Pemenang Pilpres, Diketahui Februari

Prila Sherly,
Wartawan Surabaya Pagi
Pasca debat pertama Pilpres 2019, elektabilitas pasangan capres-cawapres diintip banyak pihak. Ada lembaga survei yang mengungkap selisih elektabilitas paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kian menipis. Bahkan, ada yang menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf cenderung melemah. Namun sejumlah analis politik di Surabaya menilai saat ini masih dinamis, dengan swing voters pada tingkat 20-25 persen. Indikasi pemenang Pilpres diprediksi bisa diketahui pada Februari mendatang.
----
Media Survei Nasional (Median) mencatat selisih elektabilitas paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kian menipis.
Hal itu merujuk pada hasil jajak pendapat Median per Januari 2019, yakni elektabilitas Jokowi-Ma’ruf kini sebesar 47,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 38,7 persen. Oleh karena itu, perbedaan elektabilitas keduanya menjadi 9,2 persen.
Sedang LeSuRe Political Consulting yang menggunakan metode grab big data analisa jaringan media sosial, popularitas Jokowi-Ma’ruf meningkat namun elektabilitas menurun. Sedang Prabowo-Sandi mengalami kebalaikannya. Popularitas menurun, tapi elektabilitasnya merangkak naik.
Menanggapi fenomena itu, Surokim Abdussalam, peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), menyatakan meskipun riset menggunakan medsos masih memiliki kelemahan.
Apalagi selama ini fakta melalui media sosial masih terseleksi dan terkonstruksi karena keterbatasan ruang tanpa melihat alaminya di masyarakat. Namun, tetap bisa digunakan sebagai suatu referensi atau perbandingan dalam melihat situasi saat ini.
Terlepas dari metode yang digunakan dalam survei, Surokim menjelaskan dinamisnya tingkat elektabilitas adalah hal wajar dengan pengaruh dari pemilih rasional.
“Sejauh saya melakukan tracking data, undecided votes biasanya masih diantara 10-15 persen dengan swing voters pada tingkat 20-25 persen. Bila diambil tengahnya maka mendapatkan sekitar 30 persen yang disebut sebagai pemilih rasional bukan fanatis,” papar Surokim dihubungi Surabaya Pagi, Kamis (24/1/2019).
“30 persen tersebut bisa jadi akan memperoleh preferensi baru atau malah justru golput, tidak memilih. Para pemilih rasional ini mudah berubah dengan cepat seiring dengan munculnya informasi baru melalui pengecekan fakta. Pergerakan yang dinamis ini akan sering berubah mengingat debat publik dilakukan sebanyak 5 kali,” lanjut dosen Komunikasi Politik sekaligus Dekan Fisib Universitas Trunojoyo Madura
Tiga Faktor
Sementara itu, Agus Mahfud, pakar Sosiologi-Politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga menjelaskan penyebab dinamisnya pergerakan tingkat elektabilitas kedua paslon.
“Faktor pertama dari segi personelnya, melalui visi dan misi serta program bisa meyakinkan seseorang yang tidak yakin menjadi yakin. Untuk yang kedua, suasana di lapangan, misalnya ketika di suatu daerah, akibat debat pilpres membawa banyak atribut namun tidak memiliki pengaruh cukup tinggi,” ungkapnya.
Sedangkan Novri Susan, pakar Sosiologi-Politik Universitas Airlangga ini menjelaskan dinamikanya melalui tiga faktor utama yaitu, pertama, aktor politik.
Hal ini menunjukkan bahwa baik capres maupun cawapres menentukan elektabilitas keduanya, misalnya Sandiaga Uno dinyatakan memiliki kemampuan untuk mengajak kalangan ibu-ibu dan remaja.
Kedua, kekecewaan terhadap kebijakan yang dilakukan oleh petahana, lalu diangkatlah isunya oleh paslon 02. Ketika tidak bisa menyelesaikan isu dengan baik maka masyarakat cenderung mencari figur lain.
Ketiga, dari sisi komunikasi politik yang mana gerak gerik atau bahasa non verbal dari Sandiaga Uno menarik banyak orang.
“Menurut saya sendiri, untuk paslon 01 akan mulai terlihat pada pertengahan bulan Februari mendatang bila dibandingkan sekarang ini”, tambahnya ketika berkomentar mengenai penurunan elektabilitas paslon 02. Saat ini masih dikatakan debat perdana yang secara perlahan belum terlalu terlihat bila dibandingkan dengan bulan bulan mendatang.
Strategi Baru
Merujuk hasil survei Charta Politika, kuatnya pemilih loyal kedua kandidat membuat elektabilitas capres-cawapres mengalami stagnansi. Direkutur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menyarankan kedua kandidat untuk fokus pada swing voters dan undecided voters.
"Dengan besarnya jumlah pemilih loyal, artinya ada fenomena swing dan undecided voters yang harus direbut kedua kandidat," kata dia.
Yunarto menjabarkan, sebanyak 14,6 persen adalah swing voters. Sementara undecided voters sebesar 14,1 persen. Oleh karena itu, kedua kandidat harus mulai memikirkan strategi baru untuk merebut jumlah kedua jenis pemilih tersebut.
"Kalau hanya melalui debat, sulit. Harus ada penetrasi lain dari kedua kandidat, misalnya sistem pintu ke pintu dan menggunakan caleg yang punya daya penetrasi yang tinggi di masing-masing daerah," tuturnya. n