Namanya Tidak Muncul Dalam PPDB SMK Favorit, Peserta Didik Ancam Bunuh Diri

SURABAYAPAGI, Banyuwangi-JKebijakansistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang mendapat reaksi luas kalangan masyarakat, juga berdampak terhadap psikologi anak. Kegagalan masuk sekolah favorit, membuat si anak bisa berbuat nekat.
Seperti yang dialami oleh Supriyono (47), warga Kelurahan Kampung Mandar, Banyuwangi, yang dibuat panik oleh ancaman anaknya yang bernama Iwan Setiawan (16). Iwan yang lulusan SMPN 1 Glagah ini mengancam akan bunuh diri bila tidak diterima di SMKN 1 Glagah.
Menurut penuturan Supriyono, ancaman yang dilontarkan anaknya itu berawal dari ucapan istrinya yang mengatakan dia tidak akan sanggup membiayai sekolahnya bila Iwan bersekolah di SMK Swasta. Ucapan ibunya itu langsung ditanggapi keras oleh Iwan dengan menyatakan lebih baik bunuh diri dari pada tidak sekolah. "Setelah mendengar ucapan ibunya itu Iwan langsung pergi. Awalnya saya kira hanya ancaman biasa. Tapi kemudian saya dihubungi oleh salah satu teman Iwan yang mengatakan Iwan nekat akan bunuh diri bila tidak diterima di SMKN 1 Glagah. Ya jelas kami dibuat kelabakan oleh ancaman Iwan. Dan sekarang kami sedang berusaha menenengkan Iwan, ungkap Supriyono.
Menurutnya, ucapan ibunya itu berawal ketika Iwan yang sudah mendaftar di SMKN 1 Glagah pada 18 Juni 2019 lalu, hingga Sabtu (22/6) kemarin namanya belum juga muncul di daftar peserta didik yang diterima. "Resminya memang baru akan diumumkan pada hari Selasa (25/6). Tetapi ibunya merasa khawatir sehingga dia ngomong seperti itu, yang membuat Iwan jadi nekat," kata Supriyono yang bekerja di Toko Bangunan itu.bud