Pakar Politik: Jokowi Emosional

Presiden Joko Widodo yang mengungkit soal politik genderuwo dinilai tidak lazim. Sebagai capres petahana, biasanya tidak menyerang lawan politiknya. Dalam hal ini Prabowo Subianto, capres yang menjadi lawan Jokowi di Pilpres 2019. Namun dengan keluarnya istilah politikus sontoloyo dan politikus genderuwo, Jokowi diduga sedang tersulut emosinya setelah beberapa kali diserang kubu Prabowo, terkait kedaultan negara, politik identitas dan persoalan ekonomi.
-----
Demikian diungkapkan pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo; pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio; pengamat politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Abdul Chalik dan Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun.
Suko Widodo menyebut semakin mendekati Pilpres 2019, suhu politik akan semakin memanas. Maka serangan dan sindiran dari kedua kubu akan terus terjadi. Dalam teori komunikasi politik, seharusnya ritme pertempuran itu dijaga.
Mengenai politikus genderuwo yang dilontarkan Jokowi, menurut Suko, itu bentuk emosinya dalam menanggapi rivalnya (Prabowo). Menurutnya akhir-khir ini Jokowi juga cenderung mudah tersulut emosi. Tetapi itu sepertinya karena faktor semakin dekatnya pilpres.
“Biasa di dalam kampanye itu ada saling mengolok, tapi kalau dalam taraf wajar ya ndak apa-apa,” cetus Suko dihubungi Surabaya Pagi, Jumat (9/11) kemarin.
Sementara di kubu Prabowo-Sandi, Suko melihat isu yang dilontarkan tampak sporadis. Sehingga, mudah dipatahkan kubu Jokowi-Ma’ruf. Sebenarnya kalau mau ditelaah masih banyak isu bisa dikembangkan di luar isu ekonomi. “Jangan semua dikeluarkan, seperti jurus mabuk,” saran Suko.
Tiga Faktor
Terpisah, Hendri Satrio punya pandangan lain. Menurutnya, pernyataan Jokowi jika ditilik dari segi komunikasi politik sangat tidak biasa dengan berbicara politik genderuwo.
"Memang sebagai petahana komunikasi politik yang dilakukan Jokowi tidak lazim ya. Bila mengacu pada teori fungsi kampanye, seharusnya Jokowi acclaim, mempromosikan diri atau minimal defense, bertahan bukan ikut attack atau menyerang," papar Hendri dalam keterangannya.
Menurut dia, ada 3 faktor yang menurut Hendri menjadi alasan Jokowi kerap menyerang. Dia berbicara soal buzzer hingga soal kepanikan. "Kondisi ini menurut mendapat saya mungkin terjadi karena 3 hal.
Satu, Jokowi terpengaruh buzzer, pembisiknya sehingga terpancing keluar. Dua, kubu Jokowi panik sehingga memaksakan diri keluar karena percaya bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang," ulas Hendri.
"Memang aslinya gaya komunikasi politik Jokowi yang agresif sehingga memang inginnya muncul di permukaan," tandas dia.
Political Labelling
Rico Marbun menilai Jokowi seperti sedang melabeli lawan politiknya, yaitu Prabowo Subianto, dengan melontarkan politkus genderuwo. "Ini political labelling, siasat kontra ’demarketing’ Jokowi terhadap oposan.
Jika oposan, dalam hal ini kubu Prabowo, menyerang Jokowi dari sisi kinerja, Jokowi membalas balik dengan menyerang ’karakter’ lawan (Prabowo)," kata Rico dalam keterangannya tertulis kepada wartawan, Jumat (9/11).
Menurut Rico, ada kelebihan dari strategi politik melabeli lawan itu. Ini berkaitan dengan integritas. "Political labeling ini sangat efektif merontokkan simpati terhadap lawan karena yang diserang itu integritas.
Sepintar apa pun, serasional apa pun, dan sejelas apa pun, argumen oposisi kan rontok dengan sendirinya jika integritas sang pembawa argumen sudah rontok (dalam hal ini kubu Prabowo)," jelas Rico.
Target Prabowo
Sementara itu, Abdul Chalik menyebut manuver politik yang dilakukan Jokowi masih wajar. Sebab sebagai petahana Jokowi memiliki ketakutan yang lebih tinggi dari penantang.
Sebab kalau hanya menang tipis itu artinya sangat memalukan sebagai petahana. “Politik itu pagi jadi sore dan sore jadi pagi. Artinya semua prediksi bisa berubah-ubah dengan cepat. Maka dari itu Jokowi melakukan segala cara untuk menang telak,” ungkapnya.
Melihat posisi Prabowo, Chalik menilai target Prabowo bukan untuk menang pada Pilpres 2019, tetapi menang pada 2024. Adapun 2019 hanya sebagai pemanasan mesin dan pengorbitan figur untuk 2024, yaitu Sandiaga Uno.
Sehingga bisa dilihat target Gerindra saat ini ialah menguatkan posisi di parlemen (DPR), karena Prabowo sendiri pasi sudah tahu untuk mengalahkan Jokowi tidaklah mudah.
“Sedang PDIP (dan partai lain) tidak punya kader. Sekarang kader yag muncul itu seperti Cak Imin, head to head kalau dengan Sandi pasti kalah. Ini target realistis Gerindra untuk menaikkan suara parlemen,” ungkapnya lagi.
Terakhir, Chalik memprediksi Prabowo masih bisa mengejar ketertinggalan elektabilitasnya dari Jokowi, kalau misalkan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf melakukan kesalahan besar, terstruktur, sistematis dan massif.
Yang dapat mereduksi nama baik pemerintahan saat ini, bisa jadi menaikkan BBM ataupun listrik. “Jokowi pasti kalah jika basis sosial seperti NU atau Muhammadiyah secara struktur meninggalkan Jokowi, hancur Jokowi,” tandasnya. n