Mantan Kapolda Jatim (Siap) Bersaing

Nama Irjen (Purn) Mahfud Arifin Mulai Muncul di Survei Pilwali Surabaya 2020, Bersaing dengan Jagoannya Risma dan Whisnu Sakti yang Berebut Rekom DPP PDIP

Riko Abdiono-Rangga Putra,
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Berdasarkan survei, kota Surabaya memiliki dinamika paling tinggi dibanding 18 kabupaten lainnya di Jawa Timur yang menggelar Pilkada 2020. Terbukti sejumlah tokoh nasional tertarik berebut posisi Walikota Surabaya yang bakal ditinggalkan Tri Rismaharini. Sebut saja mantan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri yang digadang-gadang PKB, dan mantan jubir Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Albinsaid. Namun dua tokoh ini ternyata belum masuk hitungan dalam survei. Justru nama baru yang muncul adalah Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin, mantan Kapolda Jatim yang pada Pilpres 2019 lalu menjadi Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jatim Jokowi-Ma’ruf Amin. Meski memiliki modal memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Pilres, namun Machfud Arifin belum mendapat dukungan parpol. Jika mengincar maju melalui PDIP, pria kelahiran Ketintang Surabaya ini bakal bersaing ketat dengan Whisnu Sakti Buana dan jagoannya Risma, yang disebut-sebut mengarah ke Eri Cahyadi.
------------

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Demikian rangkuman yang didapat dari Lembaga iPOL Indonesia (IT-Research and Politic Consultan), Peneliti Politik Surabaya Survey Center (SSC) Surokhim Abdussalam, dan elit PDIP Jatim, Jumat (6/12/2019).

Lembaga iPOL Indonesia dari Jakarta kembali menyampaikan update pemantauan Pilkada Jatim 2020, dengan elemen Big Data Kota Surabaya. Menurut Petrus Hariyanto, CEO iPOL Indonesia, selain nama-nama lama yang muncul, kini juga ada beberapa nama baru yang terpantau media sosial. Calon lain yang juga mulai terpantau bergerak adalah mantan Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-KH Ma’ruf Amin Jatim, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin (mantan Kapolda Jatim), keponakan Menkopolhukam Mahfud MD (Firman Syah Ali), Dyah Katarina (Istri Bambang DH), Lia Istifhama (Keponakan Gubernur Khofifah), Gus Ali Azahra dan Samuel Teguh Santoso. Kebanyakan dari mereka mengincar tiket dari PDI Perjuangan (PDIP).

Untuk diketahui, Machfud Arifin saat menjadi Ketua TKD Jatim pada Pilpres 2019, mengantarkan kemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Saat itu, pasangan Jokowi- Ma’ruf Amin menang telak di Jatim dengan angka 16.231.668 suara atau 65,79 persen. Perolehan suara pasangan Jokowi-KH Ma’ruf ini diyakini menjadi modal sosial politik Machfud Arifin.

Sedang dari sisi karir, Machfud Arifin pernah menjabat sebagai Kapolda di tiga tempat. Yaitu Kapolda Maluku Utara, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.

“Fenomena banyaknya calon walikota yang juga struktur PDI Perjuangan, mengindikasikan bahwa siapapun calon dari PDIP yang bakal dapat rekomendasi akhir nanti, tetap akan menjadikan lawannya akan sulit menang, jika tidak ada strategi dan pola pemenangan yang rapi dan diimbangi dari sekarang,” ungkap Petrus kepada wartawan, Jumat (6/12/2019).

Makin massifnya kemunculan cawali baru di bulan Desember 2019 ini, lanjut Petrus, menunjukkan analisis pemenangan berbasis Big Data dan Teknologi Politik (Teknopol) makin dibutuhkan. Ini karena adu strategi dari kandidat baru yang mulai bermunculan tidak bisa dianggap remeh.

“Karena kampanye politik di era digital atau 4.0, saat ini makin mudah dan cepat dalam membangun popularitas, kedisukaan, maupun ketidaksukaan terhadap kandidat. Adu strategi, narasi dan kekuatan manajemen pemenangan kandidat mulai diuji di masa pra rekomendasi partai saat ini. Dibutuhkan kerja terencana, terukur, akurat, terkendali dan terupdate,” tuturnya.

Survei Terbaru

Ekspose sebelumnya, nama-nama lama yang masih populer adalah Wisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya), Eri Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya), Armuji (mantan Ketua DPRD Surabaya yang sekarang anggota DPRD Jatim), KH Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans, Dyah Katarina, Lia Istifhama, pengacara M Sholeh, anggota DPD RI Ahmad Nawardi, dan Ketua DPC Peradi Surabaya Hariyanto.

Berdasarkan perkembangan pemantauan sampai Jumat (6/12/2019), iPOL mendapati, Kota Surabaya tetap memiliki dinamika paling tinggi dibandingkan 18 kabupaten/kota lainnya. Petrus menyatakan dari sejumlah nama bakal calon wali kota Surabaya yang muncul di media massa, kemunculan Eri Cahyadi meningkat.

Tiga pekan lalu, saat iPOL menggelar konferensi pers pemaparan hasil pantauanbig data, Eri masih menempati posisi kedua setelah Whisnu Sakti Buana Wakil (WS). Sekarang, menurut pantauan iPOL, Eri ada di posisi teratas. Pemberitaan dengan sentimen positif tentang Eri, sebagai bakal calon wali kota yang terwacanakan, mendominasi calon lainnya.

IPOL memaparkan, pemberitaan tentang Eri Cahyadi sebanyak 2.701 menyalip Whisnu Sakti sebanyak 2.300. Selanjutnya ada Armuji 1.002 pemberitaan dan Zahrul Azhar As’ad (Gus Hans) 544. "Kepala Bappeko Surabaya ini dinilai punya rekam jejak karir yang tidak jauh berbeda dengan Risma. Sehingga, digadang sebagai salah satu kandidat terkuat," terang Petrus.

"Bahkan, Armuji dan Whisnu cenderung ingin menggandeng Eri di Pilkada Surabaya. Info dari survei internal partai, sosok Eri Cahyadi adalah figur yang potensial di Pilwali Surabaya," sebut dia.

Selain calon wali kota di atas, ada nama seperti Dyah Katarina (299 pemberitaan), Lia Istifhama (146); M Sholeh (134), Ahmad Nawardi (123), serta Hariyanto (70) yang terpantau oleh iPOL.

Perang Citra

Pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokhim Abdussalam menyebut, faktor pemberitaan di media untuk mengangkat citra tokoh tertentu, diakui punya pengaruh signifikan dalam membentuk persepsi publik. "Pemberitaan di media cukup berpengaruh di daerah urban," cetus Surokhim kepadaSurabaya Pagi, Jumat (06/12). "Sebaliknya di daerah rural, masyarakatnya tidak banyak yang mengonsumsi berita."

Menurut peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) ini, signifikannya pengaruh pemberitaan terhadap citra tokoh di daerah urban tersebut disebabkan karena warga urban termasuk pemilih yang rasional. Sebaliknya di daerah rural, masyarakatnya cenderung melihat nama besar semata.

"Dari pemberitaan tersebut, pemilih rasional dapat mengukur kapasitas tokoh tertentu. Bagi yang berkepentingan, pemberitaan dapat dijadikan tolak ukur popularitas dan elektabilitas," ungkap Surokhim.

Walau faktor pemberitaan di media punya pengaruh yang kuat, namun tetap lebih signifikan pengaruh tatap muka atau turun langsung ke lapangan.

"Dalam komunikasi politik, ada yang namanya pertarungan udara dan darat. Pemberitaan itu wilayah udara, sementara sisanya pertarungan darat yang dampaknya lebih signifikan," papar dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya ini.

Dalam kasus kontestasi Pilkada, sambung Surokhim, yang paling diuntungkan dengan pemberitaan adalahincumbent. Soalnya, setiap sepak terjang petahana tidak lepas dari coverage media. Khusus Kota Surabaya,sang petahana yakni Wali Kota Tri Rismaharini, sudah tidak bisa lagi maju Pilwali lantaran telah dua periode menjabat.

Sebagai gantinya, lanjut Surokhim, adalah orang-orang dekat sang petahana yang dapat mengambil keuntungan tersebut. Sejauh ini, ada dua nama orang dekat wali kota yang paling santer disebut-debut media. Mereka adalah Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana dan Kepala Bappeko Eri Cahyadi.

Sebagai wawali, Wisnu Sakti tentu mengetahui kebijakan-kebijakan wali kota dan acap kali mewakili dalam turun lapangan maupun menyerap aspirasi warga kota. Setali tiga uang dengan Kepala Bappeko Eri Cahyadi, posisinya sangat strategis untuk turut meramu kebijakan pembangunan. Baik Wisnu Sakti maupun Eri Cahyadi, mendapat porsi pemberitaan positif di udara. "Keduanya bisa mengklaim prestasi wali kota tidak lepas dari andil mereka," tutur Surokhim. "Khususnya Pak Eri yang tampaknya masih malu-malu."

Rakor PDIP

Sementara itu, DPD PDIP Jatim telah menggelar rapat koordinasi dalam menghadapi Pilkada Serentak 2020. Rakorbid Pemenangan Pilkada ini diikuti DPC PDI Perjuangan yang di daerahnya bakal mengadakan kontestasi pilkada 2020.

Rakorbid dibuka oleh Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari Bisowarno. Selain Untari, hadir jajaran pengurus DPD PDIP Jatim, serta anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim. Dari jajaran DPC, hadir Ketua, Sekretaris dan Bendahara, serta Wakabid Pemenangan Pemilu.

Saat Pilkada 2015 yang juga berlangsung di 19 kabupaten/kota se-Jatim, PDI Perjuangan berhasil menang di 13 kabupaten/kota. Di Pilkada 2020, kata Untari, PDI Perjuangan akan mempertahankan kemenangan saat Pilkada 2015, yakni menang di 13 kabupaten/kota.

Malah, saat ini pihaknya optimistis PDIP akan menambah kemenangan di dua daerah, yakni di Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Malang. "Jadi kita optimis bisa memenangkan 15 dari 19 pilkada tahun 2020,” tegas perempuan yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini.

Keyakinan bisa menambah kemenangan pada Pilkada 2020, sebut Untari, didukung banyak faktor. Di antaranya solidnya kepengurusan PDI Perjuangan di seluruh Jawa Timur. Faktor lainnya, lanjut Untari, yakni makin banyak kader PDIP yang menjadi anggota legislatif melalui Pemilu 2019 lalu. Tercatat ada 316 kader PDIP yang menjadi anggota DPRD di kabupaten/kota se-Jatim. Itu belum anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim yang jumlahnya meningkat dari 19 menjadi 27 orang.

Dia menambahkan, meski tidak menutup kemungkinan kandidat dari kalangan eksternal, dalam pilkada mendatang, PDI Perjuangan akan mengutamakan kader sendiri dalam menentukan bakal calon.

Sebab, sebagaimana pengalaman sebelumnya, ada kepala daerah atau wakil kepala daerah yang diusung PDI Perjuangan, namun akhirnya tidak pernah berkomunikasi dengan PDIP, dan juga malah ada yang ‘berpaling’ ke partai lain.n