•   Rabu, 23 Oktober 2019
Surabaya

Komisi A Ingin Langgar Dhuwur jadi Cagar Budaya

( words)
Langgar Dhuwur, masjid berusia 2 abad di perkampungan Lawang Seketeng di Kelurahan Peneleh. FOTO : SP/QOMAR.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sebagai kota dengan sejarah panjang, ternyata di Surabaya masih ada banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang belum tercatat dan terawat dengan baik. Salah satunya adalah Langgar Dhuwur, masjid berusia 2 abad di tengah-tengah perkampungan Lawang Seketeng di Kelurahan Peneleh.

Untuk bisa mencapai masjid dua lantai dengan arsitektur dari seratus persen dari kayu yang masih bertahan sejak era 1800-an itu, para pengunjung harus berjalan kaki dari gang-gang kecil perkampungan Lawang Seketeng. Kendaraan bermotor roda dua pun tidak bisa dinaiki, harus dituntun atau diparkirkan di tepi jalan raya.

Meskipun sudah jelas memiliki sejarah panjang, namun kondisi masjid yang masih kerap digunakan untuk beribadah oleh masyarakat Lawang Seketeng itu tidak terawat. Nampak sekali kayu-kayu bercat putih yang menjadi dinding masjid mulai lapuk dimakan usia.

Seluruh penjuru masjid sangat layak jika disebut sebagai bentangan sejarah dalam dunia arsitektur di masa Kolonial. Pintu dan jendela yang ada di beberapa penjuru masjid terdiri dari satu kayu yang diukir langsung. Bukan beberapa kayu terpisah kemudian dijadikan satu seperti pintu-pintu kebanyakan saat ini.

Begitu juga dengan engsel serta kunci yang digunakan. Engsel berukuran besar khas arsitektur era Kolonial masih terpasang dan berfungsi dengan baik. Sedangkan kunci berukuran besar pun turut masih digunakan hingga saat ini.

Bagaimana dengan struktur bangunan yang digunakan? Kayu merupakan bahan utama dari arsitektur yang ada. Baik lantai satu maupun dua semua kayu yang digunakan masih orisinil sejak terakhir dipugar. Oleh karenanya, faktor usia tidak dapat lagi ditipu. Lapuknya kayu yang juga menjadi penyangga untuk lantai 2 membuat fungsinya tidak bisa lagi optimal.

Khusnul Amin, Lurah Peneleh, mengatakan jika demi keamanan saat ini lantai 2 masjid hanya bisa diisi oleh beberapa orang saja. “Mungkin 5-6 orang. Demi keamanan,” katanya, Kamis (11/10).

Beberapa artefak bersejarah lainnya pun turut dapat ditemukan dengan mudah di seluruh penjuru masjid. Mulai dari pusaka hingga Al Quran yang ditulis pada tahun 1800-an.

“Ada tombak yang menjadi pusaka dan ditemukan bersama dengan masjid ini. Sayangnya itu tidak terawat,”kata Khusnul.

“Lalu ada pula Al Quran bersampul kulit yang sudah ada sejak 1800-an. Ini di tiap lembar halaman pada kertasnya masih ada stempel VOC. Saat ini Al Quran itu sudah dibawa oleh Dinas Arsip untuk diteliti dan dijaga,”tambahnya.

Kondisi memprihatinkan yang dialami masjid bersejarah ini tidak lain dan tidak bukan karena hingga saat ini belum ada sentuhan dari pihak manapun untuk menjaga situs ini. Khusnul Amin mengatakan jika selama ini biaya operasional masjid berasal dari kantong pribadi marbot masjid.

“Yang bertugas menjaga masjid ini juga sehari-harinya tinggal di sini (masjid). Jadi biaya operasional untuk perawatan dan lain lain ya dari dia,”ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan apabila berdasarkan catatan yang ada masjid ini terakhir direnovasi pada medio akhir 1980-an. "Itu kita ketahui dari semacam prasasti yang ada di lantai dua. Disitu tertulis, renovasi terakhir dilakukan di 24 Agustus 1985. Sejak itu ya tidak ada lagi," jelas Khusnul.

Dari kunjungan yang dilakukan oleh beritajatim.com di lokasi, renovasi perlu untuk segera dilakukan demi menyelamatkan situs bersejarah itu. Dinding-dinding kayu yang dipasang menyerupai sisik itu mulai lapuk dan lubang di beberapa bagian. Bisa dipastikan air hujan akan dengan mudah masuk ke dalam lokasi, baik di lantai 1 maupun dua.

Kondisi yang ada, menjadikan Khusnul berharap agar masjid bersejarah itu segera mendapapatkan perhatian. Menurutnya, hal itu demi menjaga keberlanjutan sejarah panjang yang ada di kawasan Peneleh maupun Kota Surabaya.

"Tidak harus dari pihak Pemkot Surabaya, dari pihak-pihak lain pun oke. Yang penting bisa ada perbaikan segera. Masjid ini hanya sekelumit kecil dari banyak sejarah yang belum terungkap dari kawasan Peneleh. Itu juga perlu eksplorasi lebih lanjut lagi," tegas Khusnul.

Untuk menanggapi hal itu Budi Leksono selaku Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Budi Leksono memastikan jika akan ada perhatian khusus yang diberikan. Situs bersejarah, menurutnya tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Ini kan temuan ya. Tentu akan kita tindak lanjuti. Seperti jika ada Al Quran dengan cap VOC tadi, lalu untuk menjaga arsitektur bangunannya,” kata pria yang akrap disapa Bulek ini ketika berkunjung ke lokasi bersama dengan

Politisi PDIP yang juga Caleg DPRD Kota Surabaya Dapil 1 dengan nomor urut 2 itu turut memastikan agar proses pelestarian masjid Langgar Dhuwur bisa berjalan sebagaimana mestinya. "Pihak-pihak terkait akan kita gandeng dan libatkan agar semuanya bisa berjalan dengan baik," pungkas Budi. alq

Berita Populer