•   Senin, 27 Januari 2020
PERISTIWA

Kyai Disidang, Ratusan Santri Datangi Pengadilan Lamongan

( words)
Ratusan santri datangi Pengadilan Negeri Lamongan


SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Ratusan santri Pondok Pesantren Thoriqul Ulum di Lamongan mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Lamongan. Mereka memberikan dukungan moral kepada salah satu kyai mereka yang dianggap terkena fitnah karena melecehkan seorang perempuan.

Ratusan santri yang menamakan diri sebagai Solidaritas Pendukung Gus Haris ini datang ke kantor PN Lamongan di Jalan Veteran Lamongan. Tiba di kantor PN Lamongan, ratusan santri ini langsung menggelar istigasah. Usai istigasah, ratusan santri ini kemudian menggelar sejumlah poster dan spanduk yang berisi dukungan moral terhadap kyai mereka.

Salah seorang peserta aksi ini, Alimin mengatakan aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral terhadap kyai mereka yang sedang ditimpa musibah. Para santri, kata Alimin, melihat kyai mereka sebenarnya tidak bersalah. Dengan aksi ini, menurut Alim, pihaknya berharap agar Gus Haris jika bisa mendapatkan keringanan hukuman atau dibebaskan karena tidak bersalah.

"Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk dukungan kepada kyai kami, yang kami anggap tidak bersalah," tutur Halili yang juga salah seorang guru ini.

Selain membawa spanduk berukuran besar dengan tulisan Solidaritas Pendukung Gus Haris yang berisi tuntutan mereka, para santri ini juga membawa poster yang berisi foto dan status media sosial Facebook perempuan yang dianggap telah melaporkan kyai mereka itu.
Dalam poster ini, tertulis 'Layakkah Disebut Depresi?'

"Pada saat kejadian, Gus Haris sedang ada kegiatan luar, yaitu di Turi, bagaimana bisa dituduh melakukan tindakan tidak senonoh?," tanya Halili.

Kasus ini bermula saat Haris (33), Kepala Sekolah sebuah SMK swasta di Lamongan ditetapkan sebagai tersangka dugaan pemerkosaan terhadap calon siswa dan santrinya pada 12 Juli 2017. Lokasi kejadian adalah di ruang piano yang berada di dalam ruangan guru SMK.

Korban adalah calon siswa dan santri yang hendak bersekolah di lembaga sekolah yang dipimpin Haris. Korban saat itu datang dari Blitar dengan diantar kedua orang tua dan adik korban. Karena belum dapat bertemu Haris, korban dan anggota keluarganya menginap di rumah pamannya yang berada di lingkungan sekolah.

Setelah bertemu dengan Haris, keluarga korban pun pulang ke Blitar dan korban untuk sementara minta ditemani adiknya sebab situasi lembaga masih sepi karena masih masa liburan.

Karena korban masih sering menangis akibat homesick, Haris akhirnya mengizinkan korban dan adiknya untuk tidur di kamar tamu yang ada di ruangan kantor guru. Saat berada di ruang guru ini, ketika korban menerima seragam dari Haris, perbuatan tersebut dilakukan oleh Haris. Usai kejadian ini, korban bersama adiknya kemudian kabur dan melaporkan kejadian ini ke polisi. (dtk/cr)

Berita Populer