•   Rabu, 8 April 2020
Pilpres 2019

Kubu Jokowi-Ma’ruf Aktifkan Mode Serang

( words)
Calon Presiden Prabowo Subianto & Joko Widodo Foto: SP/IST


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo – Ma’ruf Amin beralih ke mode ‘serang’ memasuki bulan ketiga masa kampanye. Seruan itu disampaikan Ketua TKN, Erick Thohir.
Menurut juru bicara kampanye, Irma Suryani Chaniago, merupakan reaksi dari serangan yang kerap dialamatkan kepada pihaknya. “Selama ini kami diam, selama ini kami defensif, selama ini kami tidak menanggapi isu-isu yang dilontarkan kepada kami walaupun itu tidak dengan data. Tapi sekarang kita tidak lagi bisa diam,” ujarnya di Posko Cemara, Jalan Cemara No 19, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.
Irma menilai sudah saatnya menanggapi berbagai isu yang disebutnya tidak berdasarkan data dan fakta. Namun dia memastikan ‘serangan’ yang akan dilontarkan tim kampanye bukan membabi buta melainkan berbasis data dan fakta.
“Bukan menyerang seperti yang mereka lakukan selama ini. Kita tetap menyampaikan informasi dengan tegas menggunakan data dan dasar hukum yang jelas. Dan kalau itu tidak dibenerin, kalau hoaks fitnah itu tetap dilakukan, maka kita akan laporkan pada pihak yang berwajib dan kita akan bertarung di sana,” terangnya.
“Itu arti menyerang yang disampaikan Pak Erick Thohir. Bukan menyerang tanpa data membabi buta, kita tidak menggunakan hoaks, tidak menggunakan sara, tidak menggunakan fitnah,” tegas Irma.
Politisi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) itu mengakui aktivasi mode ‘serang’ bagian dari perubahan startegi kampanye. Irma mencontohkan isu PKI yang menyerang Jokowi. Dia menyebut akan melawan dengan isu pelanggaran HAM.
Sementara itu peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengatakan kubu Jokowi - Ma’ruf sebagai inkumben seharusnya tidak terlalu banyak menyerang Prabowo - Sandiaga saat berkampanye. Menurut Siti, media penilaian masyarakat terhadap inkumben bukan lagi gagasan eksklisif yang ditawarkan, tetapi dari hasil program selama memimpin.
“Seorang inkumben tidak dapat memenangkan hati rakyat dengan argumentasi,” kata Siti. Inkumben tak bisa mengklaim kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya, karena itu berada di wilayah personal masing-masing. Bila kepuasan masyarakat sudah tercapai, inkumben tak perlu lagi repot mengerahkan banyak tenaga saat berkampanye. "Petahana gampang-gampang susah," kata Siti.
Siti mengatakan saling serang tak jadi soal dalam kontestasi pemilu, selama dilakukan secara proporsional, profesional, dan dilakukan secara formal dan substansif. Tujuannya menghadirkan kebaruan-kebaruan, terobosan, inovasi yang dimiliki oleh tiap pasangan calon.
Jokowi, kata Siti, harus tahu apa yang ingin mereka lanjutkan. Mereka harus memilah kembali mana saja program-program yang periode sebelumnya belum maksimal, atau belum konkret. Revolusi Mental contohnya, dinilai masih abstrak selama satu periode. Untuk membawa kembali gagasan ini pada periode kedua, perlu ada usaha yang lebih konkret.
Berbeda halnya dengan inkumben Jokowi - Ma’ruf oposisi tidak punya beban moral dalam aspek apapun, baik penegakan hukum, ideologi, disharmoni, dan lainnya. Mereka bisa menggunakan semua konteks ini untuk meneguhkan visi misi dan programnya yang bersifat terobosan.

Berita Populer