•   Selasa, 7 April 2020
Peristiwa Internasional

Korut Gasak Uang US$ 2 Miliar Melalui Serangan Siber

( words)
Ilustrasi


SURABAYAPAGI.com - Sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bocor menunjukkan, Korea Utara telah mencuri uang senilai US$ 2 miliar atau setara Rp 28 triliun (dihitung dengan kurs US$ 1= Rp 14.000) untuk mendanai program senjatanya dengan menggunakan serangan siber.

Mengutip Reuters, para ahli PBB mengatakan mereka sedang menyelidiki setidaknya 35 kasus serangan siber yang menyerang lembaga keuangan, pertukaran mata uang kripto, dan kegiatan penambangan yang dirancang untuk mendapatkan mata uang asing di sekitar 17 negara.

Laporan rahasia tersebut menyebut Pyongyang menargetkan bank-bank dan bursa mata uang kripto untuk mendapatkan dana segar.

"Pyongyang melalui ruang siber meluncurkan serangan untuk mencuri dana dari lembaga keuangan dan pertukaran mata uang kripto untuk menghasilkan pendapatan," demikian tertulis dalam laporan yang dikirim ke Komite Sanksi Korea Utara Dewan Keamanan PBB, dikutip dari BBC, Rabu (7/8/2019).

Laporan tersebut menambahkan bahwa serangan Korea Utara terhadap pertukaran mata uang kripto memungkinkannya menghasilkan pendapatan dengan cara yang lebih sulit untuk dilacak dan diawasi oleh pemerintah dan regulasi dibandingkan sektor perbankan tradisional.

Laporan bocor yang dikirimkan ke komite sanksi Korut PBB itu juga menyebut, Pyongyang menggunakan syber-space untuk meluncurkan serangan canggih sehingga dapat mencuri dana dari sejumlah institusi finansial dan bursa kripto untuk mendongkrak pendapatan.

Sejumlah ahli juga tengah menginvestigasi aktivitas penambangan siber penggunaan komputer canggih untuk mengumpulkan mata uang virtual yang didisain untuk mendapatkan mata uang asing.

Selain itu, ditambahkan pula, serangan Korut terhadap bursa kripto memungkinkan mereka untuk mendapatkan pendapatan yang sulit dilacak, tidak mendapat pengawasan pemerintah dan minim regulasi dibanding dengan sektor perbankan tradisional.

Sebagai respon terhadap laporan PBB ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan kepada Reuters: "Kami mengimbau seluruh negara untuk mengambil tindakan dalam menghentikan aktivitas siber Korea Utara yang mencurigakan, yang mendapatkan pendapatan untuk digunakan dalam pengembangan program rudal."

Berita Populer