•   Sabtu, 14 Desember 2019
Catatan Politik Tatang

Memunculkan Pertarungan Baru Bambang DH - Risma

( words)
Catatan Politik Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Catatan Politik Pasca Keterpilihan Adi Sutarwijono (Awi), Jadi Ketua DPC PDIP Surabaya

Kini, dengan dipilihnya Adi Sutarwijono alias Awi, sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya yang baru menggantikan Whisnu Sakti Buana, memunculkan babak baru. Artinya, Walikota Risma, bisa tidak mulus mencalonkan kader, jagonya atau bahkan Fuad, anaknya, maju sebagai Walikota 2020-2025.
Konon Walikota Surabaya lama, Bambang DH, bakal ikut meramaikan bursa cawali lagi. .Secara politis, Risma, tidak bisa berharap kelak bila ikut konstentasi Pilkada Surabaya, akan meraih suara 85% seperti dalam Pilkada 2015 lalu lagi.
Bambang DH, yang saya kenal, adalah kader tulen PDIP. Dia berjuang saat Orde Baru, bersama Almarhum Ir. Sutjipto, orangtua Whisnu. Saat kepemimpinan represif pemerintahan presiden Soeharto, Bambang DH, sudah terlibat “makar” melawan penguasa yang telah memecah belah elite PDI (saat itu belum lahir PDIP).
Sebagai anak muda, saat itu, Bambang DH, sudah mengenal perang gerilya melawan penguasa. Ia bergerilya di rumah “kandang banteng Surabaya”, Jalan Pandigiling Surabaya.
Umumnya semangat bergerilya, Bambang DH, sepertinya tahu perjuangan prajurit yang penah digembleng di kampung “ kawah candradimuka” Jalan Pandigiling.
Kisah gerilya Bambang DH, berjuang menaklukan kekuasaan, hampir mirip film yang pernah saya tonton yang berjudul “The Lone Survivor “. Film Hollywood garapan sutradara Peter Berg tahun 2013 ini dibintangi oleh aktor-aktor film "perang" seperti Eric Bana, Mark Wahlberg, dan Ben Foster.
Film ini diangkat dari kisah nyata misi tentara AS yang gagal di Afghanistan. Pelakunya dilakukan oleh sebuah kesatuan pasukan khusus Angkatan Laut AS SEAL Team 10. Mereka melakukan misi yang dinamakan Operation Red Wings. Mereka adalah sebuah tim kecil yang hanya beranggotakan seorang prajurit medis (hospital corpsman) merangkap sebagaisniperdan tiga orang prajurit patroli yang merangkap tenagasurveillancetermasuk sang komandan regu, Lieutenant (letnan) Michael P. "Murph" Murphy diperankan oleh aktor film Battleship (2012), Taylor Kitsch.
Anggota tim ini adalah : 1) Marcus Lutrell (Mark Wahlberg) sang tokoh utama film ini. Sang Lone Survivor , satu-satunya anggota tim yang hidup di akhir film. Ia bertugas sebagaihospital corpsmanmerangkap sebagaisniper di atas 2) Emile Hirsch sebagai Danny Dietz, prajurit yang bertugas membawa radio komunikasi 3) Ben Foster memerankan prajurit Matthew "Axe".
Film ini berkisah tentang misi khusus dari tim kecil untuk menangkap pemimpin gerilyawan Taliban, Ahmad Shah, yang sebelumnya memiliki reputasi sebagai pembunuh tentara AS. Hal yang menarik di awal film ini, digambarkan bagaimana para anggota Navy Seals dilatih, diambil dari gambar dokumenter langsung dari pusat pelatihan Marinir di AS.
Sepertinya, Bambang DH, memerankan anggota Navy Seals yang dilatih. Bedanya, Bambang DH, dilatih dalam kanca politik, bukan militer. Saat Orde Baru jatuh, PDIP tumbuh besar. Bambang DH, ikut merasakan. Tetapi beberapa tahun lalu, ia berseteru dengan Risma, birokrat yang dikader menjadi walikota ‘’bayangan’’. Permainan politik yang menyebabkan Risma, tidak mau dijadikan ‘’boneka’’. Akhirnya Bambang DH, mengundurkan diri sebagai Cawali.

***
Perjalanan Bambang DH ini berbeda dengan Risma. Ibarat sebuah perkaderan partai, Risma, wanita kelahiran Kediri ini termasuk kader PDIP, kos-kosan.
Kader PDIP seangkatan Bambang DH, memberi catatan, Risma numpang hidup di rumah banteng monyong putih.
Pada umumnya anak kos, tak mengenal cinta sejati pada pemilik rumah. Banyak kejadian, anak kos suka hidup seperti seekor tawon,ngentup (menyengat)disana-sini. Tentu selama dia mau “melukai” orang-orang yang mengganggu periuk madunya.
Nah, Risma, yang terbukti mampu “ menjinakkan” sejumlah akademisi dari Unair dan ITS, bisa jadi bak ayam betina yang dikelilingi puluhan ayam pembisik. Akademisi-akademisi yang didudukkan sebagai staf ahli, tugasnya memberi saran dan bisikan-bisikan.
Seperti umumnya pembisik, tak berbeda dengan anak -anak kos. Pembisik itu umumnya suja berpikir pragmatis bahkan bisa berubah-ubah pragmatis oportunis atau oportunis bunglon.
Tipe ayam pembisik semacam ini kata pedagang ayam potong di Pasar Pabean, yang pentingcuan yaitu duit mengalir, bukan harus dijadikan ayam jago aduan.

***
Walikota adalah jabatan politik. Nama lain dalam konstitusi adalah kepala daerah. Walikota Surabaya era tahun 2015-2020 mengelola APBD sebesar Rp 9,4 triliun. Belum kelola para pengembang yang memiliki kepentingan. Pengembang genius kadang bisa mengkoptasi seorang pejabat walikota.
Maklum, seorang walikota punya sejumlah otoritas. Baik otoritas mengeluarkan peraturan hukum dari SK sampai Perda maupun memberdayakan partisipasi warga kota. Termasuk memobilisasi rakyat pinggiran untuk menolak policy pusat. Misal demo rakyat menolak rencana pembangunan tol tengah yang digagas pemerintah pusat. Padahal, secara akal sehat, relevansi tol tengah dengan rakyat pinggiran tak ada gatukannya (kepentingannya). Inilah kehebatan seorang walikota Surabaya era Risma.

***

Saya pernah bertemu dengan Awi maupun Wisnu. Dari pertemuan dengan kader PDIP, Awi, sepertinya lebih intelektual. Sedangkan Whisnu, lebih pendium. Maklum, Awi pernah jadi wartawan.
Saat masa gerilya awal ikut PDIP, Awi, ikut barisan Saleh Mukadar, kader militant seperti Bambang DH. Hampir semua paham, Saleh merupakan jaringan Bambang DH. Sampai-sampai sdaat Bambang DH, menjadi walikota, Saleh Mukadar dinamain ‘’Walikota malam’’.
Adalah wajar, bila sekarang, posisi Awi dikait-kaitkan dengan peran Bambang DH. Pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan tegas, apakah Awi, kader PDIP ini akan mengikuti jejak Bambang DH, yang sejak lama, “bermusuhan” dengan Tri Rismaharini? Mari kita simak terus sampai menjelang pencalonan Pilkada 2020.
Secara akal sehat, keterpilihan Awi, menjadi Ketua DPC PDIP dalam Konfercab PDIP se-Jatim, Minggu yang lalu (07/07), tidak bisa datang sekonyong-konyong. Apalagi Awi, yang saya dengar, tidak punya network langsung ke Megawati dan Hasto, si Sekjen PDIP.
Saya menduga keras, keterpilihan Awi, hasil gerilya Bambang DH, yang sejak lama telah masuk dalam struktur partai berlambang banteng monyong putih di pusat.
Kini, Bambang DH, berhasil mengoalkan Awi, geser Whisnu, melalui jalur legalitas SK Ketum PDIP jelang Pilkada Surabaya, 2020.
Secara akal sehat, dipilihnya Aei, menjadi Ketua DPC PDIP urabaya, tidak gratisan. Feeling saya pasti ada deal deal politik. Antara lain, Walikota Surabaya 2020-2025, jangan jatuh ke kader PDIP kos-kosan kayak Risma.
Siapa yang dicalonkan Bambang DH kelak? Belum saatnya kita ungkap. Tapi gejala-gejala yang bakal muncul, nama-nama kandidat cawali yang muncul dalam survei, tidak satupun yang dekat dengan Bambang DH. Apalagi birokrat di Pemkot maupun politisi yang bukan dari PDIP>
Saat ini, suara daro PDIP pusat untuk pilkada Surabaya tahun 2020, saya baru mendengar sayup-sayup, ada cawali yang diusung Bambang DH.
Ya sayup-sayup, calon itu kini sedang dinegosiasikan dengan sejumlah elite partai dan pengusaha. Sejauh ini, peran Bambang DH, dalam deal deal politik calon walikota Surabaya tahun 2020, feeling saya sangat dominan, bahkan cenderung kuat. Maklum, Bambang DH, selain kader PDIP yang militan, ia juga pernah kelola APBD kota Surabaya, pasca Walikota almarhum Soenarto.
Ada tanda-tanda, bakal muncul pertarungan baru Bambang DH melawan Risma. Pertarungan menggoalkan kader-kadernya. Siapa saja? ikuti analisis politik saya berikutnya. Sejauh yang saya serap, kader Bambang DH, tidak termasuk nominasi yang kini masuk dalam survei. (tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer