KOALISI GEMUK TAK TERBENDUNG

SURABAYA PAGI, Surabaya - Koalisi besar parpol yang bakal mengusung Machfud Arifin di Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020, seoalah tak terbendung. Manuver PAN yang memberikan rekomendasi kepada mantan Kapolda Jatim itu, ternyata diikuti Partai Gerindra dan PKB. Bahkan, Partai Demokrat mengirim sinyal kuat mendukung Machfud Arifin. Dari ke-4 parpol ini memiliki kekuatan 17 kursi di DPRD Kota Surabaya, yang berarti lebih dari cukup untuk mengusung pasangan calon (paslon). Sedang PDI Perjuangan (PDIP) yang memiliki 15 kursi, justru belum jelas siapa yang bakal diusung sebagai calon walikota (Cawali) pengganti Tri Rismaharini. Sikap PDIP Surabaya ini masih menunggu keputusan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, baik terkait rekom calon maupun arah koalisi atau tidak. Sementara Partai Golkar, PSI, Nadem, PKS dan PPP masih malu-malu mengungkap siapa jagoan mereka. Ke-4 parpol ini memiliki 17 kursi. Jika PDIP tak berkoalisi, maka berpotensi memunculkan poros baru.
------------------
Demikian peta politik menjelang Pilwali Surabaya 2020 yang dihimpun Surabaya Pagi dari kalangan pengurus parpol, akademisi, maupun bakal calon walikota (Bacawali) dan bakal calon wakil walikota (bacawawali) Surabaya, Kamis (23/1/2020).

Di atas kertas, PDIP sebagai pemenangan Pemilu 2019 di Kota Surabaya berada di atas angina. Siapapun calon yang diusung PDIP nantinya, dinilai berpotensi menang. Sayangnya, hingga kini partai berlambang banteng moncong putih ini tak kunjung mengumumkan siapa calon mereka.

Namun calon yang mendaftar ke PDIP, seperti Whisnu Sakti Buana (Bacawali) dan Armuji (Bacawawali) tetap gencar turun ke masyarakat. Bahkan, Armuji yang mantan Ketua DPRD Surabaya terang-terangan melakukan sosialisasi duet Eri Cahyadi-Armuji (Erji).

Terkait hal ini, Ketua Tim Penjaringan Gerindra Surabaya, Bagiyon, mengakui kalau PDIP bakal menjadi lawan yang sengit dalam Pilwali Surabaya mendatang. Sebagai penguasa kursi terbanyak parlemen, PDIP jelas percaya diri. Namun begitu, Bagiyon tidak mau berspekulasi mengenai siapa yang bakal jadi lawan mereka. Dia lebih memilih untuk fokus dengan persiapan partai sendiri.

Demi memenangkan pertarungan dengan calon dari PDIP, Macfud Arifin mesti dipasangkan dengan sosok yang punya daya ungkit elektabilitas. Untuk itu, Gerindra Surabaya mengusulkan tiga nama yang bisa digodok guna mendampingi Machfud Arifin. Ketiga nama itu antara lain, Zahrul Azhar As’ad (Gus Hans) yang juga Wakil Ketua DPD Golkar Jatim. Lalu ada nama Hariyanto, Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Surabaya. Dan terakhir adalah Gamal Albinsaid, pengusaha yang mantan Tim Sukses Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 lalu.

"Kalau dari kami usulannya tiga nama itu," ungkap Bagiyon kepada Surabaya Pagi, Kamis (23/1) kemarin.

Walau begitu, tiga nama tersebut belum disampaikan kepada partai koalisi. Meski demikian, lobi-lobi tingkat partai masih terus dipelihara. Pasalnya, untuk membangun koalisi, diperlukan kesepakatan-kesepakatan. Untuk diketahui, PAN sendiri sudah menyerahkan sepenuhnya posisi wakil kepada Machfud Arifin. PKB sendiri berkehendak posisi orang ke-2 harus dari kalangan santri.

Golkar Masih Survei
Di lain pihak, Golkar berniat untuk mengusung kadernya, baik untuk posisi bacawali maupun bacawawali. Jika ditinjau dari masing-masing kehendak partai itu, maka Gus Hans adalah sosok yang paling berpotensi menarik minat koalisi.

Hanya saja, Golkar belum menentukan arah politiknya apakah mengikuti koalisi besar mengikuti jejak PAN, Gerindra, PKB, dan Demokrat. “Belum, kita tunggu saja, kita masih menunggu arahan DPD dan DPP,” ungkap Ketua Bappilu DPD Partai Golkar Surabaya, Arif Fathoni.

Sebelumnya, Arif Fathoni mengatakan, Golkar menyiapkan tiga tokoh untuk diusung sebagai cawali Surabaya. "Yang pasti kader internal ada Gus Han, kemudian 2 lagi dari luar kader. Kami tidak bisa menyebut nama, tunggu saja kejutannya," ungkap anggota Komisi A DPRD Surabaya ini.

Menurut dia, Golkar memberikan keleluasaan kepada para tokoh yang berpotensi untuk menyapa masyarakat. "Kita akan menilai elektabilitas mereka dari hasil survei oleh lembaga survei yang kita ajak bekerjasama," terangnya.

Tiga tokoh itu nantinya akan kita tawarkan komunikasikan dengan partai lain. "Kita tawarkan dan kita kolaborasikan ke partai lain untuk berkoalisi. Karena Golkar memang harus berkoalisi karena hanya mendapatkan 4 kursi di dewan" ujarnya.
**foto**
PSI dan PPP Belum Bersikap
Sementara itu, Ketua DPC PSI Surabaya, Josiah Michael mengatakan hingga saat ini PSI belum akan bergabung dengan kekuatan manapun. “Belum mas, semua masih cair kondisinya. Yang pasti, kami akan mencari figur calon wali kota terbaik demi warga Surabaya. Ya, tunggu saja sampai tahapan konvensi selesai dan ada rekom dari DPP,” ungkapnya dihubungi terpisah, Kamis (23/1) .

Michel menjelaskan sementara itu untuk saat ini pihaknya fakus untuk menyelesaikan tahapan wawancara. Sebanyak 16 bakal calon wali kota (bacawali) dan bakal calon wakil wali kota) yang lolos seleksi administrasi pada konvensi Pilwali Surabaya 2020 yang digelar DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI), akan menghikuti tahapan tes wawancara.

“Yang lolos tahap seleksi administratif 16 orang, yang confirm hadir pada tahap wawancara tanggal 19 Januari lalu ada 14 orang, tapi yang datang pada saat wawancara hanya 12,” ungkapnya.

Adapun 16 pendaftar yang lolos seleksi administrasi adalah Vinsensius Awey, Ngatmisih, Dwi Astutik, Hariyanto, Ditha Galih Prakoso, Agustiawan Arie, Firmansyah Ali, Gunawan, Sally Azaria, Soetjipto Angga Joe, Fendy Pratama, Zahrul Azhar Asumta, Sudjadi, Budi Santoso, Heri Puswanto, dan Ali Azhara. "Kita benar-benar ingin netral dan ingin calon terbaik," tandas Josiah.

PPP juga belum menentukan sikap. Sejauh ini partai yang hanya memiliki 1 kursi di DPRD Surabaya ini, masih menunggu arahan dari DPW PPP Jatim dan DPP PPP. “Kita Tunggu saja. Kita menunggu dari rekom DPW dan DPP dulu, mungkin minggu depan,” kata Ketua DPC PPP Kota Surabaya Buchori Imron.

PDIP Buka Peluang
Berbekal 15 kursi legislatif, PDIP Surabaya sudah melebihi ambang batas minimal yaitu 10 kursi untuk mengusung salah satu Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya. Namun begitu, Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, Adi Sutarwijono mengungkapkan bahwa PDIP tidak menutup peluang koalisi dengan partai lain di Pilwali Surabaya 2020.

Adi menejelaskan, pihaknya akan menunggu instruksi dari partai karena semua keputusan berada di tangan DPP PDIP. "DPC PDPI Surabaya hanya diberi mandat sebatas melakukan penjaringan calon dan menyiapkan infrastruktur pemenangan," kata Awi, sapaan akrab Adi Sutarwijono.

Menurut Awi, saat ini PDIP Surabaya tengah fokus menyentuh dan menyapa langsung masyarakat serta membentuk pengurus anak ranting ditingkat RW.
"Kita juga mengenalkan program-program untuk menyelesasikan persoalan masyarakat. Seperti persoalan pendidikan, kesehatan dan pembenahan infrastruktur lainnya" jelasnya.

Peluang Rekom PDIP
Meskipun rekom dari DPP PDIP belum turun, namun Armuji tetap gencar melakukan sosialisasi menghadapi Pilwali Surabaya 2020 ini. “Rekom itu urusan DPP dan Ketua Umum, kita sebagai kader harus melaksanankan perintah itu dengan tegak lurus, siapapun yang akan direkom nantinya,” ungkap Armuji, kemarin.

Armuji yang sekarang menjadi anggota DPRD Jatim ini mengatakan, dalam memperoleh rekom tersebut, setiap kader PDIP mempunyai peluang yang sama.

Armuji tak lagi sembunyi-sembunyi soal keinginannya menggandeng Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi dalam pilwali Surabaya tahun ini. “Ini hanya keingin saya,” terangnya.

Menurut Armuji apa yang dilakukan itu tidak menyalahi aturan, karena itu adalah inisiatifnya. “Di mana salahnya ? itu hanya keinginan-keingin saya sendiri,” tandasnya.

Armuji mengaku dalam beberapa sosialisai pilwali Surabaya dimana Eri Cahyadi berpasangan dengan dirinya itu tersebut tanpa sepengetahuan dari Eri Cahyadi. “Saya belum berkomunikasi dengan dia (Eri Cahyadi), ini hanya sebuah wacana keinginan saya. Dalam tradisi Surabaya ini, di mana politisi bergandengan dengan birokrasi,” tutur politisi yang akrab disapa Cak Ji.

Cak Har Lirik PSI
Terpisah, bacawali Hariyanto mengaku tetap menghormati mekanisme kepartaian dalam memilih jagoan mereka. Walau demikian, Ketua DPC Peradi Surabaya ini masih berharap bisa mengantongi rekom dari PSI. Oleh sebab itu, dia menegaskan tidak akan mengambil jalan perseorangan (independen).

Optimisme Cak Har, begitu Haryanto akrab disapa, bukannya tanpa alasan. Menurutnya, konsep Surabaya Bahagia yang diusung bakal menarik perhatian publik. Surabaya Bahagia, menurut Hariyanto merupakan sebuah gagasan tentang tatanan masyarakat kota yang memiliki kesadaran untuk bekerja dengan cerdas, tuntas, dan ikhlas.

“Kebahagiaan menurut saya merupakan hasil dari bagaimana kita bisa bekerja bersama, solider, semangat membangun, bertanggung jawab, dan tentu tunduk dan ikhlas dengan apapun hasil dari upaya maksimal kita,” jelas Hariyanto.

Demi mewujudkan cita-citanya itu, Haryanto hanya memilih kemenangan dan enggan duduk di posisi kedua sebagai cawawali. "Saya belum ada rencana ke sana (bacawawali)," terang Hariyanto.n alq/rga