Parpol Baru Jangan Harap Lolos Parlemen

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Partai politik baru peserta pemilihan umum tahun 2019 nampaknya butuh keajaiban untuk bisa lolos memenuhi ketentuan Parliamentary Treshold (PT) 4 persen perolehan suara nasional.
Sebab dalam kontestasi Pilpres yang bersamaan dengan Pileg, parpol baru juga sulit mendapatkan coattail effect karena mereka cenderung hanya menjadi follower (partisan).
Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdus Salam, mengatakan gaya yang dibangun oleh parpol-parpol baru juga belum mampu menyasar pemilih tradisional dan konservatif yang selama ini telah dimiliki oleh parpol-parpol lama.
“Parpol-parpol baru juga belum mampu tunjukkan daya kritis progressif yang sangat diminati pemilih swing votter yang cenderung rasional dan kritis. Makanya untuk bisa lolos PT, saya kira butuh keajaiban,” ujar Dekan FISIP UTM saat dikonfirmasi Minggu (18/11/2018).
Surokim mencontohkan partai baru yang dianggap terlalu partisan adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sehingga kesulitan meraih dukungan suara pemilih swing votter di pemilu mendatang yang diprediksi mencapai 30 persen dari jumlah pemilih.
“Problem lainnya, PSI maupun parpol baru lainnya belum mampu membangun politik identitas. PSI yang katanya partai anak muda ternyata belum mampu mengambil anak muda dari kalangan santri sebagai caleg,” dalihnya.
Parpol-Parpol baru, lanjut Surokim dalam membuat narasi untuk mendukung pasangan Capres-Cawapres yang didukung juga cenderung melakukan blunder sehingga malah merugikan.
“PSI gara-gara salah mempersepsikan Perda Syariah kini diserang habis-habisan oleh pendukung Prabowo-Sandi. Begitu juga Partai Garuda dan Partai Berkarya yang membuat narasi memorabilia Soeharto dan Orde Baru justru menjadi blunder sehingga Prabowo makin dijauhi pemilih swing voter (millenial),” bebernya.
Dijelaskan Surokim, memori generasi yang lahir tahun 1990-2000-an atau dikenal dengan istilah generasi Z masih sangat kuat. Bahkan kalau head to head antara yang mendukung jaman Orba dan era Reformasi, pasti lebih banyak yang pro dengan reformasi.
“Pendukung Prabowo-Sandi jika mengusung narasi memorabilia Soeharto adalah blunder dan harus dijauhkan. Narasi yang dibangun itu harusnya menyangkut ketidakberhasilan atau kelemahan Jokowi. Kalau tak segera dievaluasi bisa kalah telak,” katanya.
Di sisi lain, hubungan parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi khusunya antara Susilo Bambang Yudhoyono (Demokrat) dengan Prabowo (Gerindra) juga perlu diperbaiki.
“Gerindra lebih baik mengalah dan tak terlalu banyak menuntut terhadap Demokrat. Ibarat orang menikah, hatinya belum ketemu tapi sudah harus duduk di pelaminan karena dijodohkan atau kawin setengah terpaksa,” kelakar Surokim.
Ia juga menyarankan jika Prabowo dan parpol pendukung ingin mendapat dukungan dari pemilih millenial yang mencapai 58 persen pemilih maka narasi yang dibangun harusnya lebih mengarah pada hope (harapan), optimisme, progressif dan masa depan.
“Jangan bangun narasi pesimistif tapi narasi yang bisa merajut kebersamaan dan optimisme menantang petahana dan memberi solutif hadapi masa depan. Narasi memorabilia Soeharto itu urusan orang tua dan susah diterima pemilih millenial yang cenderung inklusif lintas identitas dan kebhinekaan,” pungkas Surokim. Rko