•   Selasa, 18 Februari 2020
Korupsi

Mangkir, KPK Panggil Ulang Ketua PPP Jatim

( words)
Foto: Musyaffa Noer dan KH Asep Saifuddin


Jaka Sutrisna,
Wartawan Surabaya Pagi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa dua tokoh di Jatim dalam penyidikan kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di Kementerian Agama (Kemenag) 2018-2019, Senin (25/3/2019). Namun yang hadir hanya pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Surabaya, KH Asep Saifuddin Chalim. Sedang Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Timur, Musyaffa Noer, yang juga anggota DPRD Jatim, tidak tampak batang hidungnya alias mangkir. Dalam kasus ini, mantan Ketum PPP M. Romahurmuziy alias Rommy ditetapkan tersangka dan ditahan.
Lantaran mangkir, KPK menjadwal ulang pemeriksaan Musyaffak Noer. "Musyaffa Noer, anggota DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua DPW PPP Jawa Timur menyampaikan informasi tidak bisa memenuhi pemeriksaan hari ini (kemarin), namun alasan ketidakhadiran tidak cukup jelas. KPK akan memanggil kembali sesuai kebutuhan penyidikan," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (25/3/2019).
Namun, Febri tak menyebut kapan Musyaffak bakal dipanggil ulang. Musyaffak sendiri dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Rommy. Selain itu, KPK memeriksa 2 saksi lainnya untuk Rommy. Mereka ialah PNS Kemenag Kanwil Yogyakarta Abdul Rochim dan Kiai Asep Saifuddin Chalim.
"Saksi Abdul Rochim didalami terkait pengetahuannya tentang aliran dana. Saksi Asep Saifuddin Chalim didalami terkait dengan pengetahuan saksi tentang relasi tersangka RMY (Romahurmuziy) dan HRS (Haris Hasanuddin)," ucap Febri.
Sebelumnya, nama Kiai Asep sebelumnya diseret Rommy saat berbicara terkait kasusnya. Dia mengatakan Kiai Asep adalah salah satu orang yang memberi rekomendasi terkait pengisian jabatan Kepala Kanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin.
Klarifikasi Kiai Asep
Namun Kiai Asep menepis ucapan Rommy itu usai diperiksa KPK. Dia mengatakan tak benar jika dirinya memberi rekomendasi agar Haris Hasanuddin lulus seleksi Kakanwil Kemenag Jatim. "Jelas kalau saya merekomendasi itu salah betul," kata Kiai Asep usai diperiksa KPK.
Selain Rommy dan Haris Hasanuddin, KPK juga telah menetapkan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi (MFQ). Menurut Kiai Asepi, dirinya hanya mengenal Haris. Sedang lainnya tidak. "Tidak kenal dengan para tersangka, kecuali dengan Haris itu, pernah kira-kira 25 tahun yang lalu jadi murid saya, selama kurang lebih 3 tahun. Setiap pagi, mengaji di tempat saya, saat ini saya kenal dia bisa baik dalam mengaji, materinya tafsir, hadis kemudian fiqih. Hanya itu yang saya sampaikan," tandas Kiai Asep.
Ia pun mengaku tidak lagi pernah berkomunikasi dengan tersangka Haris. "Sudah hampir tidak pernah komunikasi. Saya tidak pernah komunikasi," ujar dia lagi.
Ritual Rommy
Sementara itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengungkap tiga kebiasaan orang yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Menurutnya, ritualitas orang ditangkap itu ada tiga, pertama bilang “wah saya dijebak”, padahal tidak mungkin orang dijebak dengan OTT, karena OTT itu kan pasti dibuntuti sejak lama dan dia sendiri yang mengatur pertemuannya.
“Itu ritualitas pertama," kata Mahfud, Senin (25/3).
Kedua, kata dia, orang yang terkena OTT itu kemudian menyebut dirinya sebagai "korban politik".
"Dia bilang ’saya ini korban politik’, selalu begitu dan tidak ada jawaban lain orang yang OTT itu selama ini begitu. Nah, nanti sesudah diperiksa ditunjukkan bukti-bukti bahwa ini kamu tanggal sekian bicara gini janjinya ini, tanggal sekian ganti nomor handphone ini, dan seterusnya," ujar Mahfud.
Ritual terakhir, kata Mahfud, orang tertangkap tangan itu mulai diproses di persidangan. "Lalu ritual berikutnya kalau sidang nanti kemudian yang pertama itu eksepsi ’saya menolak itu semua’ mengajukan eksepsi atas dakwaan JPU, kan selalu begitu urutannya," ujarnya pula.
Mahfud menyatakan bahwa Rommy baru sampai pada ritual pertama bahwa mantan Ketua Umum PPP menyatakan dijebak atas kasusnya itu. "Sekarang Rommy baru sampai pada tahapan untuk dijebak, bilang dijebak, bilang tidak kenal, bilang direkomendasi orang hanya sampaikan aspirasi," kata Mahfud lagi n

Berita Populer