•   Sabtu, 22 Februari 2020
Peristiwa Nusantara

Pasca Gempa Lombok, PLN Pulihkan Listrik Fasilitas Publik

( words)
Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus berupaya memulihkan listrik di daerah terdampak bencana.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pasca terjadinya gempa bumi 7 SR yang mengguncang Lombok pada Minggu (5/8/2018), Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus berupaya memulihkan listrik di daerah terdampak bencana. Fasilitas layanan publik seperti rumah sakit, tempat penampungan pengungsi, instalasi air bersih menjadi prioritas utama.
Direktur Bisnis Regional Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko R. Abumanan mengatakan ia sudah memerintahkan jajaran PLN di Lombok untuk memprioritaskan listrik bagi fasilitas layanan publik.
“Termasuk kantor-kantor pemerintah daerah setempat, listriknya menjadi prioritas untuk segera dipulihkan,” kata Djoko.
Djoko menambahkan daerah prioritas pemulihan mencakup Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara.
“Kami pastikan untuk Gardu Induk dan kabel transmisi tegangan tinggi aman, tidak terdampak gempa. Kami fokus pada perbaikan dan pemulihan jaringan distribusi,” terangnya.
Untuk membantu upaya pemulihan tersebut, PLN kerahkan tim gabungan yang berasal dari Jawa Timur dan Bali. Tidak hanya personel, perlengkapan dan material seperti genset kapasitas kecil, lampu emergensi, mobil crane, mobil station, turut dikerahkan ke daerah-daerah terdampak gempa.
“Tim yang berasal dari Bali ada 54 orang dan Jawa Timur 74 orang sudah mulai diberangkatkan ke Lombok untuk membantu rekan-rekan PLN disana,” jelas Djoko.
Tim pemulihan ini terdiri dari tim Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB), tim korektif, tim tanggap darurat akan bertugas memperbaiki tiang listrik beton rusak, trafo jatuh, dan kabel jaringan yang putus akibat goncangan gempa.
“Kami pun mencoba untuk memasuki Lombok Utara, lokasi paling terdampak gempa, untuk memulihkan listrik disana dengan menggunakan genset,” imbuhnya.
Seiring dengan pemulihan beberapa pembangkit listrik agar kembali beroperasi normal, PLN terus memperbaiki jaringan yang rusak. Seperti di Senggigi, PLN terus menyisir dan memperbaiki sedikitnya 50 konduktor yang lepas dari jaringan. Perbaikan konduktor ini untuk mengalirkan listrik antar gardung hubung.
“Di lapangan, banyak kami temukan tiang-tiang jaringan distribusi miring dan roboh memerlukan perbaikan. Tim bantuan dari Bali dan Jawa Timur secara bertahap memulihkan kondisi paska gempa,” pungkas Djoko.
Untuk diketahui, dalam peristiwa itu 98 orang meninggal dunia akibat gempa. Hasil pantauan yang terus dilakukan dan dilansir oleh Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban meninggal dunia hingga saat ini tercatat ada 98 orang.
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebutkan, akibat gempa 7 SR yang mengguncang wilayah Lombok, Sumbawa dan Bali pada 5/8/2018 pukul 18.46 WIB menyebabkan berbagai wilayah mengalami kerusakan.
Disebutkan, jumlah korban terus bertambah. Data sementara yang dihimpun Posko BNPB ada sebanyak 98 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka, ribuan rumah rusak dan pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi.
Dan diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah. Karena belum semua daerah terdampak gempa dapat dijangkau oleh petugas dari Tim SAR gabungan. Termasuk dugaan adanya korban yang tertimbun bangunan yang roboh, yang belum dapat dievakuasi. Sutopo menyebut, Tim SAR Gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban.
“Pendataan hingga saat ini masih terus dilakukan oleh aparat,” terang Sutopo.
Korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah itu terparah terkena dampak gempa. Dari 98 orang meninggal dunia akibat gempa, terdapat di Kabupaten Lombok Utara sebanyak 72 orang, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 2 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan di Kota Denpasar 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Hingga saat ini belum ada laporan wisatawan asing yang menjadi korban akibat gempa.
Upaya evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Evakuasi korban yang tertimpa masjid roboh di Desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara juga masih terus dilakukan.
Alat berat dikerahkan sejak pukul 15.00 WIB. Satu alat berat digunakan untuk menghancurkan atap dan dinding masjid yang menimpa korban. Belum dapat diperkirakan berapa jumlah korban yang tertimpa akibat masjid roboh, yang saat itu tengah shalat Isya berjamaah.
Jumlah pengungsi juga belum dapat dipastikan. Diperkirakan jumlahnya ribuan tersebar di berbagai lokasi. Sementara evakuasi juga didapati wisatawan yang ada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno masih dilakukan hingga malam ini (Senin 6/8).
Sutopo menyebutkan, tidak ada data resmi soal jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun domestik yang di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno, namun diperkirakan jumlahnya lebih dari seribu orang. Dari catatan BNPB, Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas telah berhasil mengevakuasi sebanyak 2.700 orang wisatawan asing dan domestik dari ketiga pulau tersebut pada Senin sore, 6/8/2018 pukul 15.00 WIB.
Wisatawan dievakuasi ke Pelabuhan Bangsal Kabupaten Lombok Utara menggunakan 9 kapal. Lainnya masih terus dilakukan pencarian dan evakuasi termasuk ribuan wisatawan dan karyawan hotel untuk keluar dari ketiga pulau tersebut. Disebutkan, pukul 17.00 WIB Senin petang, kembali terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil.
Terkait itu, masyarakat dan wisatawan di NTB dan Bali dihimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Serta diminta tidak terpancing dengan informasi yang belum pasti kebenarannya. sa

Berita Populer