengan anjuran yang diberikan?
Obat apapun bahkan yang paling efektif sekalipun dapat menjadi racun mematikan jika tidak digunakan semestinya.
Kemudian kalau kemudian kita melihat dunia maya alias internet ditemukan saran berdasar pengalaman pribadi soal mengobati penyakit dengan bahan-bahan herbal. Tetapi sebenarnya adakah standar untuk pengobatan herbal ini.
“Saya nyatakan bahwa pengobatan herbal punya standar tertentu,” tegas Ketua Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia Jawa Timur (Aspetri Jatim), Nie Kuncoro Bakti SE C Herb, Surabaya, minggu (25/3).
Yang paling gampang kita pertanyakan seberapa dosis yang diperlukan, bagaimana mengolahnya, bagaimana menegakkan diagnosis untuk suatu penyakit. Pertanyaan kedua ialah punya legalitas atau tidak penyembuh herbal itu?
Untuk itu pihaknya akan mengadakan seminar dengan tema modulator berbahan herbal bersama aspetri Jawa Timur. Dalam seminar itu akan membentuk pengobat tradisional khususnya herbalis menjadi andal, profesional, intelektual dan sejahtera.
Acara ini sebenarnya untuk para herbalis yang ada di wilayah Jawa Timur saja, namun animo herbalis sangat besar sehingga saat ini acara yang digelar di Surabaya itu pesertanya mencapai 120 orang.
Untuk kesempatan kali ini, katanya, untuk peserta tingkat madya atau mereka yang sudah melakukan praktik herbalis tapi belum punya legalitas.
Kuncoro kemudian mengingatkan bahwa herbalis yang bisa membuka praktik adalah mereka yang memegang STPT (Surat Terdaftar Pengobat tradisional) tanpa STPT tidak diperkenankan praktik.
Seperti diketahui Aspetri merupakan mitra Depkes RI sesuai surat ketetapan No. BMK 01.02.653-08/02/2006.
Ini sebenarnya kesempatan yang sangat baik bagi para herbalis karena pematerinya andal dan tidak main-main seperti Prof Dr Suharningsih dari Unair Surabaya, juga dr Fery Wiryawan, Akp, dr Ipung Puruhito SpPD.
“Dengan pengetahuan ini maka peserta pada akhirnya akan memperole APIS (Andal, Profesional, Intelektual dan Sejahtera).” katanya. Menurutnya selayaknya ahli herbal mendapat penghargaan seperti profesi yang lain yang sudah menyejahterakan keluarga mereka.
Dalam era MEA standarisasi merupakan hal penting untuk semua profesi tidak terkecuali herbalis. Standar kompetensi itu diatur oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). “Era Masyarakat Ekonomi ASEAN mensyaratkan hal ini,” papar Kuncoro.
Karena itulah jika para herbalis tidak punya kompetensi yang punya standar (BNSP) maka akan digilas oleh herbalis dari negara-negara ASEAN. Nah, Aspetri Jatim akan membantu peserta workshop ini agar mencapai kompetensi itu sehingga nantinya ladang kerjanya tidak hanya di Indonesia, tetapi bisa sampai wilayah ASEAN. SP/Jul