Mata Uang Baht Thailand Turun Drastis Sejak Virus Korona

SURABAYAPAGI.com, Thailand - Kinerja Baht pada tahun lalu menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Sepanjang 2019, mata uang resmi Thailand itu menguat 7,9 persen atas dolar AS.

Dikutip dari CNBC, Jumat (7/2/2020), Baht Thailand turun 4,1 persen sejak awal tahun. Penurunan ini tidak terlepas dari merebaknya virus korona yang diprediksi menekan laju pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih.

Dua hari lalu, bank sentral, Bank of Thailand secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan ke level terendah sepanjang sejarah. Keputusan itu dilakukan untuk memompa ekonomi Thailand.

Ekonom Senior Bank Natixis, Trinh Nguyen mengatakan, ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia itu sangat tergantung pada China. Dia menyebut, devisa pariwisata dari China mencapai 2,7 persen dari PDB. Adapun porsi ekspor negara itu ke China sekitar 6 persen dari PDB.

“Kamit tahu pasti pariwisata (Thailand) terkena hantaman keras. Inilah sebabnya kami menurunkan proyeksi PDB tahun ini hanya tumbuh 2,2 persen, masih jauh dari target Bank Dunia 5 persen jika ingin menjadi negara berpendapatan tinggi dalam satu dekade,” kata Nguyen.

Pada 2018, turis China yang datang ke Thailand mencapai 10,5 juta. Jumlah tersebut lima kali lipat lebih besar daripada kunjungan turis asal China ke Indonesia.

Kementerian Pariwisata Thailand memprediksi berkurangnya kunjungan turis China akan membuat potensi devisa hilang 50 miliar Baht atau setara Rp22 triliun.
(vc/cr-01/dsy)