•   Jumat, 22 November 2019
Peristiwa Nusantara

Mencintai Surabaya, Sama Seperti Keluarga

( words)
Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan didampingi Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandi Nugroho mengecek perlengkapan prajurit saat pengamanan pasca kerusuhan 21-22 Mei lalu. FOTO: SP/FIRMAN


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sekitar seribu petugas kepolisian berjaga di beberapa objek vital kota Surabaya, Jumat (14/6/2019). Penjagaan tersebut dilakukan pasca kerusuhan 21-22 Mei di Jakarta lalu. Hari itu juga bertepatan dengan sidang pertama sengketa pemilihan presiden di Mahkamah Konstitusi.
Kawat berduri dipasang sepanjang gedung-gedung yang berpotensi menjadi area berkumpulnya massa. Mulai Kantor KPU Kota Surabaya Jalan Adityawarman Surabaya, Kantor KPU Provinsi Jawa Timur jalan Tenggilis Surabaya, Kantor DPRD Jawa Timur Jalan Indrapura Surabaya, Kantor Gubernur Jawa Timur Jalan Pahlawan Surabaya, hingga Gedung Istana Grahadi di Jalan Gubernur Suryo Surabaya.
Seribu petugas tersebut bersiaga, di antaranya tampak berseragam lengkap, dilengkapi rompi anti peluru dan menenteng senjata laras panjang. Selebihnya, menggunakan pakaian preman guna mendeteksi potensi kerusuhan yang terjadi saat sidang PHPU (perselisihan hasil pemilihan umum,red) di MK berlangsung.
Kapolrestabes Surabaya, menyebut, potensi kerusuhan massa mungkin saja tidak terjadi, namun pihaknya terus siaga guna mengeliminir aksi demo berbuntut ricuh seperti di Jakarta yang hingga mengakibatkan sembilan nyawa melayang sia-sia.
"Ini Surabaya, rumah kita. Tentu informasi sekecil apapun akan menjadi berharga bagi kami," ujar Sandi saat dikonfirmasi Surabaya Pagi, Jumat (14/6/2019) lalu.
Seribu petugas disebar di beberapa titik objek vital. Sandi pun menegaskan, tidak ada peluru tajam atau senjata mematikan yang digunakan korps seragam coklat itu untuk melumpuhkan bahkan mematikan warganya sendiri.
"Kami instruksikan, tidak boleh ada peluru tajam yang digunakan dalam senjata yang dibawa oleh petugas. Hanya boleh ada gas air mata, peluru hampa dan karet,itupun digunakan jika dalam keadaan mendesak," katanya.
Terik Surabaya seolah tak dirasa para petugas penjaga keamanan di wilayah Kota Pahlawan Ini. Mereka masih cukup terlihat siaga meski sesekali harus meluruskan kaki di tengah lelah berdiri sejak pukul delapan pagi.
Meski informasi mengenai adanya demonstrasi kelompok masyarakat tak terlihat hingga sore, ribuan petugas itupun masih tak bergeming.
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Barung Mangera menyebut, masyarakat Jawa Timur, Surabaya khususnya dinilai telah sepakat untuk menolak kerusuhan. Hal tersebut, dibuktikan dengan kondusifitasnya kota-kota di Jawa Timur, khususnya Surabaya.
"Informasi awal mereka (kelompok masyarakat,red) mau demo di Grahadi dan objek vital lainnya, tapi gak jadi. Artinya, masyarakat Jatim memang sudah imun atau tahan terhadap hal-hal yang mengarah kepada institusional, mengarah kepada provokasi," tutur Barung.
Meski tak ada pergerakan massa, Polda Jatim telah menyiagakan sekitar 6339 personilnya dibantu 2339 anggota TNI guna mewujudkan situasi kondusif dalam jalannya pesta demokrasi, hingga proses putusam sidang Mahkamah Konstitusi dibacakan.
Terakhir, Kapolrestabes Surabaya, mengajak seluruh elemen masyarakat di Surabaya agar tidak mudah terprovokasi bahkan membuat kerusuhan di kota lahirnya Proklamir negara ini.
"Mari semua masyarakat, utamanya warga Surabaya untuk tetap menjaga kondusifitas kota yang kita cintai ini. Tidak mudah terprovokasi dengan informasi-informasi menyesatkan atau hoax, semuanya mari cintai Surabaya sebagai bagian diri kita, mari bersama-sama Jogo Suroboyo," tandas lulusan terbaik Akademi Kepolsiian 1995 itu. (fir)

Berita Populer