•   Kamis, 12 Desember 2019
Hukum & Pengadilan

Merengek Minta Bebas, Cen Liang dan Istrinya Malah Diborgol

( words)
Henry Jocosity Gunawan alias Cen Liang dengan tangan diborgol digiring menuju ruang tahanan di PN Surabaya, Kamis (10/10/2019).


Budi Mulyono,
Wartawan Surabaya Pagi

Sidang lanjutan perkara pemalsuan akta otentik yang menjerat Henry Jocosity Gunawan alias Cen Liang dan istrinya, Iuneke Anggraini, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (10/10/2019). Kali ini agenda sidang pembacaan eksepsi (bantahan dakwaan).

Menariknya, di akhir persidangan, terdakwa Henry mengajukan permintaan agar istrinya dikeluarkan dari tahanan dengan alasan tidak ada yang merawat anaknya. "Terlepas dari hukum bagaimana. Saya merasa saya sama istri satu saja yang ditahan, karena saya ada anak-anak yang masih kecil tidak ada yang jaga. Dan seharusnya gak pantes kalau hal seperti ini istri saya diikut ikutin karena dia tidak pernah pegang bisnis sama sekali," tukas terdakwa Henry

Atas permohonan tersebut, Jaksa Ali Prakoso juga mengajukan permohonan dengan meminta Henry dan Iuneke mentaati Standar Operasional Prosedur (SOP) Kejaksaan terkait pemakaian rompi tahanan dan borgol. "Ijin yang mulia, setelah terdakwa mengajukan permohonan, penuntut umum juga akan menjelaskan agar para terdakwa juga tertib aturan sesuai SOP kami dari luar sidang sampai ruang tahanan agar bersedia mengenakan rompi dan diborgol tanpa melakukan perlawanan yang mulia," ucap JPU Ali Prakoso.

Sontak pernyataan ini menuai protes dari tim penasehat hukum terdakwa, namun ditengahi oleh hakim Dwi Purwadi yang menyatakan, bahwa kewenangan di luar ruang sidang ada kewenangan jaksa. "Saya sampaikan bahwa pemakaian rompi tahanan itu SOP-nya kejaksaan mau diborgol atau tidak, saya tidak mau urusan itu. Yang penting saudara duduk di kursi itu dalam keadaan bebas, bebas tidak dibelenggu, artinya tidak diborgol. Boleh mengenakan rompi, tidak juga tidak apa apa. Itu saja batas wewenang saya seperti itu," pungkas hakim Dwi.


Image

Usai persidangan,JPU Ali Prakoso melalui pengawal tahanan Kejari Surabaya akhirnya memakaikan rompi tahanan pada Henry dan Iuneke serta memborgol kedua tangannya hingga menuju ke ruang tahanan PN Surabaya.

Eksepsi
Sementara itu, dalam eksepsi terdakwa Henry J Gunawan dan istrinya disebutkan, ada hal-hal terkait keberatan penasihat hukum terdakwa yang disampaikan dan dianggap sebagai cacat prosedur. Diantaranya terkait penetapan tersangka, perjanjian utang piutang yang dianggapclear, sahnya perkawinan agama serta tidak diterimanya panggilan sidang.

Dengan dalil-dalil tersebut, tim penasehat hukum terdakwa Henry dan Iuneke Anggraini berdalih, bahwa tindakan pidana Henry dan Iuneke yang di sangkakan memberikan keterangan palsu dalam akte otentik soal status perkawinannya merupakan hukum keperdataan.

Atas eksepsi tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso kemudian langsung mengajukan tanggapan secara lisan. "Kami menanggapi secara lisan. Setelah mendengarkan eksepsi tim penasehat hukum yang tentunya cukup menggembirakan dan membesarkan hati dari para terdakwa. Pada pokoknya keluar dari ruang lingkup eksepsi sebagaimana diatur dalam Pasal 156 ayat 1 KUHAP campur aduk dengan kewenangan praperadilan dan sudah masuk ke pokok perkara,"kata JPU Ali Prakoso saat membacakan eksepsinya, di ruang Garuda 2.

Selain itu, JPU Ali Prakoso meminta agar majelis hakim yang diketuai Dwi Purwadi menolak eksepsi terdakwa dan menyatakan menerima surat dakwaannya. "Menolak seluruh eksepsi dan menyatakan menerima dakwaan JPU sudah sesuai dengan pasal 143 ayat 3 huruf a dan b KUHAP, serta melanjutkan persidangan untuk memeriksa perkara ini,"ujar JPU Ali Prakoso diakhir tanggapannya.

Keterangan Palsu
Untuk diketahui Jaksa Ali mendakwa Henry dan istrinya memberikan keterangan palsu ke akte otentik yakni dalam pembuatan 2 akte yakni perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee antara PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry Jocosity Gunawan sebagai penerima hutang sebesar Rp 17.325.000.000 (Tujuh Belas Miliar, Tiga Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah) di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 juli 2010 dihadiri juga oleh Iuneke Anggraini.

Dalam kedua akte tersebut Henry Jocosity Gunawan menyatakan mendapat persetujuan dari istrinya yang bernama Iuneke Anggraini, keduanya sebagai suami istri menjamin akan membayar hutang tersebut, bahkan Iuneke pun ikut bertanda tangan di hadapan notaris saat itu.

Belakangan terungkap bahwa perkawinan antara Henry Jocosity Gunawan dengan Iuneke Anggraeni baru menikah pada tanggal 8 November 2011 dan dilangsungkan di Vihara Buddhayana Surabaya dan dicatat di dispenduk capil pada 9 November 2011.n

Berita Populer