•   Senin, 6 April 2020
Pilpres 2019

Ma’ruf VS Sandi, Diferensiasinya, Sandi Bisa Lebih Unggul

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (50)

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,

Anda pasti menyadari bahwa kebanyakan orang Indonesia sering suka latah. Kebiasaan suka meniru atau mengadopsi produk asing, masih dilakukan oleh beberapa pelaku bisnis.
Seolah-olah dengan menjiplak produk impor, dirinya atau usahanya bisa menjadi lebih top, hebat, jagoan dan terandalkan. Padahal belum ada lembaga yang menjamin.
Contoh soal majunya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat dalam usia 69 tahun. Menyusul Mahathir Muhammad, maju melawan Najib Razak, memperebutkan kursi Perdana Menteri Malaysia.
Akhirnya, Mahathir terpilih lagi menjadi PM Malaysia, saat usia sudah menginjak 92 tahun.
Baik Trump maupun Mahathir maju menjadi orang nomor satu di negerinya, masing-masing memiliki motivasi dan tujuan.
Trump pengusaha yang dikenal suka ’blak-blakan’ tentang imigrasi illegal, semula tidak ada yang menyangka bisa menjadi presiden seperti sekarang. Trump saat itu bisa sukses menggalang dukungan dari para pemilih konservatif.
Acara-acara kampane Trump, di Arizona acapkali dibanjiri warga setempat.
Simpati warga Arizona ini diperoleh oleh pengusaha real estate dan bintang televisi realitas Donald Trump, setelah Trump mengumumkan maju sebagai salah seorang kandidat bagi nominasi kepresidenan dari partai Republik untuk pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016.
Donald Trump saat itu berjanji akan menjadi presiden yang paling sukses menciptakan lapangan kerja.
Trump bahkan berani mengolok-olok sekelompok politisi di Washington dengan tudingan “bodoh dan pengecut”. Trump malah menganggap apa yang disebut sebagai “impian Amerika” sudah mati. Tetapi bila ia terpilih menjadi presiden, Trump berjanji akan mengembalikan impian itu menjadi lebih besar dan lebih baik, lebih kuat dari sebelumnya.
Nah, sekarang setelah Trump memimpin Amerika Serikat lebih dua tahun.
Trump membuktikan kepiawaian bisnisnya yaitu mengembalikan lapangan kerja dari luar Amerika. Trump bahkan menjamin akan bersikap tegas pada teroris, pertahanan dan imigrasi.
Demikian halnya, Mahathir Mohamad (92 tahun), bisa sukses mengantarkan kubu oposisi, Pakatan Harapan, duduk di kursi PM (Perdana Menteri), bukan dengan cara gampang.
Mahathir membikin sejarah di Malaysia yaitu untuk pertama kalinya mengalahkan koalisi Barisan Nasional yang telah berkuasa sejak Malaysia merdeka tahun 1957.
Dilansir dari BBC Indonesia, pria yang pernah memerintah Malaysia selama 22 tahun sebelum mundur tahun 2003, tahun 2018 ini diambil sumpahnya sebagai perdana menteri ketujuh oleh raja yang berkuasa di Malaysia sekarang, Sultan Muhammad V.
Pria berjuluk ’Little Sukarno’ ini menggetarkan dunia. Mahathir kembali terpilih sebagai pimpinan Negeri Jiran pada usia yang sepuh, 92 tahun. Praktis, Mahathir menoleh sejarah baru di dunia yaitu pemimpin tertua di dunia yang terpilih secara demokratis.
Mahathir Mohamad resmi menjadi perdana menteri ketujuh Malaysia terikat janji-janji untuk meringankan beban rakyat sebagaimana tertuang dalam manifesto politik Pakatan Harapan. Selain tekad membersihkan pemerintahan di Malaysia dari skandal korupsi besar-besaran.

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Saya mencatat, baik Trump maupun Mahathir, maju sebagai orang nomor satu, dan bukan nomor 2.
Nah, KH Ma’ ruf (75 tahun), dalam usia yang sudah sepuh, telah “direkrut” menjadi orang nomor dua oleh Anda Capres Jokowi. Sedangkan Sadiaga Uno, diajak Anda Capres Prabowo, mendampingi sebagai orang nomor dua, dalam usia 49 tahun. Duia cawapres yang memiliki fisik dan usia yang berbeda jauh.
Akal sehat saya, mengatakan dengan tugas, wewenang capres dan cawapes berbeda, akankah dua cawapres Anda ini akan memberi kontribusi nyata pada bangsa dan Negara?
Mengingat, konstitusi kita mengatur tugas dan wewenang Wakil Presiden yaitu Membantu kepala Negara/presiden yang bersifat luar biasa dan istimewa. Posisinya adalah pembantu kepala Negara.
Meski demikian, Wakil Presiden adalah simbol resmi negara di dunia yang kualitas tindakannya sama dengan kualitas tindakan seorang presiden sebagai kepala Negara,
Tugas-tugasnya antara lain mendampingi sang presiden jika presiden menjalankan tugas-tugas kenegaraan di Negara, membantu dan mewakili tugas presiden di bidang kenegaraan dan pemerintahan, membantu presiden dalam mengoordinasikan, menjalankan, dan mengevaluasi program kerja kabinet. Termasuk dalam fungsi ini, wakil presiden dapat juga sebagai kepala suatu badan administrasi pemerintahan atau suatu komisi Negara, melaksanakan tugas teknis pemerintahan sehari-hari dan menyusun agenda kerja kabinet dan menetapkan fokus atau prioritas kegiatan pemerintahan yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan kepada presiden.
Selain memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD
Dan ertanggungjawab penuh membantu presiden dalam urusan kenegaraan
Serta menjalankan roda koordinasi dan komunikasi antara lembaga-lembaga dipemerintahan.
Akal sehat saya menjabarkan tugas “membantu kepala Negara atau presiden yang bersifat luar biasa” itu bisa berbentuk asistensi.
Dalam manajemen, semua tugas asistensi tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Orang Solo, bisa bilang umumnya jabatan wakil itu tambal sulam atau pelengkap.
Sedangkan arek Suroboyo, mendefinisikan wakil itu terdiri awak (badan) dan sikil (kaki). Maknanya, seorang wakil tidak punya kepala. Isyarat tubuh yang tak punya kepala, ia tak bisa memberi visi, apalagi punya kewenangan mengambil keputusan.

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Sampai pertengahan Oktober ini, dua cawapres Anda, mulai sdilahturahmi dan blusukan ke daerah-daerah. Sedangkan Anda berdua lebih ‘’pasif’’. Anda Capres Jokowi, bisa karena terbentur tugas Negara sebagai kepala Negara, sehingga tak memungkinkan kampanya pada hari kerja. Sementara Anda Capres Prabowo, tampak masih melakukan cara-cara silahturahmi, belum pengerahan masa dan pidato akbar.
Nah, diakui atau tidak, Anda berdua insha Alloh, sama-sama ingin mencapai keunggulan bersaing.
Bagi saya yang berkecimpung dalam bisnis, untuk mencapai tingkat keunggulan bersaing, saya harus mampu mengenali berbagai unsure dasar untuk mencapai keunggulan bersaing.
Saya ingat kata Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2008: 4) bahwa “Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara-acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan gagasan”.
Nah, dalam persepsi saya, jika Anda berdua mampu memoles produk memiliki nilai (bernilai) lebih dibandingkan competitor, maka ‘’produk’’ Anda memiliki keunggulan dari segi harga dan nilai.
Saya membatasi ‘’produk’’ Anda adalah Cawapres Ma’ruf dan Sandiaga Uno. Mengingat, yang saya pantau di lapangan, dua cawapres Anda yang telah menyapa masyarakat dengan gayanya masing-masing.
Pertanyaannya, siapa diantara KH Ma’ruf dan Sandiaga yang memiliki ‘’harga dan nilai’’ lebih tinggi.
Dalam bisnis, pelanggan umumnya lebih sensitive terhadap harga. Artinya selisih harga harga Rp.1000 saja dengan produk atau jasa pesaing akan menjadi pertimbangan dalam membeli produk yang lebih rendah harganya.
Nah, apakah ‘’harga’’ KH Ma’ruf lebih tinggi ketimbang Sandiaga, atau sebaliknya. Sejauh yang saya simak dari liputan wartawan saya maupun TV-TV swasta, ‘’harga dan nilai’’ Sandiaga Uno, lebih laris ketimbang kompetitornya. Terutama di kalangan pemilih emak-emak dan pemilih muda.
Apalagi dalam kampanyenya, Sandiaga Uno telah menunjukkan acara yang menyenangkan kastemer ketimbang KH Ma’ruf, yang lebih formal. Sandiaga, selalu didatangi emak-emak di tempat terbuka. Sementara KH Ma’ruf lebih santun yaitu menemui sesepuh umat Islam, baik di Pondok Pesantren maupun tempat-tempat pengajian.
Aspek menyenangkan konsumen adalah aspek kedua dalam menggapi keunggulan bersaing dalam bisnis. Menyusul kepuasan. Misalnya : pelayanan memuaskan, komunikasi yang memuaskan, dan tanpa complain atau setidak-tidaknya bila dikomplain segera ditanggapi atatu tidak ditunda-tunda.
Dalam hal komunikasi, saya menyerap dari masyarakat, cara kampanye Sandiaga, lebih komunikatif dengan pasar terutama emak-emak.
Salah satu strategi untuk mencapai keunggulan bersaing adalah strategi berbasis diferensiasi, Misalnya, apakah Kh Ma’ruf atau Sandiaga, telah memiliki faktor ‘’given’’ masuk dalam diferensiasi harga, diferensiasi pelayanan dan nilai harapan.
Menggunakan pendekatan marketing mix, terakhir yaitu promosi. Saya mengamati dua cawapres Anda sudah sama-sama menyama masyarakat dengan gaya orang tua dan anak muda.
Ternyata strategi promosi Anda berdua sama, masih mengandalkan pertemuan-pertemuan, belum memasuki tahapan menggunakan sarana promosi seperti periklanan, promosi penjualan, publikasi, dan penjualan secara personal.
Pendalaman pemasaran sejak saya masih menjadi CEO harian sore Surabaya Post, strategi diferensiasi yang saya terapkan fokus pada pelanggan ketimbang pada biaya.
Maklum, koran yang saya kelola terbit sore yang distribusinya terbatas, yaitu setelah makan siang sampai sebelum magrib.
Strategi ini bagian dari upaya untuk membangun persepsi pelanggan akan keunggulan kualitas, desain produk, teknologi, jaringan distribusi, dan pelayanan.
Tetapi karena competitor saat itu terbit pagi dan melakukan cara-cara pemasaran yang frontal, produk yang saya kelola, kalah bersaing.
Kekalahan propduk saya saat itu terletak pada pendekatan produl dan jaringan. Koran pagi, memiliki jaringan lebih luas dan weaktu jual yang panjang. Tetapi cara pemasaran yang frontal sebagai pemicu kekalahan.
Tampaknya, Anda Capres Prabowo, terindikasi akan menggunakan pendekatan pemasaran frontal. Sandiaga, yang ‘’diperjualkan’’ ke segmen kecil tetapi potensial yaitu emak-emak. Sedangkan Cawapres Anda Jokowi, masih menyasar ke basis-basis kalangan santri.
Jujur, penerapan strategi diferensiasi memerlukan ketrampilan dan pemberdayaan sumber daya perusahaan yang optimal. Artinya, sekiranya ‘’prudok’’ Anda berdua sama-sama didukung kemampuan pemasaran politik yang kuat dan didukung dengan tenaga pemasaran yang handal, saya yakin Cawapres Anda termudahkan untuk memperluas area pemasaran dan meningkatkan jumlah pelanggan yang loyal. Sekaligus dapat menumbuhkan jumlah pelanggan potensial.Dari aspek diferensiasi ini,. sampai tanggal 16 Oktober 2018, saya bersama Litbang Surabaya Post, mencatat, Cawapres Sandiaga Uno, lebih unggul dibanding Cawapres Kh Ma’ruf, khususnya calon pemilih emak-emak yang jumlahnya lebih besar dibanding pemilih pria. Apalagi, Sandiaga, yang masih muda, ganteng dan energik, juga menyasar pemilih pemula.
Akal sehat saya menilai, persaingan antara Ma’ruf VS Sandi, terkait diferensiasi “Produk”, Sandi Lebih Unggul di Segmen Emak-emak. Maklum dari aspek fisikal saja, Sandi lebih ganteng, muda dan gesit ketimbang Ma’ruf. Apalagi urusan harta dan pengalaman menggalang bisnis sosial. Mari kita simak bulan-bulan berikutnya. ( tatangistiawan@gmail.com, bersambung)
, bersambung)

Berita Populer