Koalisi MA Mulai Kasak-Kusuk

Laporan Tim Wartawan Surabaya Pagi
SURABAYAPAGI, Surabaya – Mantan Kapolda Jatim Irjen (Pol) Pol Machfud Arifin (MA) yang hingga kini belum memiliki calon wakil walikota (Cawawali) pada Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020, mengundang tanya. Padahal, MA paling awal mendeklarasikan sebagai calon walikota (Cawali) Surabaya

Yang didukung lima parpol, yakni PKB, Gerindra, PAN, Demokrat, dan PPP. Kemudian menyusul dukungan dari Partai Nasdem. Spekulasi yang beredar, ada dugaan konflik internal koalisi besar karena masing-masing parpol pengusung mengajukan calon sebagai pendamping MA. Dugaan lainnya, koalisi MA ini

Masih menunggu siapa pasangan calon yang direkom DPP PDI Perjuangan.

Seperti diketahui, PKB sempat menyodorkan Badrut Tamam, Sekretaris DPW PKB Jawa Timur yang juga Bupati Pamekasan, untuk mendampingi Machfud Arifin di Piwali Surabaya yang digelar September 2020 nanti. Bahkan, Wakil Ketua DPW PKB Jawa Timur Anik Maslachah mengatakan, beberapa kader telah

Disiapkan untuk posisi Cawawali Surabaya. Hanya saja, PKB masih menunggu keputusan dari partai politik lainnya.

Sedang Partai Gerinda munculkan dua nama untuk diduetkan dengan Machfud Arifin, yakni dr Gamal Albinsaid, mantan tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno dan K.H Zahrul Asumta (Gus Hans) yang dikenal sebagai orang dekat Gubernur Khofifah.

Tak heran jika PKB dan Gerindra ngotot majukan kadernya sebagai calon pendamping MA. Sebab, dua parpol ini paling banyak meraih suara di Pileh 2019 lalu. PKB punya perolehan suara di Pileg 2019 dengan total 153.509 (5 kursi) dan Gerindra 128.016 suara (5 kursi). Sedang Demokrat 119.783 suara (4 kursi), PAN 78.263 suara (3 kursi), dan PPP 56.242 suara (1 kursi).

Namun di sisi lain, Presiden Persebaya Azrul Ananda juga dinilai layak mendampingi Machfud Arifin. Apalagi, jika PDIP benar-benar merekom Kepala Bapeko Surabaya Eri Cahyadi di Pilwali Surabaya 2020. Sebab, Eri dikenal pejabat muda yang memiliki pendukung di kalangan milenial. Namun, putra Dahlan

Iskan itu menegaskan tak niat berpolitik. Bahkan, kalangan Bonek sudah me-warning Azrul Ananda maupun Machfud Arifin.

Ali Sahab, dosen Ilmu Politik Unviersitas Airlangga (Unair) Surabaya, melihat adaconflict of interest di internal koalisi MA sehingga belum diputuskannya siapa Cawawali-nya. Menurutnya, bisa saja konflik itu karena calon yang diajukan parpol pengusung belum diterima oleh MA.

"Saya rasa konfliknya diantara partai pengusung untuk berebut jadi wakilnya. Apalagi misalnya MA ambil wakil dari kalangan luar partai seperti Azrul Ananada. Tetapi kalau MA bisa komunikasi baik dengan partai pengusung, maka konflik itu tidak akan terjadi," ungkap Ali Sahab kepadaSurabaya Pagi, Kamis (19/3/2020).

Ketika ditanya siapa calon yang layak mendampingi MA, Ali Sahab menuturkan bahwa Azrul Ananda merupakan calon yang cocok untuk mendampingi MA dari skala popularitas di luar PDIP. "Kalau melihat popularitas dan di luar PDIP, ya Azrul," sebut Ali.

Tidak Nyerimpeti

Ketua Tim Pemenangan Machmud Airifn di Pilwali Surabaya, Miratul Mukminin alias Gus Amik mengaku belum ada kesepakatan soal calon yang akan mendampingi MA sebagai Cawawali. "Belum ada kesepakatan dengan partai pengusung. Semua boleh usulkan nama dari masing-masing partai, tapi semua

Menyerahkan keputusan kepada Pak MA," tandas Gus Amik saat dikonfirmasiSurabaya Pagi, semalam.

Ia menambahkan calon pendamping MA bisa berasal dari segala unsur. Baik kader parpol maupun non-parpol. "Calon bisa berasal dari unsur apa saja, partai, non partai, birokrat, tokoh milenial, tokoh wanita dan sebagainya. Prinsipnya, siapapun yang dipilih jadi wakil harus bisa ikut nambah suara dan tidak

nggandoli. Juga nantinya jika jadi bisa bahu-membahu membangun Surabaya dan tidak malahnyerimpeti," papar Gus Amik.

Peluang dr. Gamal

Sementara itu, Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Kota Surabaya AH Tony mengatakan pihaknya memberikan kesempatan kepada semua partai pengusung untuk mengusulkan nama wakil yang bisa mendampingi MA di Pilwali Surabaya 2020. “MA yang sudah muncul dan mensosialisasikan di berbagai tempat.

Untuk wakilnya juga begitu, terbuka untuk semua partai. Logikanya, calon yang akan diambil Pak Machfud tentu diputuskan bukan karena desakan dari partai, tetapi berdasakan pilihan-pilihan rasional,” ungkap Ah Thony dihubungi terpisah, kemarin.

Pertimbangan rasional, lanjut Thony, juga mempertimbakan kemungkinan dari Golkar untuk bergabung dengan enam parpol mengusung MA. Dari calon-calon yang muncul diberi kesempatan berdasarkan dukungan terbanyak. “Kedua, memiliki komitmen untuk kepentingan dan kemajuan Surabaya ke depan.

Ketiga memiliki konsep-konsep yang bisa menjawab permasalahan kota. Supaya saling bekerja keras, bahu-membahu untuk mempopularitaskan dirinya,” paparnya.

Nantinya, masih kata Thony, akan dilakukan survei agar diketahui siapa calon yang tingkat elektabilitas tinggi, untuk dipilih oleh partai dan MA.

Menurut Thony, ada beberapa nama yang disodorkan Gerindra, terutama mereka yang sudah mendaftar ke partai berutan Prabowo ini. “Didalamnya juga termasuk dr. Gamal. Tetapi persoalannya dr. Gamal kan maju dengan spirit sebagai Walikota, namun kalau beliaunya berkenan nanti kita diskusikan. Karena

Pertimbangannya mas dokter ini masih muda, yang kedua adalah masa depan politiknya masih panjang. Barang kali berkenan bisa saja mas dokter kita usulkan dengan catatan mas dokter mau,” jelasnya.

PKB dan PAN

Mahfudz dari Fraksi PKB DPRD Kota Surabaya menegaskan hingga saat ini belum ada calon wakil walikota sebagai pendamping Machfud Arifin. PKB, lanjutnya, menginginkan posisi itu disepakati bersama parpol pengusung. “Jadi tidak mengajukan satu per satu partai, tetapi nanti akan ada kesempatan

Bersama, sehingga tidak mungkin ditolak. Karena sudah ada kesepakatan bersama koalisi partai dengan MA,” ungkapnya.

Ketua DPD PAN Kota Surabaya, Hafidz Suadi, mengungkapkan hal sama. “Sampai hari ini calon wakil walikota belum diputuskan,” ujarnya. “Nanti diputuskan Pak MA dengan ketua-ketua partai yang ada. Cuma sampai hari ini belum disikapi berkaitan dengan nama,” imbuh dia.

Meski begitu, menurut Hafidz, MA pernah mengatakan ia membutuhkan pendamping yang mengerti birokrasi pemerintahan. “Yang jelas Pak MA pernah bilang untuk kriterianya, dia (Cawawali, red) yang mengerti administrasi pemerintahan, berkaitan dengan anggaran, dan birokrasi lainnya. Itu saja,” sebut dia.n byt/alq/rko