•   Sabtu, 7 Desember 2019
Ekonomi China

Konflik Laut Cina Selatan, setelah Malaysia dan Filipina, Kini Tiongkok Beseteru dengan Vietnam

( words)
Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc dan Presiden Tiongkok Xi Jinping


SURABAYAPAGI.com, Hanoi - Masalah sengketa wilayah di Laut Cina Selatan semakin panas. Setelah berseteru dengan Malaysia dan Filipina, beberapa waktu lalu, kali ini Tiongkok kembali berkonflik dengan Vietnam. Bahkan, Vietnam menuntut Tiongkok untuk membongkar kilang minyak mereka di dekat Pulau Paracel yang diklaim milik Vietnam, Jumat (12/7/2019).
Vietnam sendiri berpendapat, Tiongkok mestinya tidak mempersulit keadaan karena kedua negara sejatinya masih menegoisasikan batas-batas wilayah laut. Namun, Tiongkok sudah berani membangun kilang eksplorasi minyak di wilayah yang bersengketa. Oleh sebab itu, Vietnam bersikeras menuntut Tiongkok untuk menghentikan aktivitas eksplorasi sekaligus angkat kaki dari Pulau Paracel. Vietnam
Sebelum ini, Tiongkok membangun kilang eksplorasi minyak di dekat Pulau Paracel pada tahun 2014. Hal itu memicu konflik dengan Vietnam yang mengklaim Pulau Paracel masuk wilayah zona ekonomi eksklusif mereka. Juru bicara Menteri Luar Negeri Vietnam Le Hai Binh mengatakan, Pemerintah Vietnam dengan tegas menuntut Tiongkok untuk memindahkan kilang minyak mereka.
"Vietnam dengan tegas menentang dan menuntut agar Tiongkok membatalkan rencana pengeboran dan segera menarik kilang minyak Hai Duong 981 dari wilayah kami. Kalau Tiongkok tidak mengambil tindakan, dan tetap melanjutkan aktivitas secara sepihak, maka hal tersebut bakal semakin memperumit situasi di Laut Cina Selatan," cetus Le Hai Binh dalam sebuah pernyataan. Kilang minyak Hai Duong 981 merupakan bahasa Vietnam dari Haiyang Shiyou 981.
Pemerintah Vietnam, sambung Le Hai Binh, telah mengajukan protes ke Kedutaan Besar Tiongkok di Hanoi. Binh juga mengatakan, satu dari tujuh pulau buatan Tiongkok yang dibangun di Laut Cina Selatan yang masuk wilayah Vietnam, adalah ilegal dan tidak sah.
Pernyataan Vietnam itu muncul hanya beberapa hari setelah legislatif Vietnam bersumpah pada Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc, yang telah berjanji untuk mempertahankan kedaulatan Vietnam.

Berita Populer