•   Kamis, 9 April 2020
Surabaya

Nyepi, antara Bubat dan Karbala

( words)
Suparto Wijoyo, Kolomnis, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga


DEKLARASI seperucapan mengenai agenda simbolik penyematan nama Jl Sunda (Pasundan) di Dinoyo maupun Prabu Siliwangi di Gunungsari, Surabaya, dari kebijakan spesifik Pakde Karwo (Gubernur Jawa Timur) dan Kang Aher (Gubernur Jawa Barat) yang menyemai Jl Hayam Wuruk serta Jl Majapahit di Kota Bandung, dengan persaksian Sri Sultan Hamengkubuwono X, Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah (ing Tanah Jawa), merupakan “siwak peradaban” pembersih “slilit paseduluran” antara Jawa-Sunda. Tokoh-tokoh yang berkumpul untuk membangun Harmoni Jawa Sunda di Hotel Bumi pada 6 Maret 2018 itu tersorot menangkap ngiang zaman mengenai adanya “tabir pembungkus keakuan” yang harus dipungkasi setelah mengendap dalam “dendam diam-diam” sepanjang 661 tahun.
Publik kini mendapatkan literasi historis-sosiologis yang amat gamblang dari “riak yang diekspresikan” anak-anak pelintas waktu. Semula terlihat “tersembunyi” dalam keriuhan, kini muncul ke permukaan tentang “kukuhnya jiwa-jiwa” yang “memahatkan salah kaprah” atas nama “sisik-melik yang di-aku-kan”, bukan “persetambatan kebangsaan” yang kerap disuarakan. Jiwa-jiwa yang membersitkan “beban hidup” komunitas yang hendak dijlentrehkan menjadi “seruan kaum perkotaan”. Spanduk dan ujaran yang dipertontonkan dengan pesan tunggal berupa kata “tolak” dapat menghadirkan seruan yang mengikuti bahasa Bonek: “emosi jiwaku”. Itulah fenomena yang paling asli tentang ngemong kebangsaan yang musti diemban oleh siapa saja yang hendak memperkukuh rasa nasionalisme.
Dalam lingkup itulah saya urun sepertautan pesan “berdamai membasuh luka” meski masih sangat sumir dibaca. Beragam pesan sampai ke saya atas tulisan-tulisan yang membeber dengan anggitan tentang Perang Bubat di tahun 1357, yang kerap digugat kebenarannya. Kidung Sundayana yang memapar kelamnya duka lara dan remuk redamnya ruhani keluarga besar Pasundan Pajajaran bolehlah dibilang “dongeng belaka”. Apalagi hentakan pelana kuda sepasukan bersenjata dan tumpahnya darah serta mengalirnya air mata di Lapangan Bubat tidak sungguh-sungguh terekam di Kakawin Nagara Kertagama karya Empu Prapanca yang tuntas ditulis 1364, kemudian memenuhi “pasaran” pada 1365, setahun seusai Gajah Mada memoksakan diri di Madakaripura dengan “tetirah tirtasewana”.
Tetapi suatu realitas kultural yang hadir di relung sosial terdalam adalah amat nyata: Sunda-Jawa menjadi “berjarak”. Jarak yang soal “frasenya” sangat bisa dibantah tetapi mengenai “rasanya” yang tidak terelakkan: meski dapat berikrar “Kita Bersaudara”; tetapi ikrar yang membersit “kenangan kelam”, walau diperdebatkan. Gelegak yang muncul di Kota Surabaya merupakan bukti “ada keakuan” yang “memberas”, belum “menggelepung” untuk bahan dasar “adonan kebangsaan” yang menyatukan seluruh “jiwa-jiwa generasi zaman now”. Akankah kisah yang memuai dari “ejaan cinta dengan curiga” di Bubat itu terus dilanggengkan sambil mempersiapkan “upacara penolakan” berkepanjangan. Disinilah arti penting dialog dan sapaan dengan arus utama hendak melupakan “mimpi kesejarahan” berkelanjutan guna “membangun sejarah baru” penyatuan manusia beradab secara total, jiwa dan raga: Jawa-Sunda akan terucap tanpa jeda walau setarikan nafas yang sama.
Perihnya jiwa dan menghunjamnya luka akibat “dongen” di Tanah Bubat membawa “larung sesaji” ke ranah tragedi Karbala. Tentu keduanya bukan untuk diperbandingkan, pun tiada maksud mempersandingkan, melainkan sekadar memanen hikmahnya dengan tautan jiwa yang terluka, hingga lahirlah desah kesedihan yang membuncah. Rentang waktunya amatlah jauh ke masa silam. Kisah peristiwa Karbala berkelambu takdir yang menyulam Sayyidina Husain bin Ali untuk “berangkat lebih cepat” sebagai “Pemimpin Pemuda Surga” pada 10 Muharram 61 H yang melintas di jejak tanggal 9-10 Oktober 680 M. Ribuan pustaka dapat dirujuk dengan validasi sesuai “mazhab” penulisnya, dari yang klasik sampai yang terbit di tahun 2018 ini.
Tumpahnya darah sesama muslim di Karbala membawa akibat yang terus dibisikkan “seperlirihan nasib” di Lapangan Bubat yang membopong ruh Diyah Pitaloka. Di Karbala jiwa raga Sayyidina Husain dihempaskan, jiwa raga orang yang lahir dari rahim suci Bunda Sayyidah Fatimah Az-Zahra, pemandu wanita mulia di surga, anak kinasih Kanjeng Nabi Muhammad saw, istri Imam Ali, karamallhuwajha. Jiwa raga Sayyidina Husain “dipangkas” oleh muslim yang bernama Yazid, anak Muawiyah, turun Abu Sufyan dan Hindun. Ya Hindun tercatat laksana “sumanto” di tahun 3 H, memakan jantung Hamzah bin Abdul-Muththalib yang berjuluk Singa Allah, Pemimpin Para Syuhada, yang terkena tombak Wahsy, suruhan Hindun dalam Perang Uhud. Dari sini umat dapat menyisir keislaman dari garis bobot-bibit-bebet Kanjeng Nabi Muhammad saw, dan yang “bermetamorfosis” dari darah Abu Sufyan-Hindun.
Kisah Karbala mengajak ingatanku membaca ulang Risalah Asyura 10 Muharram karya KH Abdullah Bin Nuh yang syair-syairnya termuat kembali dalam karya Muhammad Syafii Antonio, Al-Ghazali Dari Indonesia, KH Abdullah Bin Nuh Ulama Sederhana Kelas Dunia (2015). Dari berpuluh-puluh buku tentang Karbala, yang paling mudah kuingat apa yang terekam di The Spirit of Islam (A History of The Evolution and Ideals of Islam) oleh Syed Ameer Ali (1978), bacaan waktu saya di Madrasah Tsanawiyah Lamongan maupun Al-Imamah wa As-Siyasah dari Ibnu Qutaibah (2009/2016), apalagi Shah kar-e Ofarinesy: The Masterpiece of Creation tulisan Abbas Syaikh Rais Kermani (2017). Orientasi para penulisnya memang memiliki “ruang ide” yang “sebersit” dengan Ali Syariati, intelektual besar asal Iran yang namanya diabadikan melalui The Syariati Foundation and The Hamdani Publishers.
Sampai dan sesudah tahun 680 M itu, peristiwa Karbala mengguncangkan jiwa setiap anak manusia untuk tertunduk tak mampu beranjak hingga hidupnya terhimpit tanpa jarak dengan setiap butiran debu Karbala (Kerbela/Karbela). Sayyidina Husain memang tidak berkehendak berbaiat melegitimasi kekuasaan Yazid bin Muawiyah menjadi “Khalifah” (679-683) hingga Yazid amatlah murka tanpa kendali iman, meski rotasi di luar urusan Khalifah juga menyentuh titik-titik eksotisme wanita jelita yang memukau Putra Muawiyah ini, yaitu Urainab binti Ishaq. Ini kisah lain yang amat indah untuk dibaca.
Sayyidina Husain menempuh jalan berkhidmat dengan pergi ke Kufa beserta keluarga dan 71 orang “peserta muhibbah”. Perjalanan dari Madinah menuju Kufa melintasi gurun Arab yang terik menyengat ditemani Abbas. Ketika mendekati Irak, suasana alamnya membersitkan kenyunyian yang menyayat dengan firasat adanya “operasi senyap” pengkhianatan Umayyah. Al-Husain bin Ali lantas menghentikan langkah dan memasang tenda tanda istirah sedang dipersiapkan tepat di wilayah Karbala, dekat tepi Barat sungai Furat. Firasat dan dugaan atas sergapan itu semakin menggetar memberi sinyal pada Sayyidina Husain dengan datangnya beribu-ribu pasukan Yazid yang mengepung dalam komando Ubaidullah ibn-Ziyad yang berperangai bengis. Berhari-hari kema manusia yang pernah ditimang Rasulullah saw, bahkan main “kuda-kudaan” di punggung paling mulia, Rasulullah Muhammad saw. Aliran sungai Tigris yang terhubung diblokade hingga kemah keluarga itu tidak memiliki akses air bersih serta stok pangan semakin menipis sebelum akhirnya habis.
Penderitaan hidup di tengah Padang Karbala tak tertanggungkan. Sayyidina Husain menyodorkan tiga opsi yang terhormat dalam situasi yang sangat sulit itu, yaitu: diizinkan kembali ke Madinah; atau ditugasi menjadi garnisun dan martil menghadapi musuh dari Turki; maupun siap dibawah menghadap Yazid. Terhadap ketiga pilihan itu, tentara Yazid tidak memberi toleransi karena perintah “Sang Khalifah” sangat terang bahwa Husain dan pengikutnya “harus dibereskan” dimanapun mereka diketemukan. Pilihan yang disodorkan adalah perang, dan Sayyidina Husain meminta agar dalam perang itu cukup dirinyalah saja yang dibunuh, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua. Sayyidina Husain meminta sahabat-sahabatnya untuk “melarikan diri”. Cukuplah dirinya menghadapi kematian dalam kepungan ribuan pasukan bersenjata lengkap ini.
Dalam menghadapi kematian yang tidak terelakkan itu, karena takdir memiliki jalannya sendiri, semua pengikut Sayyidina Husain justru menyodorkan diri turut mengarungi jalan surga, bahkan 30 pasukan Yazid serta merta bergabung menjemput maut. Semua pasukan telah tamat, kini tinggal Sayyidina Husain seorang yang berlumur darah dan berbercak luka. Dalam kesempatan ini Sayyidina Husain merasa kehausan dan meminta untuk diperkenankan minum meski seteguk. Dalam luka yang mengoyak inilah, Sayyidina Husain merangkak ke tepian sungai untuk minum yang terakhir, tapi malang, pasukan Yazid mengusir dari tepi sungai dengan menembakkan anak panah, sampai Sayyidina Husain nglesot memasuki kemahnya dan mendekap jabang bayi yang diajaknya, dan bayi itu pun ditombak dengan geram oleh tentara Yazid.
Sayyidina Husain ke luar kemah dan hadirlah seorang wanita memberi secangkir air minum. Tahukah pembaca, tatkala cangkir itu diangkatnya dan menempel dibibir yang mana bibir Rasulullah saw pernah menciumnya, sebuah tombak pasukan Yazid ditusukkan ke mulut itu hingga tempus ke kerongkongannya; putra dan ponakannya terbunuh pula dalam pangkuan lelaki yang disabdakan menjadi pemimpin para pemuda di surga. Sayyidina Husain meski demikian tetap menengadahkan tangan berdoa untuk kebaikan umat dan dalam sekejap kepalanya dipenggal, tubuhnya diinjak dan diperlakukan dengan segala kekejian yang tidak masuk dalam ajaran peperangan model Rasulullah saw. Kepala Sayyidina Husain disaduki hingga diriwayatkan dari sinilah “olah raga sepak bola itu bermula” untuk selanjunya kepala ini ditusuk tombak dan di arak seperkilatan kisahnya laksana Hindun (nenek Yazid) memberlakukan Hamzah. Kepala Sayyidina Husain dipertontonkan disepanjang jalan menuju Kufa, dan Panglima Perang Ubaidillah itu memukul-mukul mulut penggalan kepala Sayyidina Husain. Dalam mengenang peristiwa ini ada orang tua yang turut berdesakan di jalanan yang mencekam dan meraungkan jerit duka waktu melihat arakan kepala Sayyidina Husain sambil mengacungkan telunjuknya: di bibir itulah aku melihat bibir Rasulullah saw.
Kisah itulah yang diulang dan ditimang setiap saat hingga menimbulkan simpati yang membuncahkan “iman” sampai “pensucian tanah Karbala”. Tentu bukan soal “aliran itu” yang mengalirkan “keperihan kehidupan” tetapi “kelopak tabiat” kekejian Yazid “sulit dilukiskan”. Salah prediksi dan pengambilan keputusan yang tidak presisif itulah yang juga terjadi di Bubat hingga “melanggengkan kesedihan” dari Pajajaran. Walaupun soal Bubat sendiri terus menjadi diskusi akademik mengenai kesahihannya. Ada pihak yang meragukan dan menafikannya dengan sebutan sebagai “dongen” belaka, tapi ingatlah implikasi dongeng yang “mengorek duka” itulah yang sesungguhnya perlu dicarikan solusi. Dan para Gubernur yang telah berikhtiar merakit “kenangan dongen duka” menjadi “perekat hati” kewilayahan adalah tindakan mulia meski terhadapnya ada yang merasa “ditinggalkan”, belum diajak rundingan, bahkan sosialisasinya dianggap kurang. Hal semacam ini kalau berangkat dari “kerinduan bersaudara” tentu tidak akan serumit yang dibayangkan.
Pun berbagai pesan dikirim ke saya bahwa soal Bubat itu tidak layak dibincang secara ilmiah. Inilah uniknya, orang selalu berpikir dengan mengira semua yang ada itu harus ilmiah. Bukankah khalayak akademisi sudah biasa melakukan diskusi-diskusi yang mengkualifikasi sesuatu sebagai leganda dan yang satu ilmiah model Archie J. Bahm waktu menulis buku What is Science? Dia berupaya untuk memberikan penguasaan intelektual tentang ilmu secara substantif dengan mengetengahkan enam komponen dasar “sesuatu” yang dinamakan “ilmu”, yaitu: masalah, sikap, metode, aktivitas, simpulan dan efek.
Tetapi tetaplah sadar bahwa sikap mengetengahkan ukuran keilmiahan tanpa menjadikan keenam komponen secara kumulatif sebagai kriteria baku, semakin meneguhkan perspektif filsafat ilmu bahwa tidaklah ada jawaban tunggal yang tersepakati tentang apa yang menjadi karakteristik ilmu, sehingga A.F. Chalmers perlu bersuara: “… Ia menyangka bahwa ada suatu kategori ‘ilmu’ dan menganggap berbagai macam bidang pengetahuan, fisika, biologi, sejarah, sosiologi, dsb. harus termasuk kategori-kategori itu atau tidak. Saya tidak tahu bagaimana karakterisasi umum tentang ilmu demikian dapat dikukuhkan atau dibela. Para filusuf tidak mempunyai jalan keluar yang bisa mensahkan suatu kriteria yang harus dipenuhi untuk menilai apakah suatu bidang pengetahuan dapat diterima atau dianggap ‘ilmiah’ …”.
Dengan demikian, A.F. Chalmers telah mendeskripsikan adanya problema kolosal bagi filsafat ilmu dalam menghadapi “klaim” kondusif dalam memproyeksikan kriteria ilmu. Ia menyatakan: “bahwa tidak ada konsepsi tentang ilmu yang abadi dan universal. Hal ini berarti bahwa: Setiap bidang pengetahuan dapat dianalisis sebagaimana apa adanya. Artinya, kita dapat menyelidiki apa tujuannya, yang mungkin berbeda dengan tujuan yang diperkirakan secara umum. Dan kita dapat menyelidiki cara-cara yang digunakannya untuk sampai pada tujuan itu dan derajat keberhasilannya yang telah dicapainya”.
Maka Jujun S. Suraisumantri berujar: Setiap bentuk buah pemikiran manusia dapat dikembalikan pada dasar-dasar ontologi, epistimologi, dan aksiologi dari pemikiran yang bersangkutan. Analisis kefilsafatan ditinjau dari tiga landasan ini akan membawa kita kepada hakekat buah pemikiran tersebut. Demikian juga mempelajari ilmu ditinjau dari titik tolak yang sama untuk mendapatkan gambaran yang sedalam-dalamnya. Dari itulah saya senantiasa mengulang-ulang pandangan A.F. Chalmers bahwa: “setiap bidang pengetahuan dapat dianalisis sebagaimana apa adanya”. Apalagi Paul Feyerabend telah menandaskan: ilmu tidak mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya mempunyai keunggulan secara hakekat terhadap cabang-cabang pengetahuan lain seperti mitos purba atau voodoo”.
Akhirnya di saat peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, yang bertepatan 17 Maret 2018, mari mengheningkan jiwa, mengelanakan diri di rimba ilmu yang tetap menyeliakan ruang misteri sambil menyelami hidup semakna bunyi gamelan: nang ning nung neng gung.

Berita Populer