Menantu Pakde Karwo Kaget Namanya Mencuat

Riko Abdiono - Jemmi Purwodianto
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Ketua Muda Mudi Demokrat Jatim Bayu Airlangga mengaku kaget namanya masuk dalam bursa calon Walikota Surabaya. Menantu Gubernur Jatim Soekarwo ini mengaku saat ini dirinya belum berpikir maju di kontestasi Pilwali Surabaya 2020 nanti. Lantas, bagaimana bisa nama Bayu Airlangga mencuat dan bersaing dengan politisi senior seperti Fandi Utomo dan Whisnu Sakti Buana serta mantan Kapolda Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin yang lebih dulu muncul?
--------
“Saat ini saya masih konsentrasi untuk meraih suara milenial dalam pemilihan legislatif 2019 ini. Tapi saya sangat berterima kasih sekali dengan teman-teman yang sudah memberi support kepada saya untuk mewakili Partai Demokrat. Tapi sekali lagi itu mutlak keputusan partai,” ujar Bayu ditemui Surabaya Pagi, Kamis (13/12) kemarin.
Putra pasangan mantan Kepala Kanwil Badan Pertanahan (BPN) Pemprov Jatim, Gede Ariyuda, dan Tutik Herliani ini mengaku siap akan menjalankan perintah partai jika itu sudah keputusan partai dan keputusan koalisi.
“Apapun itu nantinya mau calon Wali Kota (Cawali) maupun calon Wakil Wali Kota (Cawawali) kita harus siap,” tegasnya.
Saat ditanya apakah sudah melakukan obrolan dengan mertua (Pakde Karwo), Bayu mengatakan sudah menyampaikan berita-berita itu. Menurutnya Pakde Karwo cukup kaget tapi sudah masuk. “Anggap saja ini menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) saya,” tuturnya sambil tersenyum.
Pria kelahiran Jakarta, 9 Agustus 1991 ini mengaku belum ada pembicaraan untuk melakukan langkah-langkah dalam Pilwali mendatang. Ia mengatakan saat ini dirinya masih concern menata pemenangan dalam pileg mendatang.
“Memang saat ini ada pembicaraan dan ditanggapi baik saja, tapi hingga April mendatang saya ingin fokus meraih suara milenial dulu,” ungkapnya.
Meski demikian Bayu berharap calon pemimpin Surabaya mendatang harus memiliki figur yang bisa meneruskan apa yang bisa dicapai oleh Wali Kota Tri Rismaharini.
“Ini yang harus diperhatikan calon Wali Kota mendatang. Jangan sampai ganti pemimpin tapi kurang bisa seperti yang sekarang. Bu Risma saya rasa sudah luar biasa dalam membangun Kota Surabaya,” ungkapnya.
Wakil Millenial
Sekretaris DPD Partai Demokrat Jatim Renville Antonio mengungkapkan Bayu Airlangga termasuk orang yang disiapkan untuk maju pada bursa Pilwali 2020.
"Mas Bayu termasuk perwakilan generasi muda yang memiliki popularitas dan cocok maju di Pilwali Surabaya sehingga cocok menggantikan Bu Risma," ujar Renville.
Menurut dia, Bayu Airlangga yang saat ini menjabat ketua Muda Mudi Demokrat Jatim disebut tepat karena mewakili generasi millenial yang suaranya tinggi mengisi daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu.
Mengacu data KPU Surabaya, DPT Hasil Perbaikan ke-2 (DPTHP-2) untuk Pemilu 2019 di Kota Pahlawan sebanyak 2.118.843 orang, yang rinciannya 1.035.182 laki-laki dan 1.083.661 perempuan.
"Artinya ada 1.271.305 orang milenial yang akan diperebutkan dan mungkin bertambah di Pilwali 2020," ucap anggota DPRD Jatim tersebut.
Ia menegaskan sudah seharusnya ada anak muda yang mewakili generasi milenial untuk diberi kesempatan maju di Pilwali Surabaya, baik calon wali kota atau wakil wali kota.
"Anak muda akan semakin banyak, tentu harus ada wakilnya. Tidak mungkin kita mengalami bonus demografi, tapi calon wali kota atau wakil wali kota tidak ada sema sekali dari generasi muda,” papar dia.
Popularitas Bayu Airlangga, kata dia, bakal diiringi dengan akseptabilitas dan elektabilitas dalam rangka Pemilu Legislatif sebagai caleg anggota DPRD Jatim periode 2019-2024.
Analisa Pakar
Mencuatnya nama Bayu Airlangga di bursa calon walikota surabaya pada tahun 2020, dinilai sejumlah pakar politik sebagai gebrakan menjelang Pemilu 2019. Hal ini disampaikan pengamat politik dari Unesa, Agus Mahfud Fauzi dan Aribowo dari Pusdeham Unair.
Menurut Agus Mahfud, semua warga Surabaya punya hak menjadi walikota. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mencalonkan diri sebagai walikota Surabaya.
Menurutnya, jika memenuhi figur kapasitas calon, elektabilitas dan popularitas, dan bagaimana komunikasi calon tersebut dengan partai yang digunakan sebagai kendaraan dalam Pilwali.
"Saya rasa popularitas seorang Bayu yang dikenal masyarakat adalah Pakde Karwonya. Mungkin banyak yang belum tahu siapa mantu pakde Karwo itu. Namun itu masih berhubungan karena ada Pakde karwo di belakang itu," kata Agus, Kamis (13/12).
Meski di usianya yang sangat muda, lanjut Agus, tidak menjamin pemilih milenial akan memilihnya. Sebab, pemilih milenial tidak cukup melihat hanya dengan fisik atau usia yang muda. Tapi pemilih milenial cenderung bahwa ada sesuatu yang dibawa seorang calon yang bisa menjadi impian generasi milenial.
"Seperti Pilgub di DKI kemarin, kan calon dari Demokrat Agus Yudhono ada anak SBY (Susilo Bambang Yudhono). Prestasinya di militer sangat bagus, anak mantan presiden, tapi tidak bisa meraup suara milenial. Padahal di Jakarta banyak generasi milenial. Jadi patokannya bukan karena umur, menantu, atau saudara pejabat yang di kenal," tambah Agus.
Agus menilai, munculnya nama Bayu Airlangga tersebut hanya menampilkan agar pemilihan legislatif pada April 2019 mendatang bisa meraih suara dalam pencalonannya sebagai anggota legislatif. Sebab, seorang calon akan sulit ikut Pilwali jika tidak sukses pileg 2019.
"Menurut saya target utamanya adalah pileg 2019, bukan Pilwalinya. Mungkin ini hanya ingin mendongkrak namanya agar banyak dikenal warga Surabaya bahwa dirinya adalah menantu seorang gubernur," tutup Agus.
Hal senada dikatakan Aribowo. Peneliti politik senior ini menilai semua orang meskipun anak seorang tukang parkir punya hak yang sama untuk menjadi walikota. Namun, jika sudah ada partai yang mendukung, tentu hal bisa jadi sangat mungkin jika menantu Pakde Karwo bisa maju dalam Pilwali 2020.
"Tapi semua partai itu akan melihat elektabilitas seorang kandidat, meski menantu pak Karwo pun, jika elektabilitasnya rendah dan berpotensi kalahnya besar, mungkin nanti demokrat akan berpikir dua kali. Tapi sebaliknya, kalau elektabilitasnya tinggi, maka saya yakin tidak hanya Demokrat, pasti partai lainnya akan mengusung meski itu menantu pakde," kata Ariwibowo.
Menurutnya, masih ada waktu selama 2 tahun sebelum pilwali berlangsung, jika nantinya Bayu bisa meningkatkan elektabilitasnya terutama pada generasi milenial, tentu hal itu bisa membuat pemilih di generasi milenial akan memilihnya.
"Kalau selama dua tahun ini dia meningkat populeritasnya, maka bisa saja mendapatkan suara terutama dari generasi milenial," pungkas dia. n