•   Selasa, 18 Februari 2020
Surabaya

Meraih Mimpi di Kampung Anak Negeri

( words)
Anak-anak yang dibina UPTD Kampung Anak Negeri, Jalan Wonorejo Timur 130 Surabaya.


SURABAYAPAGI.com - Banyak pihak memandang sinis anak jalanan atau anak dengan problem kenakalan remaja. Namun tidak demikian dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Di mata Pemkot, setiap anak punya potensi. Untuk itu, Pemkot mendirikan Kampung Anak Negeri, di mana setiap anak berhak meraih mimpi.
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kampung Anak Negeri berdiri di atas lahan seluas 50x40 meter di Jalan Wonorejo Timur No. 130. Sekilas, bangunan tersebut mirip sekolah pada umumnya. Namun, yang membedakan, ternyata di dalamnya ada 6 kamar. Masing-masing kamar berisi 6 hingga 7 tempat tidur yang tertata rapi. Di tempat itulah, Pemkot Surabaya membina, serta merawat anak-anak jalanan, anak putus sekolah, hingga anak dengan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), agar memperoleh kehidupan dan masa depan yang lebih baik.
Saat ini, Kampung Anak Negeri dihuni oleh 35 anak yang semuanya laki-laki. Rentang usia mereka 8 hingga 18 tahun. Anak-anak itu datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang datang dari keluarga yang bermasalah, hingga anak-anak yang terpengaruh pergaulan yang salah sehingga terlibat kasus kenakalan remaja.
Kepala UPTD Kampung Anak Negeri Surabaya, Naniek Winarsih, menjelaskan alur masuknya penghuni. Umumnya, penghuni berawal dari razia Satpol PP. Mereka lantas disurvei lebih dalam oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya untuk diketahui lebih dalam kondisi ekonomi dan problem keluarganya. Namun, ada pula yang merupakan hasil dari penjangkauan aparat kelurahan dan kecamatan yang melakukan outreachanak-anak terlantar di wilayahnya.
Setelah ‘resmi’ menjadi penghuni Kampung Anak Negeri, anak-anak tersebut didampingi oleh 3 orang pembina. Mereka dididik menjadi disiplin serta diberikan pelatihan-pelatihan sesuai minat dan bakatnya, misalnya pelatihan kesenian, olahraga dan wirausaha.
Naniek berharap, pihaknya bisa membangun kemandirian anak-anak jalanan. Selain pendidikan dan pelatihan, anak-anak juga dibuat nyaman dengan fasilitas yang memadai. Mulai dari kamar yang nyaman, studio musik, sarana olahraga, ruang serba guna hingga pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. “Kalau makan semua tercukupi. Mereka makan tiga kali sehari. Juga dapat snack, susu dan kacang hijau,” terang Naniek.
Tak hanya itu, setiap hari anak-anak juga diberikan fasilitas antar jemput ke sekolah. Namun, ada juga yang naik sepeda sendiri. Untuk yang masih menempuh pendidikan SD dan SMP sekitar 25 anak. Sisanya menempuh pendidikan melalui kejar paket.
Pola atau metode yang diterapkan Pemkot Surabaya melalui Kampung Anak Negeri terhadap anak-anak jalanan mulai menunjukan hasil. Kini, banyak dari mereka yang telah lulus sekolah dan mendapat kerja. Bahkan, tidak sedikit yang berhasil menorehkan berbagai prestasi di bidang olahraga, baik tingkat regional maupun nasional. Seperti Ari Mukti (14), yang pernah meraih juara satu pertandingan tinju kelas 38 kilogram, Kejurda Tinju Amatir Yunior Youth se-Jawa Timur tahun 2017, serta juara 1 lomba Balap Sepeda KONI Surabaya tahun 2017. Sementara dari cabang silat, Muhammad Hasyim (14), juga pernah meraih juara 1 tapak suci usia dini, se-Kota Surabaya. Marfel Maulana (7), pernah meraih juara tiga Kejuaraan Balap Sepeda MTB Piala KONI Kota Surabaya. Prestasi serupa juga pernah diraih Luhur Aditya Prasoja (16). Dia pernah meraih juara 2 Kejuaraan Balap Sepeda Usia Dini Seri ke-3 Trophy Ketua ISSI Jawa Tengah.
Dr. Tiwik Koesdiningsih, Sp.KJ (K) Psikiater Anak dan Remaja RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang mengapresiasi pendekatan yang dilakukan Pemkot Surabaya. Menurut dia, anak-anak dalam masa tumbuh-kembang memang perlu mendapatkan bimbingan dan naungan agar mempunyai kedewasaan mental dan sosial.
“Saya apresiasi upaya-upaya Pemkot Surabaya dalam mengupayakan mendidik anak-anak jalanan. Pola yang diterapkan tentunya mendidik disiplin tetapi tetapfun, sehingga membuat anak-anak kerasan dan patuh,” kata Tiwik.
Pada kesempatan berbeda, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meyakini bahwa tidak ada istilah anak nakal. Menurut Risma -sapaan Tri Rismaharini-, yang ada hanyalah anak yang salah pergaulan atau anak yang punya masalah. Oleh karenanya, untuk mengurai problem tersebut, maka diperlukan upaya mencari akar masalah yang dialami oleh anak tersebut. Untuk itu, negara, dalam hal ini Pemkot Surabaya, melalui Kampung Anak Negeri, hadir guna memecahkan masalah yang dialami oleh anak-anak di Surabaya.
“Setiap anak berhak untuk berhasil. Mereka berhak untuk menggapai mimpinya. Mari kita semua mendukung anak-anak Surabaya untuk berhasil dan berprestasi,” kata Risma. (Adv/Alq)

Berita Populer