Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Jokowi, Sensitif Soal Isu-isu Harga Sembako di Pasar Tradisional

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Baru pada pilpres 2019 ini pasar tradisional diminat Anda Capres dan Cawapres yang berkompetisi merebut presiden periode 2019-2024.
Apa yang menarik dari pasar tradisional. Minimal ada lima aspek. Pertama tempat ibu atau emak-emak “berkumpul” tanpa membedakan kelas sosial. Kedua, di pasar tradisional mayoritas Anda bisa menyapa tanpa biaya seremonial yang besar. Ketiga, Anda bisa menyapa dengan leluasa. Keempat, Anda bisa mengetahui harga sembako ( sembilan bahaj pokok) secara riil dari penjual eceran dan konsumen akhir beras, sayur, tahu-tempe, daging sapi dan ayam sampai minyak goreng. Dan kelima, Anda sama-sama tertarik menyikapi ekonomi kerakyatan tanpa perlu kehadiran pengamat ekonomi, sosial dan politik.
Sebagai petahana, Anda Jokowi meminta jangan ada pihak yang menakut-nakuti masyarakat dengan isu harga mahal di pasar tradisional.
Capres nomor urut 01 ini malah menyindir pihak yang ’menggoreng’ isu harga kebutuhan mahal namun tak pernah datang ke pasar.
"Orang nggak pernah ke pasar, nongol-nongol ke pasar, keluarnya ngomong mahal. Nggak pernah ke pasar. Nggak mungkin orang superkaya datang tahu-tahu datang ke pasar, nggak mungkinlah. Datang ke pasar, nggak beli apa-apa, pas keluar bilang mahal, mahal, mahal. Haduuh...," gerutu Jokowi, saat memberikan arahan di depan TKD Jokowi-Ma’ruf di Graha Wangsa, Bandar Lampung, Sabtu (24/11/2018) lalu.
Sementara Sandiaga, Cawapres Anda Prabowo, setiap kunjungan ke kota dan kabupaten di Indonesia, selalu mampir di pasar tradisional.
Dan Sandiaga, setiap keluar dari pasar tradisional, selalu berkomentar soal keadaan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Komentar yang sering dilontarkan adalah tren harga-harga kebutuhan rumah tangga yang mahal, sehingga membuat banyak orang menjerit.
Seperti pada Jumat (23/11) lalu, Sandiaga mengunjungi Pasar Besar, Kota Malang. Lagi-lagi, Sandiaga, mengaku mendapat keluhan harga sayur yang naik.
"Alhamdulilah kondisi pasar ramai. Tetapi pedagang bilang bahwa sejumlah barang harganya naik, yakni buncis dan wortel," kata Sandiaga usai mengecek kondisi Pasar Besar Kota Malang.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Saya sejak masih SD memang sering ke pasar tradisional di Keputran, Gubeng, Pucang, pasar Manukan Tandes dan Pacar Keling Surabaya.
Saya bukan blusukan seperti Anda selama ini. Saya benar-benar “kastemer” pasar tradisional, karena ibu saya bakul mracang di sebuah kampung kawasan Gubeng Airlangga Surabaya. Hampir tiap usai subuh, saya sudah membawa tas keranjang untuk berbelanja, bukan sekedar tanya sana-sini seperti Anda.
Makanya, bagi saya, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. Ada pula pasar tradisional hasil kerjasama pengembang dengan warga dan kelurahan. Bisnisnya adalah kelola stan, kios dan los. Bahkan menyediakan tenda yang disewakan atau beli oleh pedangan kecil yang bermodal kecil pula.
Lokasinya, sering diarahkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. Sekaligus Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota, termasuk Peraturan Zonasinya.
Ketentuan mengenai pasar saya baca pada Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
Menurut Pasal 1 angka 1 Perpres 112/2007, pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.
Dan sampai sekarang, pengelolaan pasar tradisional di Kota Surabaya, terus didorong untuk melahirkan terbosan pengelolaan secara baik. Pasalnya jika tidak, pasar-pasar rakyat ini kadang mati karena ditinggalkan pembeli dan penjualnya.
Umumnya, keberadaan pasar-pasar tradisional di Surabaya saat ini dalam kondisi yang kurang baik. Terutama di pasar tradisional Manukan dan Gubeng. Ini menurut saya, dikarenakan pengaruh manajemen pengelolaan pasar tradisional yang kurang profesional. Maklum, dua pasar yang saya sebutkan tadi pengelolaannya bukan swasta, seperti pasar modern di Darmo Permai Surabaya.
Saya juga heran. Mengingat telah banyak pasar tradisional yang sudah dibangun melalui program revitalisasi pasar tradisional. Beberapa kios malah justru tidak ditempati.
Akal sehat saya bertanya, mengapa Anda calon presiden dan Cawapres masih mengagendakan kegiatan kampanye di pasar tradisional?.
Sepertinya Anda bukan menyentuh cara kelola pasar tradisional secara profesional. Tapi pencitraan di depan pers dan emak-emak.
Dari satu aspek, dengan menguak harga-harga kebutuhah rumah tangga, kegiatan Anda, saya anggap masih merupakan bagian dari pencitraan. Akal sehat saya menilai Anda berdua beluk berupaya untuk menjawab persoalan ekonomi yang tengah dihadapi bangsa ini.
Dari berbagai survei, menunjukam ekonomi menjadi salah satu permasalahan utama RI, saat Anda Capres Jokowi, memasuki babak akhir memimpin presiden babak pertama.
Saya mencatat dari berbagai pernyataan Sandiaga, kalau ditanya permasalahan Indonesia jawabannya yang pertama selalu ekonomi. Dalam bahasa lebih operasional, urusan ekonomi bila kapasitas diturunkan lagi, dimensinya biasanya menyangkut harga sembako, tarif dasar listrik, dan lapangan pekerjaan.
Nah harga-harga sembako ini jadi penting. Makanya Anda Capres Jokowi, terusik bila Sandiaga, usai blusukan ke pasar-pasar tradisional. Terkesan, Anda Capres Jokowi, sekarang ini “harus” menjaga isu-isu masalah pasar tradisional. Terutama soal harga. Padahal Sandiaga, belum menguak pengelolaan (tata kelola) pasar tradisional dari rentenir yang mencekik para bakul sampai petugas retribusi pasar yang tidak memberi bukti pungutan. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)