•   Minggu, 5 April 2020
Pilpres 2019

Machfud Arifin Ambisius

( words)


Gembor-Gembor Menangkan Jokowi 75% di Jatim, Padahal Pilpres 2014 Jokowi Cuma Dapat 53%

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Setelah menerima SK penunjukan sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin wilayah Jawa Timur pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin langsung pasang target tinggi. Mantan Kapolda Jatim ini seakan-akan merasa gampang meraup suara hingga 75% untuk memenangkan Jokowi. Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya unggul sekitar 6 persen di Jatim. Tepatnya, memperoleh 11.669.345 suara (53,17 persen). Sedang Prabowo yang beduet dengan Hatta Rajasa mendapat 10.277.115 (46,83 persen) suara.
----
Seorang sumber di internal politisi Jawa Timur langsung menanggapi ditunjuknya Machfud Arifin sebagai Ketua TKD Jokowi-Makruf Amin di Jatim. Ia cenderung meragukan kemampuan mantan Kapolda Kalsel dan Maluku Utara ini. Alasannya sederhana, lantaran pengalaman Machfud Arifin minim di dunia silat politik yang penuh dengan intrik dan biaya.
"Merintah prajurit dengan merintah politisi ikubedo adoh (beda jauh, red). Dunia politik kan beda dengan dunia aparat. Ini yang belum tentu bisa dilakukan oleh tokoh sekelas mantan Kapolda sekalipun," ujar salah satu politisi yang enggan disebut namanya ini, Kamis (20/9/2018).
"Banyak mantan aparat, begitu jadi ketua parpol, kewalahan komunikasi dengan jaringan di bawah. Beda lagi kalau jaringan di bawah itu aparat semua, mungkin bisa tegak lurus hehehe…," sindir sumber ini.
Pakar politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan peneliti politik Surabaya Survei Center (SSC), juga meragukan target kemenangan yang dibuat Machfud Arifin. Target menang 70-75 persen terlalu tinggi, mengingat masyarakat di Jatim yang heterogen. Sementara jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jawa Timur untuk Pemilu 2019 mencapai 30.554.761 jiwa. Lebih besar dibanding DPT Pilgub 2018 yang hanya 30.155.719 jiwa, yang berarti DPT Pemilu 2019 naik 399.042 jiwa.
“70% bukanlah capaian yang mudah didapat. Menurut saya berat," kata Agus Mahfud Fauzi, dosen sosiologi politik Unesa yang juga mantan komisioner KPU Jatim, saat dihubungi Surabaya Pagi, Kamis (20/9/2018).
Di sisi lain, Agus mempertanyakan parpol koalisi Jokowi yang mempercayakan Machfud Arifin sebagai Ketua TKD Jokowi-Ma’ruf di Jatim. Menurutnya, Machfud yang pensiunan jenderal polisi ini akan memberikan persepsi negatif ke publik. Berbagai spekulasi akan muncul, diantaranya soal netralitas Polri di Pilpres 2019 meski Machfud sudah tak lagi menjadi Kapolda Jatim.
"Hal ini menjadi catatan kurang bagus dalam dunia demokrasi, sebab selama ini mereka (Polri) harus netral. Setelah purna kok berubah total sikapnya. Hal ini yang mengakibatkan spekulasi pemikiran dari masyarakat umum, dan biasanya spekulasi tersebut mengarah ke negatif," papar Agus.
Mengenai luasnya relasi Machfud dan jaringan ke pengusaha di Jatim, Agus enggan berkomentar. "Dilihat saja, sebagai orang luar akan mengamati apa yang mereka lakukan," cetus Agus.
Soal Logistik
Hal lebih tajam disampaikan peneliti politik yang juga Direktur Surabaya Survey Center, Mochtar W. Oetomo. Menurutnya dipilihnya Mahfud Arifin bukan karena alasan kelihaiannya dalam hal politik. Tapi karena pengaruh mobilisator kolegial dan strukturalnya sebagai mantan Kapolda. Apalagi, ia pensiun belum sebulan. "Sebagai mantan Kapolda tentu Machfud masih cukup memiliki hubungan kolegial dengan berbagai kekuatan yang ada di tengah masyarakat. Terutama yang strategis dalam konteks timses adalah kekuatan politik dan ekonomi," ungkap Mochtar kepada Surabaya Pagi, kemarin.
Dari itu, lanjut dia, Tim Pemenangan perlu dukungan materiil yang cukup besar. Dengan dipilihnya Machfud diharapkan logistik kampanye di Jatim bisa teratasi.
"Timses tentu memerlukan dana yang tidak sedikit untuk operasional pemenangan. Dengan hubungan kolegial Mahfud sebagai mantan Kapolda dengan para pengusaha di Jatim, diharap ini akan memberi jawaban bagi persoalan timses dalam fund rising," beber pria yang juga dosen Ilmu Politik di Universitas Trunojoyo Madura itu.
Selain itu, Machfud dianggap sebagai tokoh yang memiliki power dan bisa diterima oleh banyak kalangan. Terlebih Machfud dianggap dekat dengan para ulama di Jatim. "Sementara mobilisasi kultural tentu terkait dengan hubungan beliau sebagai mantan Kapolda dengan berbagai kekuatan kultural yang ada di tengah masyarakat. Mulai kekuatan kultur religi (kyai) hingga kultur Mataraman dengan berbagai ragam budayanya," katanya lagi.
Target Sulit Dicapai
Meski begitu, Mochtar pesimis dengan target tinggi Machfud Arifin. Menurutnya, kemenangan 70-75 % terlalu tinggi untuk capai. “Sebagai bahan perbandingan pada pilpres 2014 Prabowo dapat 46% sekian dan Jokowi mendapat 52% sekian di Jatim,” sebut dia.
"Tipografi politik di Jatim cukup heterogen dan selalu menjadi batometer politik nasional. Jatim akan manjadi entitas penting dalam pertarungan pilpres 2019. Jadi kedua pihak akan habis-habisan mengeluarkan potensinya di Jatim. Jadi siapapun yang menang saya rasa marginnya tidak akan sangat lebar. Jadi target 70% tentu akan sangat sulit untuk direalisasikan," tandasnya.
Pengamat Politik dari Unair, Yayan Sakti Suryandaru, juga pesimistis dengan target 70% untuk Jokowi-Ma’ruf di Jatim. "Kalau segitu terlalu besar. Memang timnya (koalisi) Gerinda ndak jalan apa," tukas dia dihubungi terpisah.
Mengenai sosok Machfud Arifin yang didapuk jadi Ketua TKD, menurut Yayan, bukan hal mengejutkan. Terlebih lagi, jejak mantan Kapolda sebelumnya juga sudah terjun ke politik. Sebut saja, Irjen Pol (Purn) Anton Setiadji yang jadi Ketua DPW Partai Berkarya Jatim, Irjen Pol (Purn) Hadiatmoko yang jadi Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Jatim dan Irjen Pol (Purn) Herman Surjadi Sumawiredja yang pernah berkontestasi di Pilgub Jatim 2008.
Bahkan, Yayan menduga Machfud Arifin memang dipersiapkan untuk menjadi pemain politik ke depannya. Ke depan bisa saja mantan Kapolda ini akan bergabung dengan parpol tertentu. "Machfud kan sudah pensiun, jadi ini ibaratkan pemanasan, dikasih ring untuk bermain. Nah ke depan bisa saja dia nyalon apa begitu," terangnya.
Alasan Machfud Arifin
Sebelumnya, Ketua Tim Kampanye Daerah Joko Widodo - KH Ma’ruf Amin wilayah Jawa Timur, Machfud Arifin yakin Jokowi menang telak di Jatim. Setalah ini dia langsung memulai gerak pemenangan setelah resmi terbentuk. Dengan menggandeng tokoh-tokoh kuat di Jawa Timur. Dengan diterimanya Surat Keputusan (SK) tim tersebut, maka sekaligus menjadi titik awal mulainya langkah pemenangan.
“Kenapa saya mau (Jadi Ketua Tim Kampanye Jokowi-Makrif) ya karena saya suka Pak Jokowi. Alasannya jelas, sejak pak Jokowi Presiden, pembangunan infrastruktur (pesat), dulu tidak ada jalan tol Surabaya-Jombang, sekarang ada,” ujar Machfud usai rapat perdana TKD Jatim, kemarin.
Langkah pertama yang dilakukan Machfud adalah pasang target setinggi-tingginya. Yaitu dengan memperoleh minimal 70 persen dari total suara. "Kami optimistis meraih 70 persen atau di kisaran angka 65-75 persen," ucap Machfud.
Ada beberapa alasan pihaknya berani memasang target tersebut. Pertama, rival Jokowi pada pilpres mendatang adalah lawan yang juga pernah dihadapi di pilpres sebelumnya, Prabowo Subianto. Bedanya, Prabowo di pilpres 2014 silam bergandengan dengan Hatta Rajasa. Sedangkan pada pilpres berpasangan dengan Sandiaga Uno. "Terkait target suara, karena lawannya cenderung sama dan hanya berbeda sedikit, kami optimistis dengan target tersebut," tegas Machfud.
Strategi Pemenangan
Pihaknya lantas akan mengevaluasi daerah mana saja yang dinilai kurang optimal. "Kami akan menggarap semua kalangan. Terutama, evaluasi dari tahun 2014 lalu. Mana yang kurang akan kami pertebal. Yang sudah menang, kami tingkatkan lagi," urainya.
Tak hanya itu, pihaknya optimistis seluruh elemen masyarakat akan ikut membantu kerja pemenangan. Tak terkecuali, para ulama di Jatim. Apalagi, Kiai Ma’ruf juga merupakan Rais Aam PBNU yang juga menjabat Ketua MUI. "Tentunya kami tidak bisa sendirian. Melainkan harus bahu membahu dengan seluruh elemen masyarakat yang ada di Jawa Timur. Mulai dari para kiai, ulama, generasi muda (milenial), mahasiswa harus bisa sama-sama," urainya.
Hal ini terlihat dari sederet nama tokoh yang semuanya diborong TKD Jatim. Misalnya di posisi Dewan Penasehat, ada nama Imam Utomo (mantan Gubernur Jatim), KH Muhzin Ghozali (Pengasuh Ponpes Al Ghozali Tulungagung), KH Asep Saifudin Chalim (Pengasuh Ponpes Amanul Ummah, Surabaya), Dahlan Iskan (Mantan Bos Jawa Pos), Anton Prijatno (mantan Rektor Ubaya), Mustahid Astari (Sesepuh Golkar), Martono (mantan Ketua Golkar Jatim), Prof Sudigdo Adi (Sesepuh GMNI/PDI-P) dan Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim terpilih).
Kemudian di Posisi Dewan Pengarah, ada nama Janggan Sargowo (guru besar Unibraw Malang), Dadoes Soermawanto (politisi PDI-P), Makin Abbas (PKB), Syafik Rofii (politisi PKB Bangkalan), Soenarjo (mantan Wagub Jatim), Yusuf Husni (Ketua Kosgoro 1957 Jatim), Sabron Djamil (Golkar), Hasan Aminudin (mantan Bupati Probolinggo), Djaja Laksana (Alumni ITS), Hadi Pranoto (kader GMNI), dan Emil Dardak (Wagub Jatim Terpilih).
"Dengan adanya dukungan seluruh pihak, maka kami akan sukses meraih target tersebut," tandas Machfud.
Belum lagi dengan komposisi tim pemenangan yang menggabungkan elemen dari sembilan partai politik di Jatim. Menurutnya, hal ini akan semakin mempermudah kinerja tim pemenangan. Hampir semua ketua dan sekretaris Parpol pengusung masuk. "Timnya sudah lengkap. Mau (elemen masyarakat) yang mana aja, sudah lengkap. Semua akan kami garap," tegasnya.
Dengan dipilihnya dirinya beserta tim pemenangan tersebut akan menjadi sebuah kehormatan dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. "Kami terima melalui dengan diterimanya SK ini. Kami menargetkan memenangkan Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf. Bukan hanya di Jawa Timur, namun juga nasional," tegasnya. n

Berita Populer