•   Jumat, 28 Februari 2020
Pemkot Surabaya

Pengganti Risma, Bisa Bangun Kota dengan Pelestarian Cagar Budaya

( words)
Arya Winda Wirayuda S.Hum, MA


Menjaring Wali Kota Surabaya 2020-2024 (5)

Surabaya dikenal dengan kota Pahlawan dan salah satu kota yang disebut sebagai pusatnya para pejuang kemerdekaan. Karena hal itu, Surabaya juga meninggalkan budaya-budaya peninggalan jaman kemerdekaan. Seperti Tugu Pahlawan dan Hotel Oranje (kini Hotel Majapahit) yang menjadi saksi bersejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Namun sayang, para pemimpin di kota Surabaya, sejak Wali Kota era almarhum Soenarto Sumoprawiro hingga Wali Kota Tri Rismaharini kurang memperhatikan peninggalan sejarah budaya Surabaya. Kini, menjelang konstestasi pemilihan wali kota Surabaya periode 2020-2024 mendatang, diperlukan sosok pemimpin yang tak hanya mengembangkan pengembangan industri sebagai kota Metropolis, juga diperlukan sosok yang memperdulikan budaya dan melestarikan peninggalan perjuangan arek Suroboyo.

Miftahul Ilmi
Wartawan Surabaya Pagi

Hingga Juli 2019, jelang kontestasi Pilwali Surabaya 2020 mendatang, muncul nama-nama dari kalangan partai yakni diantaranya Wisnu Sakti Buana, Puti Guntur Soekarnoputri (PDIP), Vicensius Awey (Nasdem), menantu Pakde Karwo yakni Bayu Airlangga (Partai Demokrat), selain itu ada politisi yang advokat yakni Abdul Malik, SH MH (Partai Gerindra). Sementara dari kalangan Birokrat yakni Ery Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya) dan Hendro Gunawan (Sekkota Surabaya), dari kalangan tokoh masyarakat muncul KH Zahrul Asad atau biasa disapa Gus Hans, santri muda asal Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), pensiunan Polri Irjen (Pol) Machfud Arifin, hingga muncul dari kalangan independen yakni advokat M. Sholeh.

Namun, siapa nama-nama yang muncul itu yang bisa memperhatikan budaya kota Surabaya. Beberapa budayawan Surabaya, akademisi berbicara bahwa pengganti Risma tak hanya cakap menata kota, juga harus peduli dengan budaya dan sejarah kota Surabaya.

Seperti diungkapkan pakar Sejarah Universitas Airlangga (Unair) Arya Wanda Wirayudha bahwa bakal calon Walikota Surabaya harus mengerti tentang sejarah Surabaya. Karena aspek ini merupakan warisan mahal yang tak bisa dinilai dengan materi.

Menurut dia, sampai saat ini jarang calon pemimpin yang memperhatikan sisi sejarah dan budaya. Meskipun sebenarnya penting untuk pembelajaran di masa mendatang.

“Setelah mengerti tentang sejarah Surabaya, selanjutnya calon pemimpin ini harus punya kesadaran untuk melekatkan kepada masyarakat tentang pentingnya sejarah. Bahwa sejarah pasti berkaitan dengan peristiwa saat ini dan mendatang,” kata Arya kepada Surabaya Pagi, Jumat (5/7/2019).

Harus Ada Komitmen Kuat

Selain itu, bakal calon Walikota harus punya komitmen dalam melestarikan situs dan bangunan bersejarah atau cagar budaya. Saat ini memang sudah banyak aturan yang melindungi cagar budaya. Mulai dari undang – undang, peraturan walikota, dan Peraturan daerah. Namun, tetap saja banyak terjadi perusakan.

“Selama ini cagar budaya dianggap membebani APBD. Karena biaya perawatannya mahal. Cagar budaya juga tidak komersial dan menghambat pembangunan. Inilah PR bagi bakal calon Walikota. Bagaimana mengubah pandangan masyarakat itu,” tuturnya.

Dijadikan Kepentingan Bisnis

Dia pun meminta, Bacawali memiliki konsep pembangunan kota yang beriringan dengan pelestarian cagar budaya. Konsep itu tentu saja harus menguntungkan dari sisi ekonomi, namun sekaligus mempertahankan kekayaan budaya.

“Sebenarnya sudah ada tim cagar budaya yang memberikan rekomendasi dalam pembangunan kota. Tapi kan tidak diterima begitu saja. Karena sudah jadi lagu lama ada kompromi terhadap pemanfaatan cagar budaya untuk kepentingan bisnis,” ujarnya.

Sebagai negara berkembang, para pemimpin di Indonesia lebih banyak memperhatikan aspek pangan, pendidikan, dan ekonomi. Sementara untuk urusan sejarah dan budaya kerap diabaikan.

“Untuk itu, kami tunggu komitmennya bakal calon Walikota mendatang. Bagaimana ide dan komitmennya dalam menjaga sejarah dan budaya Surabaya,” kata Arya.

Angkat Staf Ahli Sejarah

Sementara itu Ketua Komunitas Surabaya Historical Nur Setiawan berharap, yang menjadi Walikota di periode mendatang harus asli orang Surabaya. Alasannya, rasa cinta terhadap Surabaya akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan warga luar Surabaya. Selain itu, pemimpin Surabaya harus paham tentang sejarah, sosial, budaya, dan lingkungan Kota Pahlawan.

“Tanpa empat poin itu, mereka nggak akan bisa membangun Surabaya dengan baik. Kami tidak pernah menolak pembangunan. Tapi jangan pernah menggerus empat aspek itu. Selama ini yang kami lihat, empat hal itu selalu ditabrak,” kritiknya.

Dia pun meminta kepada bakal calon Walikota untuk mengangkat isu tentang sejarah dan budaya Surabaya. Terutama tentang pelestarian cagar budaya. Karena, selama ini perhatian terhadap bidang tersebut sangat minim.

“Kalau di bidang lain stafnya banyak sekali. Tapi kalau soal sejarah dan budaya, orangnya sedikit sekali. Makanya, kini secara perlahan kesakralan Surabaya sebagai Kota Pahlawan mulai tergerus. Marwahnya. Lebih dikenal sebagai kota taman. Jika dibiarkan, kota pahlawan akan tinggal dongeng. Karena situsnya hilang semua,” ujarnya.


Image

Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya Baktiono berharap, walikota periode mendatang harus tegas menindak para perusak cagar budaya. Karena dia melihat, saat ini pemkot abai terhadap para perusak tersebut.

“Pemerintah selama ini kurang tegas. Lihat saja, Rumah Radio Bung Tomo dibiarkan roboh. Juga ada Toko Nam yang hilang jejaknya. Komitmen Pemkot Sekarang lemah dalam menjaga cagar budaya,” tegasnya.n

Berita Populer