Korut Luncurkan Dua Proyektil Baru, AS Biasa Saja

SURABYAPAGI.com -Korea Utara meluncurkan setidaknya dua proyektil pada Kamis pagi (25/7/2019) dari bagian timur Semenanjung Korea hanya beberapa jam setelah Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton meninggalkan Korea Selatan.

DilansirBloomberg, sebuah pernyataan dari Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyebut proyektil itu tidak dikenal dan terbang sejauh 430 kilometer. Pernyataan tersebut tidak memberikan rincian lain selain mengatakan proyektil tersebut ditembakkan dari Wonsan, tempat Korut sebelumnya menguji coba rudal.

Proyektil itu tampaknya memiliki jangkauan yang sama dengan rudal balistik jarak pendek yang diluncurkan oleh Korut pada awal Mei. Pada saat itu, Presiden AS Donald Trump meremehkan dampak rudal tersebut, meskipun langkah itu melanggar sanksi internasional, dengan mengatakan "Saya tidak menganggap itu pelanggaran kepercayaan sama sekali."

Pengujian senjata terakhir Korea Utara adalah pada bulan Mei, yang mencakup rudal jarak pendek serta roket yang lebih kecil. Pada saat itu, Kim mengawasi penerbangan pertama dari senjata yang sebelumnya tidak teruji, yakni rudal yang relatif kecil dan cepat. Rudal ini diyakini akan lebih mudah untuk disembunyikan, diluncurkan dan gampang bermanuver dalam dalam penerbangan.

Pada hari Selasa (23/7), kantor berita negara Korea Utara KCNA melaporkan Kim memeriksa kapal selam besar yang baru dibangun, disertai oleh para pemimpin program rudal. Ini berpotensi memberi sinyal kelanjutan pengembangan program rudal balistik kapal selam aliassubmarine-launched ballistic missile(SLBM).

Pembicaraan denuklirisasi antara Korea Utara dan Amerika Serikat macet setelah pertemuan puncak kedua antara Trump dan Kim di Vietnam pada Februari gagal. Di Washington, seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan bahwa Gedung Putih mengetahui peluncuran itu, tetapi tidak memberikan komentar lebih lanjut.

Peluncuran tersebut terjadi kurang dari sebulan setelah Trump bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea. Kedua pemimpin sepakat untuk memulai kembali pembicaraan nuklir setelah pertemuan pada 30 Juni 2018.