•   Selasa, 7 April 2020
Pilpres 2019

Kasus Ratna Mirip Strategi Sun Tzu

( words)


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Aktivis dan seniman Ratna Sarumpaet yang mengaku dihajar tiga pria hingga babak belur, diyakini terkait Pilpres 2019. Ini menjadi momentum kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk melontarkan isu kekeraan terhadap perempuan yang terjadi di era Presiden Jokowi. Terlebih lagi, ibunda dari artis Atiqah Hasiholan itu ikut gerakan #2019GantiPresiden dan sekarang menjadi Jurkamnas pasangan capres-cawapres nomor urut 02.
Demikian diungkapkan pengamat politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Machfud Fauzi, Direktur Surabaya Survei Center (SSC) Mochtar W Oetomo dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokhim Abdussalam.
Mochtar W Oetomo menyebut ada kejanggalan dari kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet. Sebab selama ini, lanjut Mochtar, masyarakat mengenal Ratna sebagai aktivis yang tidak mengenal rasa takut kepada siapapun. "Untuk orang penting dan sekaliber Ratna itu aneh setelah dianiaya selama 9 hari baru di publik karena alasan trauma," beber Mochtar kepada Surabaya Pagi, Selasa (2/10/2018).
Lebih lanjut, Mochtar mengibaratkan kasus Ratna ini seperti teori perang China Sun Tzu dengan “melukai diri sendiri". Nah bisa jadi ini salah satu strategi yang dilakukan Ratna Sarumpaet untuk mendapat simpati publik. "Publik akan menilai ini adalah perbuatan lawan politik (Ratna). Lawan dari Ratna ini adalah pemerintahan Jokowi," tandas dia.
Melukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh ini Ini merupakan strategi ke-34 dari 36 Strategi Sun Tzu. Tindakan yang drastis dengan pengorbanan yang luar biasa untuk mendapatkan kepercayaan musuh, lalu saat lengah menusuknya dari belakang.
Terpisah, Agus Machfud Fauzi melihat ada banyak spekulasi yang berkembang setelah viral foto Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya. Menurutnya, ini momen tepat bagi Ratna setelah menjadi korban persekusi. "Kita tidak tahu apa di balik itu (penganiayaan Ratna Sarumpaet, red). Tapi kalau itu menjadi instrumen politik, maka keamanan Ratna sangat penting. Dua kubu (Prabowo maupun Jokowi) sama-sama membutuhkan," papar Agus.
Di satu sisi, kubu Jokowi-Ma’ruf Amin membutuhkan Ratna untuk membuktikan benar an tidaknya penganiayaan itu. Jika benar, tentu harus ada tindakan tegas terhadap pelakunya. Sedang kubu Prabowo, isu penganiayaan menjadi amunisi baru, mengingat politik identitas sudah tak laku. Apalagi, Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab sudah dicekal di Arab Saudi.
Sedang Surokhim Abdussalam mengatakan jika penganiayaan terhadap Ratna tidak terbukti, maka akan menjadi blunder bagi kubu Prabowo-Sandi. Namun jika memang penganiayaan itu benar-benar terjadi dan dilakukan oleh kelompok lawan politiknya, akan menguntungkan dirinya.
"Jika kemudian diteliti oleh publik dan itu tidak benar, maka akan merugikan Ratna sendiri. Namun jika yang terjadi adalah itu upaya membungkam nalar kritis Ratna Sarumpaet, maka yang terjadi adalah akan merugikan bagi pihak pemerintah Jokowi," papar dia. n qin

Berita Populer