•   Jumat, 3 April 2020
Ekonomi NKRI

Menteri Luhut Memohon ke Presiden Jokowi supaya Tidak Lagi Impor Garam

( words)
ILUSTRASI | PIXABAY/Quangpraha


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Harga garam dalam negeri yang merangkak naik rupanya akibat dari impor garam. Oleh sebab itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Panjaitan mengaku telah memberi pertimbangan kepada Presiden RI Joko Widodo untuk mengambil kebijakan, tidak lagi impor garam.

"Tadi sudah saya sampaikan kepada presiden mengenai harga garam domestik, sehingga Indonesia tidak perlu impor. Saya mengusulkan kepada presiden supaya tidak ada lagi impor. Impor bikin kacau," ungkap Menteri Luhut di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Impor garam, sambung Luhut, sejatinya tidak perlu terjadi, khususnya pada saat para petani garam tengah panen. Soalnya, ketika itu hasil produksi garam sedang banyak-banyaknya. Jadi, semisal impor diberlakukan, maka yang terjadi supply garam domestik jadi kian melimpah. Akibatnya, supply tetap saja banyak walau telah dipangkas dengan konsumsi rakyat.

Jika itu yang terjadi, harga garam di petani garam bakal anjlok seperti yang pernah terjadi dalam beberapa tahun belakangan. Contohnya, harga garam di level petani garam di Cirebon, pernah berada di angka Rp400 per kilogram-nya. Sementara harga normalnya adalah pada kisaran Rp750-Rp800 per kilogram-nya.

"Secara logis, impor garam jelas membuat harga garam dari petani jadi anjlok, apalagi pada saat panen, negara malah impor," papar Menteri Luhut.

Di samping itu, di tengah upaya pemerintah yang sedang membangun industri garam domestik, impor juga mesti ditiadakan. Pasalnya, di Kupang Nusa Tenggara Timur, telah dibuka lahan garam seluas 5.270 hektare. Di atas kertas, lahan seluas itu dapat menambah supply garam domestik sekitar 800 ribu ton pada tahun 2021 mendatang.

"Ya, sebetulnya Indonesia tidak perlu lagi impor. Saat ini kan sedang dibangun program garam nasional. Sekarang dalam upaya ke sana, sudah bertahap kan?" urai Menteri Luhut.

Berita Populer