•   Jumat, 22 November 2019
Pilwali 2020

Kandidat Pilwali Tebar Pesona

( words)
Baliho Dyah Katarina, Herlina Harsono Njoto, dan Armuji yang mulai bertebaran di Kota Surabaya.


Rangga Putra-Alqomar,
Wartawan Surabaya Pagi

SURABAYA PAGI, Surabaya – Pilwali Surabaya 2020 masih 11 bulan lagi. Namun sejumlah tokoh yang disebut-sebut bakal ikut kontestasi itu mulai tebar pesona, dengan memasang baliho gambar dirinya di beberapa lokasi. Setidaknya terlihat baliho politisi Partai Demokrat Herlina Harsono Njoto dan dua politisi PDIP, yakni Armuji dan Dyah Katarina. Ketiga tokoh itu sudah tak asing bagi warga Surabaya. Armuji dikenal politisi senior yang saat ini menjadi anggota DPRD Jatim, setelah empat periode sebagai anggota DPRD Kota Surabaya. Sedang Dyah Katarina, istri mantan Walikota Surabaya Bambang DH. Sementara Herlina, saat ini menjadi Ketua Fraksi Demokrat-Nasdem DPRD Kota Surabaya. Bagaimana peluang mereka?
--------

Pengamat politik asal Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Umar Sholahudin mengungkapkan, potensi Herlina Harsono Njoto dalam kontestasi Pilwali Surabaya 2020 cukup terbuka. Soalnya, kader Partai Demokrat tersebut dinilai punya kapabilitas dan popularitas.

"Bu Herlina ini kan wakil rakyat dua periode dan pernah jadi ketua Komisi A. Jadi, kapasitas dan popularitasnya sudah dikenal," cetus Umar kepadaSurabaya Pagi, Minggu (13/10/2019).

Walau demikian, dalam politik ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang bakal calon, seperti bagaimana memaksimalkan potensi dirinya menjadi dapat diterima masyarakat hingga dipilih. "Jadi, Bu Herlina dan Partai Demokrat harus bekerja keras untuk bagaimana mewujudkan kapabilitas dan popularitasnya, menjadi akseptabilitas hingga elektabilitas," tutur Umar.

Sebetulnya, lanjut Umar, semua bacalon dalam Pilwali Surabaya mendatang punya peluang yang sama. Soalnya, tidak ada lagi petahana yang turut bersaing. Oleh sebab itu, posisi Herlina yang seorang minoritas dari etnis Tionghoa dan beragama nonmuslim, tidak menjadi halangan baginya untuk maju.

"Karakter pemilih di kota metropolitan seperti Surabaya ini adalah rasional. Jadi, mereka tidak mempertimbangkan latar belakang etnis, agama maupun gender. Yang penting visi dan misinya," urai Umar.

Walau demikian, jalan Herlina menuju kursi wali kota cukup terjal. Soalnya, Partai Demokrat tidak punya kesempatan untuk mengusung wakil sendiri karena kurangnya jumlah kursi di parlemen. Oleh sebab itu, sambung Umar, jalan paling realistis adalah mengusulkan Herlina sebagai L2 (wawali).

"Namun, saya pikir Bu Herlina lebih dapat diterima sebagai L2. Jadi, Partai Demokrat menunggu saja siapa yang bakal meminangnya," papar DirekturParliament Watch itu.

Tantangan Demokrat
Pendapat serupa juga diutarakan oleh pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura Surokhim Abdussalam. Menurutnya, Partai Demokrat harus benar-benar mempertimbangkan elektabilitas dan potensi menang calon yang diusungnya.

Hal tersebut, lanjut Surokhim, bisa diukur dengan memanfaatkan hasil survey internal. Karena Kota Surabaya merupakan salah satu kota dengan kompetisi pilkada paling sengit se-tanah air, jelas dibutuhkan karakter non-mainstream.
"Rekam jejak Bu Herlina sebagai anggota dewan boleh jadi mentereng. Tapi untuk level Pilwali Surabaya, beliau masih rata-rata," papar peneliti senior Surabaya Survey Center itu.

Isu Calon Boneka
Sementara itu, sejumlah nama bacalon yang mendaftar via DPC PDIP Perjuangan disebut-sebut sebagai calon boneka. Pasalnya, mereka hanya mengandalkan koneksi khusus mereka dengan tokoh tertentu alih-alih rekam jejak. Banyak kalangan yang menilai, para calon boneka ini dipasang demi mengatrol elektabilitas calon yang sudah disiapkan.

Misalnya saja Ning Lia yang merupakan keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Dyah Katarina, istri dari anggota DPR RI yang juga mantan wali kota Surabaya Bambang DH. Mereka sengaja maju sebagai bacalon saat pendaftaran. Hal itu dilakukan untuk menjatuhkan calon dari kelompok maupun partai lain.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Sekretaris DPC PDIP Surabaya Baktiono menegaskan kalau semua bacalon yang mendaftar melalui partainya, adalah bacalon yang serius dan maju atas niat sendiri. "Tidak ada itu (calon boneka). Semua serius!" tegas Baktiono kepada Surabaya Pagi, Minggu (13/10).

Menurut Baktiono, semua bacalon tersebut bakal disurvey secara langsung oleh DPP. Siapapun nama yang ditunjuk oleh DPP nantinya, sambung Baktiono, DPC siap menjalan keputusan. Legislator dengan suara terbanyak di DPRD Surabaya ini menambahkan, masa survey oleh DPP tersebut masih lama dan belum diketahui.

"Jadi, tidak ada yang tahu, maupun diberi tahu. Rahasia DPP. Dan DPP bisa punya keputusan lain dari luar daftar bacalon," tandas Baktiono.

Kesiapan Istri BDH
Sebelumnya, Dyah Katarnia mengungkapkan ia maju Pilwali Surabaya bukan keinginan sendiri, melainkan pemintaan dari simpatisannya. "Sejarah bagi semua, yang awalnya hanya sekedar bisik bisik, tetapi kenyataannya pada akhirnya juga mendaftar. Kalau disuruh memilih, saya lebih baik jadi DPRD saja," ucap Dyah Katarina.

Dikatakannya, dorongan dari ibu ibu PKK sangat kuat untuk maju. Selain bisa mewarnai pemilu, lanjutnya, poin penting adalah jika terpilih nanti, bisa mempengaruhi soal kebijakan kebijakan. "Jadi, siap mundur jika mendapat rekom. Yang penting berguna bagi masyarakat, dimana posisinya. Meskipun berat," lanjutnya. n

Berita Populer