•   Minggu, 5 April 2020
Pemprov Jatim

Kemiskinan di Jawa Timur Turun 0,48 Persen

( words)
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jatim Sukesi menyapa para penerima PKH Plus pada acara pembukaan Bimbingan dan Pemantapan Pendamping dan Operator PKH Plus Jaminan Sosial Lanjut Usia yang diselenggarakan Dinsos Jatim, di Hotel Mercure Surabaya, Selasa (16/7/2019) malam.


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membayangkan bila setiap 6 bulan angka kemiskinan di Jawa Timur turun 0,48%. Dengan penurunan yang kontinyu, maka selama 5 tahun bisa mencapai 4,5%.

"Ini kembali lagi ke mission imposible dan bisa menjadi possible karena ada pendamping PKH plus yang luar biasa," ujar Khofifah saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Bimbingan dan Pemantapan Pendamping dan Operator PKH Plus Jaminan Sosial Lanjut Usia yang diselenggarakan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di Hotel Mercure Surabaya, Selasa (16/7/2019) malam.

Gubernur mengakui penurunan angka kemiskinan kali ini sangat signifikan yaitu 0,48%, dibanding dengan Maret 2018 ini turun 0,61% dalam setahun, tapi penurunan sangat signifikan terjadi pada 6 bulan terakhir, penurunannya bisa mencapai 0,48%.

Lebih jauh Khofifah mengatakan akan lebih mendalami serta mengkaji, kenapa terjadi penurunan yang sangat signifikan di 6 bulan terakhir ini. Gubernur juga menghimbau kepada pihak yang terlibat PKH Plus ini untuk terus maju dan mensejahterakan masyarakat miskin di seluruh Jawa Timur.

“Niatkan bismillah, pendamping PKH akan berusaha mengentaskan masyarakat yang awalnya miskin menjadi masyarakat sejahtera, jadi jika masyarakatnya sejahtera maka pendampingya juga sejahtera" pesan perempuan yang juga Ketua Umum Muslimat NU ini disambut applaus dari tenaga pendamping PKH.

Dalam peluncuran PKH Plus kemarin, secara rinci ia mengakui angka kemiskinan di Jawa Timur mulai menyusut dengan adanya Progam Keluarga Harapan (PKH) sampai dengan bulan Maret 2019. Penurunan ini juga didukung oleh peran para pendamping dan operator PKH yang bekerja keras memberikan pendampingan kepada para penerima.

"Yang kita lakukan hari ini adalah inisiatif panjang yang banyak pihak menyebutkan ini adalah mission imposible, tetapi untuk menjadikan possible kita mempunyai harus pendamping PKH yang luar biasa" jelasnya.

Di hadapan 1082 orang tenaga pendamping dan operator PKH dari 10 kabupaten ini, gubernur mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di atas rata-rata nasional, akan tetapi ternyata jumlah angka kemiskinan di Jatim menduduki rangking pertama provinsi di Indonesia.

"Awalnya angka kemiskinan Jawa Timur tahun 2018 berada pada angka 10,85% dan sekarang menjadi 10,37%, ini membuktikan bahwa angka kemiskinan di Jatim sudah turun menurut data BPS sampai dengan Maret 2019," pungkasnya. (arf)

Berita Populer