Pekan Depan bakal Menjadi Pekan ’Neraka’ Bagi Ekonomi Dunia, Mengapa?

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pekan depan bakal menjadi masa paling aktif ekonomi dunia selama tahun 2019. Betapa tidak? Awal pekan yang dimulai Senin (29/7/2019) mendatang diketahui banyak terdapat sederet agenda. Soalnya, pekan depan merupakan momen diambilnya serangkaian kebijakan ekonomi dari negara-negara maju.

Hari yang paling penting pada pekan depan ialah hari Rabu (31/7/2019) ketika The Fed, bank sentral Amerika Serikat, bakal memangkas suku bunga acuan untuk yang pertama kalinya dalam sepuluh tahun belakangan.

Sejumlah ekonom The Fed memprediksi, penjabat bank sentral AS itu bakal mengurangi benchmark sampai setengah poin persentase. Tetapi, indikasi yang diterima pasar menunjukkan bakal terdapat pemangkasan yang lebih banyak dari prediksi awal yang sebesar seperempat poin persentase.

Ekonom Bloomberg Economics untuk Amerika Serikat, Carl Riccadonna menyampaikan, pemangakasan suku bunga sebanyak 1/4 poin tak bakal membuat pasar terkejut. Soalnya, prediksi itu sudah diantisipasi terlebih dahulu.

"Pertanyaan besarnya ialah, bagaimana The Fed mengumumpkan opini mereka mengenai pelonggaran yang lebih banyak. Pemangku kebijakan berniat untuk menghindari tekanan pasar tentang anjloknya suku bunga yang lebih dari 50 sampai 70 basis poin," cetus Carl, Minggu (28/7/2019).

Sementara itu di belahan Bumi lainnya, pemangku kebijakan Bank Sentral Jepang bakal menggelar rapat pada hari Selasa (30/7/2019). Agenda rapat itu dilakukan guna merespons seruan untuk penguatan komitmen bank sentral pada suku bunga rendah.

Di Tiongkok, Bloomberg Economics sendiri memprediksi indeks pembelian bakal masih terkontraksi terhadap tekanan eksisting eksportir. Di Korea Selatan, jumlah ekspor mereka diprediksi anjlok selama delapan bulan beruntun. Hal ini menambah kekhawatiran pasar mengenai lesunya perdagangan global.

Di sisi lain, catatan inflasi Australia, Indonesia, Korea Selatan dan Thailand bakal membantu para penjabat bank sentra untuk mengambil kebijakan. Lalu pada Kamis (01/78/2019), catatan manufaktur global bakal diumumkan di tengah kekhawatiran risiko resesi yang telah dialami di sejumlah industri.