•   Minggu, 5 April 2020
Surabaya

Pedagang Kecil Sambat

( words)
Tri Rismaharini


Sentra PKL dan UKM yang Dibangun Walikota Tri Rismaharini, Sepi dan Terkesan Mangkrak. Padahal sudah Habiskan APBD Miliaran Rupiah

Jemmi Purwodianto – Noviyanti Tri,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Walikota Surabaya Tri Rismaharini menerima penghargaan di ajang Guangzhou International Award 2018, lantaran mempercantik wajah kota Surabaya dengan memperbanyak taman. Namun irosnis, kebijakan kader PDIP ini kerap diprotes rakyat kecil. Pasalnya, upaya mempercantik kota sering menggusur pedagang kecil. Sementara sentra pedagang kaki lima (PKL) dan usaha kecil menengah (UKM) yang dibangun Pemkot, malah sepi. Bahkan terkesan mangkrak. Padahal sudah menggunakan dana APBD hingga miliaran rupiah.
----
Seperti Sentra PKL Urip Sumoharjo yang berada di tengah kota Surabaya. Pantauan Surabaya Pagi, semalam (11/12/2018), sentra PKL ini sepi pembeli. Bahkan sejumlah stan kosong ditinggal pemiliknya.
Khoiriyah, penjual bakso di sana menyebut penghasilannya sehari hanya sekitar Rp 20 ribu-Rp 50 ribu saja, lantaran sepinya pembeli. "Kalau musim hujan begini makin sepi mbak, banyak yang memilih di kafe yang modern. Meski di sini tempatnya strategis tapi belum dapat mengangkat pembeli," ungkap wanita paro baya yang tinggal di Keputran Kejabon Gang 1 Surabaya.
Dewi, pedagang lainnya mengungkapkan hal senada. Lantaran sepi pembeli, banyak pedagang pindah jualan di lokasi lain. “Sekarang yang jualan di sini makin sedikit. Tersisa 30 stan mbak. Yang belakang malah hampir kosong semua," tutur dia.
Achmad Effendi, pedagang lain, berharap Walikota Tri Rismaharini bisa turun tangan. Sebab, ini menyangkut hidup matinya pedagang kecil. “Mungkin Sentra PKL Urip Sumoharjo ini perlu promosi, agar ramai pembeli di sini. Pemkot yang seharusnya bisa membantu," cetusnya.
Sentra PKL di kawasan religi Makam Sunan Ampel juga tak jauh beda. Banyak stan tutup akibat sepinya pengunjung. Begitu juga Sentra PKL lainnya, seperti di Pakal, Jambangan dan beberapa sentra PKL dan kuliner yang akhirnya sepi.
Ironisnya lagi, Pasar Tunjungan yang lokasi sangat strategis di pusat kota, malah tak terurus. Saat ini hanya tersisa 10 toko yang ditempati berjualan di lantai 1 dan lantai 2.
"Janji revitalisasi pasar sudah lama mbak, tapi sampai sekarang keadaannya malah memprihatinkan, seperti tidak berpenghuni lagi dan bangunan banyak yang rusak," ungkap Slimin, salah satu pedagang di Pasar Tyang yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Tunjungan.

Image
Sementara itu, para pedagang di Sentra Ikan Bulak (SIB) juga tak merasakan dampak ekonomi, meski lokasinya dekat dengan Jembatan Suroboyo. Semula dengan ramainya pengunjung Jembatan Suroboyo, mereka bisa belanja oleh-oleh dan makan-makan di SIB.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pembeli sepi hingga membuat pedagang kabur dari SIB. Padahal, gedung dua lantai ini dibangun dengan APBD sebesar Rp 20,9 miliar.
Pantauan di lokasi, dari ratusan lapak, hanya tersisa 8 pedagang ikan asap yang memilih bertahan. Tidak seperti ketika Sentral Ikan Bulak dibuka pertama kali. Banyaknya pedagang yang berpindah jualan di bibir jalan atau bahkan gulung tikar, disebabkan sepinya pembeli untuk belanja ke SIB.
Atik, salah satu pedagang ikan asap yang masih bertahan mengeluhkan sepinya pengunjung di SIB. Taman Suroboyo yang dibangun pemkot tepat di depan SIB juga tak juga membuat SIB ramai dikunjungi pembeli.
"Malah taman tersebut dibuat anak-anak remaja pacaran mas. Yang ramai itu kuliner di atas, itu pun kalau malam," ungkap Atik.

Image
Relokasi PKL Asal-asalan
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey tak memungkiri Pemkot kerap menggusur PKL. Namun Pemkot tak bisa disalahkan begitu saja.
Menurutnya, Pemkot dalam menata kota Surabaya tidaklah salah, tapi pemkot juga tidak boleh semena-mena menggusur PKL. Sebab, bagaimana pun PKL itu penjual produk-produk dalam negeri, oleh karena itu pemkot memberikan tempat khusus untuk PKL yang diberi nama Sentra PKL.
"Masalahnya Pemkot bisa menyediakan tempat, tapi tidak bisa mengawal bagaiamana Sentra PKL bisa ramai pengunjung. Selama ini pembangunan Sentra PKL banyak yang dibangun di lokasi yang kurang strategis, tentu saja kajian-kajian merelokasikan PKL asal asalan. Untuk itu menjadi PR Walikota dan kami sebagai wakil rakyat, siap diajak diskusi mengenai hal itu," ungkap politisi Partai Nasdem ini.
Tanggung Jawab Walikota
Hal senada diungkapkan Deddy, pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Menurut Deddy jika memang banyak Sentra PKL di Surabaya yang sepi pengunjung atau bahkan mangkrak, karena lokasinya kurang strategis atau jauh dari keramaian.
"Untuk itu, harus ada upaya lebih oleh pemerintah dalam pengawasan terhadap sentra PKL. Untuk yang sepi pengunjung, harusnya Pemkot membantu sosialiasasi atau promosi. Entah membuat kegiatan kecil-kecilan atau membawa pengusaha besar untuk bersinergisitas dengan PKL untuk membantu meningkatkam perekonomian," papar Deddy kepada Surabaya Pagi, Selasa (11/12), melalui sambungan teleponnya.
Menurut Deddy, Walikota Tri Rismaharini punya tanggung jawab dengan membangun sentra PKL dan pasar tradisional. Setelah selesai pembangunan dan sudah mulai ada aktivitas, Pemkot Surabaya tidak boleh langsung melepas pedagang berjualan secara mandiri.
Sebab, ia menilai banyak pengusaha kecil mandiri, akan gulung tikar jika tidak memiliki daya tarik. Terlebih tempatnya sepi pengunjung.
"Jangankan pengusaha kecil, yang besar saja bisa bangkrut. Artinya tidak ada yang salah dalam kebijakan itu, tapi aplikasi di lapangan yang perlu diperbaiki. Nyatanya cari tempat untuk sentra PKL saja jauh dari keramaian," tutur Deddy.
Deddy tidak sepenuhnya setuju jika kebijakan Risma yang pro pengusaha besar dari pada pengusaha kecil. Sebab, hal tersebut muncul karena ada masukan dari jajaran staff yang berada di bawah kepemimpinan Risma. Seharusnya, dinas-dinas terkait harus pro aktif dalam membina pengusaha kecil.
"Kan ada dinas-dinas terkait seperti Dinas Perdagangan, PD Pasar, Dinas Koperasi. Mereka harus turun dan membina pengusaha kecil. Selanjutnya mengevaluasi mana saja Sentra PKL yang sepi dan dicarikan solusi untuk itu. Memang Bu Risma tidak sempurna, tapi selama menjabat, ada perubahan lebih baik untuk Surabaya," ungkap Deddy.
Salah Penempatan
Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim, Mufti Anam, menilai sepinya pembeli di Sentra PKL bukan karena daya beli rakyat sedang lesu. Melainkan kurang memiliki daya tarik yang kuat.
"Mungkin sentra PKL atau pasar perlu dikemas dengan lebih baik. Pemkot bisa menfasilitasi pemasarannya biar lebih ramai. Konsumen ini prinsipnya membeli produk yang bukan hanya bermanfaat, tapi yang terpenting pada tahap awal adalah menarik perhatian," kata Mufti.
Ia melihat penempatan sentra PKL yang dilakukan Pemkot Surabaya masih kurang tepat, dan tidak menguntungkan pedagng kecil.
"Saya rasa kalau tempatnya sepi, harus ada upaya lebih, karena sudah memindahkan warganya untuk berjualan di tempat yang baru. Tentu saja pelanggan lamanya tidak banyak yang tau juga. Jadi pemkot harus membantu sepenuhnya promosi sentra PKL tersebut," pungkas dia. n

Berita Populer