Nelayan Ancam Akan Pindah Lagi Menggunakan Bahan B

LPG Melon Langka Harga Melambung, Nelayan Lamongan Klimpungan

SURABAYA PAGI, Lamongan - Sudah sepekan ini nelayan di wilayah Pantura Paciran dan Brondong Lamongan klimpungan, karena kesulitan mencari bahan bakar gas LPG melon, yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar perahu untuk mencari ikan di laut, sesuai dengan program pemerintah.Kalaupun ada, seperti yang disampaikan oleh Muhlisin Amar Sekretaris HSNI Lamongan, Rabu (4/7/2018), harga LPG 3 kg tersebut naik drastis hingga Rp 42 ribu pertabungnya. Padahal lanjutnya, harga normalnya pertabungnya hanya Rp 16 ribu hingga 17 ribu.
Kondisi yang demikian ini membuat nelayan Paciran terancam tidak tidak bisa melaut dan harus merelakan tidak mendapatkan masukan untuk sementara waktu, hingga waktu yang belum bisa dipastikan, sampai ada turun tangan pemerintah.
Karena biaya untuk bahan bakar gas selama 24 jam melaut kata Muhlisin, biasanya pemilik perahu kecil hanya mengeluarkan Rp 85 Ribu karena butuh 5 tabung, kini untuk waktu yang sama per perahu mengeluarkan Rp 210 ribu dengan harga LPG Rp 42 Ribu.
"Kalau sebelum ada kenaikan setiap perahunya hanya butuh Rp 85 ribu sekali jalan untuk mencari ikan selama 24 jam, kalau sekarang biaya untuh bahan bakar gas saja mencapai 210 ribu bayangkan, ini sudah cukup membuat kami kelimpungan,"aku Muhlisin.
Padahal nelayan perahu kecil ini, sudah cukup baik menjalankan program pemerintah, dengan beralih dari menggunakan Bahan Bakar Minyak ke bahan bakar gas. "Giliran program ini dijalankan, malah stok LPG langka, kalaupun ada harga sudah merangkak naik jauh dari harga HET, terus nelayan seperti ini disuruh apa,"tanya Muhlisin dengan nada heran.
Karena kondisi yang belum dipastikan ketersediaan stok LPG kapan mulai normal kembali, nelayan Pantura kata Muhlisin mengancam akan menggunakan BBM lagi seperti sebelumnya.
Karena setelah dihitung harga LPG Rp 42 ribu, dengan harga pretalite atau premium, nelayan bisa mengirit biaya sampai Rp 60 ribu sekali jalan pulang pergi, karena hanya butuh biaya Rp 160 ribu.
"Obsi kembali lagi ke BBM tidak bisa dibendung, kalau dalam waktu sepekan ini tidak ada langka kongrit dari pemerintah untuk memenuhi stok LPG ,"ujarnya.
Sementara itu, Rifky Rakhman Yusuf
Unit Manager Communication & CSR Pertamina Jatim Bali Nusa Tenggara saat dihubungi beberapa kali melalui seluler genggamnya belum berhasil, karena HP yang bersangkutan dalam keadaan non aktif.Pihak Surabaya Pagi juga sudah mencoba meminta konfirmasi melalui pesan Short Message Service (SMS) juga belum dibalas.jir