•   Selasa, 7 April 2020
Surabaya

Komjen Budi Waseso Perintahkan Tembak Mati Bandar Narkoba

( words)
BNNP Jatim bekerja sama dengan DJBC berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu-sabu seberat kurang lebih 7.300 gram, kamis (11/1). Foto : SP/JULIAN.


Pelototi jalur laut, Komjen Budi Waseso gandeng Stake Holder Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pasca penggagalan penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 7,3 kilogram oleh Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Jatim, Bea Cukai dan TNI AL di Tanjung Perak Surabaya. Kepada BNN Komjen Pol Budi Waseso akhirnya melakukan lawatannya ke Surabaya Jawa Timur. Sejumlah informasi disampaikan Komjen Budi saat menggelar rilis bersama di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak, Surabaya Kamis (11/1/2018).
Komjen Pol Budi juga meminta agar anggotanya maupun aparat hukum lainnya di Indonesia agar tak ragu menindak tegas pelaku yang terlibat dalam jaringan peredaran narkoba. Tindak tegas yang dimaksudnya, yaitu menembak mati para bandar narkoba. Sebab menurutnya, narkoba merupakan masalah negara yang harus diperangi bersama. Bahkan Presiden RI, Joko Widodo sudah menginstruksikan, bahwa negara ini menyatakan perang terhadap narkoba.
"Mengingat bahwa narkotika ini adalah masalah negara. Maka amanah negara itu, harus kita pertanggungjawabkan. Dan hasil ungkap 7,3 kilogram ini sebagai salah satu contoh keberhasilan negara. Lembaga negara bersatu, mulai BNN, Bea dan Cukai, TNI serta aparat hukum lainnya," sebut Buwas, panggilan akrab Komjen Budi Waseso.
Pihaknya juga mengungkapkan jika BNN bersama lembaga lainnya, selalu serius menumpas peredaran dan bandar narkoba. "Kami tidak pernah main-main tangani narkoba ini. Kalau mau ngajak perang, akan kami layani. Kami akan bertanggungjawab ke negara," urai Buwas.
Bahkan, mantan Kabareskrim Mabes Polri ini menegaskan agar seorang bandar narkoba jangan tangkap dalam posisi hidup alias tembak mati di lapangan. Buwas juga menjamin kepada negara jika itu (tembak mati para bandar narkoba) dilakukan.
Terlepas itu, jaringan narkoba Internasional yang berhasil diungkap di Surabaya, tambah Buwas, akan terus dikembangkan. Sebab pihaknya mensinyalir pelakunya tidak hanya 6 orang saja. "Saya sudah tahu siapa penyuplai (sabu) di Malaysia, nomor telepon dan posisinya juga sudah kami ketahui. Tapi, kita menang tidak menyentuhnya ke Malaysia," sambungnya.
Lantas mengapa, banyak bandar narkoba yang menyasar Indonesia sebagai negara tujuan untuk mengedarkan narkobanya? Buwas secara blak-blakan menyatakan itu terjadi lantaran penindakan dan putusan hukum di Indonesia masih lemah. Sebab menurutnya, banyak bandar yang sudah divonis mati. Tapi tidak kunjung dieksekusi mati," tandasnya.
Bea Cukai Perak akan pelototi jalur laut
Di tempat yang sama, Direktorat Jendral Bea Cukai (DJBC) juga berjanji akan terus memelototi penyelundupan narkoba melalui jalur laut. Sebab fakta bahwa laut menjadi sarana mengirim narkoba sudah terbukti. Faktanya yaitu digagalkannya penyelundupan sabu-sabu seberat 7,3 kilogram yang dikirim dari Malaysia. Penyelundupan narkoba itu berhasil digagalkan oleh BNNP Jatim, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta TNI AL.
Widjayanto, Direktur Penindakan dan Penyidikan 2 Direktorat Jendral Bea dan Cukai, mengaku prihatin dengan masih tingginya peredaran dan penyelundupan narkoba dari luar negeri ke Indonesia. "Untuk itu, kami memberi apresiasi pengungkapan peredaran gelap narkoba di Surabaya dengan barang bukti 7,3 kilogram sabu-sabu ini," katanya.
Masih kata Widjayanta, sabu seberat 7,3 kilogram itu jika dinilai dengan uang rupiah, mencapai nilai 14,6 miliar. Sabu yang dipasok dari Malaysia itu dan diamankan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Menurutnya, jika sampai beredar dan di konsumsi masyarakat Indonesia sangat berbahaya. Sebab jika dikalkulasi, digagalkannya penyelundupan sabu seberat 7,3 kilogram itu, sama halnya menyelamatkan 29 ribu jiwa manusia.
Widjayanto menambahkan, wilayah Jatim dan Indonesia Timur jadi wilayah peredaran subur narkoba. Pada 2017 kemarin, pihaknya mencatat ada sebanyak 370 kasus narkoba yang terjadi. Dan baru saja tahun 2018 dimulai, sabu kembali masuk dalam jumlah lumayan besar (7,3 Kg), meski berhasil digagalkan.
"Dari fakta itu, tantangan kedepan makin berat. Dibutuhkan sinergitas tinggi (solid) antar lembaga negara. Karena peredaran narkoba semakin hari, semakin besar," pinta Widjayanta.
Untuk itulah, Widjayanta meminta agar jalur laut harus terus diawasi dan dijaga ketat. Karena para bandar, pengedar serta kurir kini memanfaatkan jalur laur guna menyeludupkan narkoba ke Indonesia. Tidak hanya jalur laut, pengawasan juga haru dilakukan pada jalur udara dan darat.
Diketahui sebelumnya, penyelundupan sabu-sabu seberat 7,3 kilogram tersebut digagalkan pada Jumat (5/1/2018) malam oleh BNNP Jatim berkerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan TNI AL. Dari penggagalan ini, berhasil ditangkap 6 pelaku yang masuk dalam jaringan narkoba Internasional. Dua diantara 6 pelaku, akhirnya ditembak mati. Yaitu Ibrohim (23) dan Hamit (32). Keduanya diketahui menjadi pengendali (operator) masuknya 7,3 Kg sabu itu dari Malaysia ke Indonesia. bkr

Berita Populer