Karir Dimulai dengan Berdagang Keliling di Madura

Susilo Wonowidjojo bos Gudang Garam yang Jadi Orang Terkaya ke-2 di Indonesia

Susilo Wonowidjojo atau Cao Daoping dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, pada 18 November 1956 menempati urutan kedua versi Forbes dalam daftar 50 orang terkaya yang memiliki harta sebesar 9,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 133 triliun rupiah. Ayah Susilo, Tjoa Jien Hwie atau Surya Wonowidjojo, datang langsung dari Cina, tepatnya dari Fujian. Surya menetap di Sampang, Madura, sejak 1926, dan memulai usahanya sebagai pedagang keliling.

Kontributor Surabayapagi, Jaka Sutisna

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Sejak awal kedatangannya, Ayah Susilo yang bernama Surya Wonowidjojo (Tjoa Jien Hwie), telah menetap di Pulau Garam Madura sejak 1926. ia memulai usahanya sebagai pedagang keliling. Tak lama, Surya kemudian pindah ke Kediri dan bekerja di pabrik rokok Cap 93 milik pamannya, Tjoa Kok Tjiang. Hingga pada usia 35 tahun, Surya membuat pabrik rokok klobot dengan label Ing Hwie bersama 50 mantan karyawan pamannya. Di sinilah cikal bakal Gudang Garam dimulai.

Pabrik tersebut didirikan pada 26 Juni 1958 di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi. Surya memimpin pabrik ini hingga akhir hayatnya. Setelah kematian Surya, putra pertamanya yang bernama Tjoa To Hing atau Rachman Halim (kakak Susilo) meneruskan kepemimpinan pabrik rokok keluarga yang nantinya dikenal dengan nama Gudang Garam itu. Rachman wafat pada 27 Juli 2008.

Setahun setelah kematian Rachman, Susilo yang kala itu berposisi sebagai wakil presiden direktur ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Gudang Garam menggantikan kakaknya. Susilo sendiri sudah menjabat sebagai salah satu direktur sejak 1976 hingga 1990.

Semasa kepemimpinan Susilo, ia mengembangkan mesin khusus untuk memproduksi rokok kretek. Berlanjut pada 2002, ia berhasil membuat rokok kretek mild pertama yang mengandung nikotin dan tar berkadar lebih rendah. PT Gudang Garam pun melesat di panggung industri rokok nasional dan Gudang Garam Terus melesat naik hingga pada 2013. Gudang Garam menguasai seperlima pasar tembakau di Indonesia dan mempekerjakan sekitar 36.000 pekerja. Produksinya pun mampu mencapai 70 miliar batang rokok tiap tahun dan dipasarkan hingga ke luar negeri.

Selain mengembangkan pasar Rokok PT. Gudang Garam mulai merambah dunia perbankan, properti, elektronik, hingga teknologi digital. Susilo juga bekerja sama dengan Angkasa Pura II dan Kementerian Perhubungan RI untuk mengembangkan bandara internasional di Kediri. Sejak 15 Oktober 2010, Gudang Garam merintis usaha penerbangan niaga dengan label Surya Air.

Selain berhasil membawa PT. Gudang Garam dalam masa keemasan yang terus bersinar hingga saat ini, Susilo juga berhasil mendirikan beberapa perusahaan lain seperti, PT Prasidha Intijaya (properti), PT Dutikon Sejahtera (konstruksi), PT Jatipurna Artindo Design (produk kayu), PT Perfectindo Pratama Plastic (botol plastik), dan Agro Green Up (pupuk kompos) yang berhasil ia pimpin hingga akhir tahun 1992.

Pada 1993, Susilo mendirikan PT Matahari Kahuripan Indonesia (Makin), yang kemudian mengakuisisi 10 unit usaha Grup Antang milik Mochtar Ramlie. Ke-10 unit usaha itu di antaranya bergerak di sektor pertanian dan perkebunan, kehutanan dan perkayuan, pertambangan, hingga kimia.

Melalui Grup Makin, Susilo membuka usaha perkebunan kelapa sawit di Jambi. Selama 2005-2008, Susilo menggelontorkan dana hingga Rp2,28 triliun untuk mengelola perkebunan kelapa sawit di lahan seluas 74 ribu hektar. Susilo juga mengembangkan investasi lain dengan membangun perumahan di Pasuruan, mengembangkan kawasan wisata di Tabanan-Bali, memproduksi sigaret kretek tangan, serta usaha logam dan industri kertas.

Suami dari Melinda Setyo sekaligus ayah dari 4 orang anak ini adalah seorang pengusaha yang ramah. Ia sosok yang murah hati kepada saipa saja, baik kelas bawah maupun atas. Selain bersikap ramah, ia juga terkenal sebagai orang yang dermawan. Ia suka membantu orang yang tidak mampu.