Kematian George Floyd Disebut Sebagai Pembunuhan Berencana

Derek Chauvin, yang berkulit putih, terlihat dalam rekaman video sedang menginjak leher George Floyd, 46 tahun, dengan menggunakan lututnya, hari Senin lalu. SP/ (Getty Images)

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Pengacara keluarga George Floyd, yang kematiannya menimbulkan demonstrasi di seluruh AS, menyebut insiden itu adalah pembunuhan berencana.

Si polisi yang menindih lehernya, Derek Chauvin, ditangkap pada Jumat (29/5/2020) dan dikenakan dengan dakwaan pembunuhan tingka tiga.

Namun kepada CBS News, sang pengacara Benjamin Crump menyebut seharusnya pasal yang paling tepat bagi Chauvin adalah pembunuhan tingkat satu.
Kami pikir bahwa dia memang sengaja, karena dia menindih leher hampir sembilan menit. Padahal Floyd sudah memohon dan mengaku tak bisa bernapas," kata dia. Dalam video yang viral, Derek Chauvin terus menindih leher Floyd dengan tangannya dimasukkan ke kantong pada Senin waktu setempat (25/5/2020).

Crump menjelaskan, faktanya adalah polisi berusia 44 tahun itu terus menekan tubuh Floyd selama tiga menit setelah dia tidak sadar. "Kami tidak mengerti mengapa ini tak dimasukkan pembunuhan kelas satu. Kami tak mengerti mengapa tidak semua polisi di sana ditahan," ujar dia heran.

Dilansir BBC Minggu (31/5/2020), Crump menyebutkan bahwa mereka sudah mengantongi rekaman suara dari kamera yang dipasang di seragam penegak hukum.
Dia memaparkan dalam salah satu tayangan, terdengar ada kolega Chauvin yang memberi tahu bahwa dia tidak merasakan denyut Floyd. Saat itu, si kolega menyarankan agar posisinya dibalik.

Namun, Chauvin menyatakan bahwa mereka harus tetap mempertahankan posisinya seperti itu. "Itu jelas disengaja. Selain itu, faktanya adalah petugas Chauvin terus menekankan lututnya selama tiga menit setelah Floyd tidak sadar," papar Crump.

Dia juga menerangkan, keluarga Floyd diberi tahu bahwa pria 46 tahun itu dan Chauvin ternyata sudah saling mengenal satu sama lain. Keluarga Floyd disebut sudah menerima kabar bahwa Chauvin adalah petugas yang sedang tak bekerja di sebuah kelab, dengan Floyd merupakan penjaga keamanannya.
Demonstrasi besar terjadi di 30 kota seantero AS, di mana yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kerusuhan pada Sabtu (30/5/2020).

Beberapa kota pun menerapkan jam malam, seperti Los Angeles, Minneapolis, Chicago, Denver, Atlanta, San Francisco, hingga Seattle. Di Los Angeles, Gubernur California Gavin Newsom mengumumkan keadaan darurat, dengan pasukan Garda Nasional dikerahkan.

Keputusan itu diambil setelah sejumlah toko dijarah, termasuk di kawasan terkenal Melrose and Fairfax, dengan ada tempat yang dibakar.
Di Salt Lake City, Reuters melaporkan seorang pria yang mengarahkan busur serta anak panah ke arah pendemo berakhir dengan dia dihajar.

Dikutip dari CNN, Penasihat keamanan nasional AS, Robert O'Brien,  meyakini bahwa polisi rasis sudah mengakar dalam sistem penegakan hukum mereka. "Jelas ada polisi rasis. Namun, saya pikir mereka sifatnya minoritas.

Mereka inilah yang memberikan contoh buruk dan kami harus membasminya. Tak hanya di AS, unjuk rasa menyikapi tewasnya Floyd di tangan Chauvin juga terjadi di Inggris, di mana mereka mengabaikan lockdown virus corona.

Ribuan orang mengabaikan aturan pembatasan sosial dengan berkumpul di Lapangan Trafalgar, sebelum berpindah ke Kedutaan Besar AS.

Apa tanggapan resmi?

Tidak lama setelah insiden ini melahirkan kemarahan publik, ada sejumlah aparat kepolisian yang terkait insiden dipecat. Ketika itu, wali kota Jacob Frey mengatakan langkah memecat pada petugas itu "sudah tepat.

Katanya: "Berkulit hitam di Amerika bukan alasan untuk dibunuh. Selama lima menit kita menyaksikan petugas polisi kulit putih menekan lututnya ke leher seorang pria kulit hitam. Lima menit. Ketika kita mendengar seseorang minta tolong, kita seharusnya menolong."

Polisi Federal Amerika atau FBI menyelidiki kejadian ini dan akan menyampaikan temuan mereka kepada kejaksaan Minnesota untuk mencari kemungkinan adanya kejahatan federal.

Senator Minnesota Amy Klobuchar menyerukan adanya penyelidikan menyeluruh. Katanya: "Keadilan harus ditegakkan untuk pria ini dan keluarganya, keadilan harus ditegakkan di masyarakat, keadilan harus ditegakkan di negara kita."

Banyak seruan agar para petugas ini dituntut dengan tuntutan melakukan pembunuhan.

Mengapa kasusnya sangat sensitif?

Tuduhan kebrutalan polisi kerap disorot sejak gerakan Black Lives Matter. Ini bermula sesudah dibebaskannya petugas ronda lingkungan George Zimmerman sehabis ia menembak mati seorang remaja Afrika-Amerika Trayvon Martin bulan Februari 2012.

Kematian Michael Brown di Ferguson dan Eric Garner di New York tahun 2014 memicu protes massal.

"Saya tak bisa bernapas" menjadi seruan protes nasional sesudah Garner, seorang pria tak bersenjata, melontarkannya saat ditahan polisi dengan cara dicekik karena dituduh menjual rokok ketengan secara ilegal.

Petugas polisi Kota New York yang terlibat dalam pembunuhan Garner dipecat lima tahun kemudian, tapi tak ada yang dituntut hukuman.

Peristiwa terbaru kebrutalan polisi adalah penembakan terhadap seorang perempuan kulit hitam di rumahnya di Louisville oleh tiga orang polisi kulit putih dari Kentucky. Lalu ada pula penembakan seorang pria oleh petugas polisi di Maryland.

Kepolisian di Georgia juga dituduh mencoba menyembunyikan pembunuhan terhadap seorang pemuda kulit hitam yang gemar berolahraga lari, Ahmaud Arbery, yang ditembak sampai mati oleh anak dari seorang pensiunan polisi.

Paige Fernandez dari organisasi American Civil Liberties Union, berkomentar soal kasus terbaru di Minnesota ini: "Video tragis ini memperlihatkan sedikit sekali perubahan yang terjadi yang mungkin bisa menghalangi polisi mengambil nyawa orang kulit hitam." (bbc/cnn/dc/reuters/kmp/cr-05/dsy)