•   Selasa, 7 April 2020
Pilpres 2019

Jokowi Mainkan Politik Genderuwo

( words)
Presiden Jokowi menyebut istilah politikus ‘genderuwo’ saat berkunjung ke Tegal, Jateng, Jumat (9/11).


TKN Jokowi-Ma’ruf Singgung Prabowo, Jokowi Diserang Balik soal Ingkar Janji dan Tebar Ketakutan dengan Ancaman Hukum

SURABAYA PAGI, Jakarta – Setelah menyebut ada politikus sontoloyo, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini mengungkap istilah politikus ‘genderuwo’ saat berkunjung ke Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018). Sebutan itu memicu saling serang antara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin dengan tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno. Apalagi, tim pemenangan Jokowi membeber politikus ‘genderuwo’ itu mengarah ke capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, lantaran dinilai kerap melontarkan narasi-narasi pesimisme. Kubu Prabowo-Sandi menyerang balik, istilah itu justru mengarah ke kubu petahana, yang menebar ketakutan dengan ancaman hukum dengan menggunakan alat negara. Bahkan, capres nomor urut 01 itu dianggap ingkar janji.
------
Presiden Jokowi mengatakan sikap santun yang selama ini selalu dipegang teguh oleh masyarakat telah mulai memudar. Salah satunya terlihat dari perilaku para politisi dalam berpolitik yang sudah melupakan sikap kesantunan.
Jokowi berpendapat, saat ini banyak politikus yang pandai memengaruhi masyarakat. Namun, ia menyayangkan sikap para pelaku politik yang cenderung tak memandang etika berpolitik dan keberadaban.
"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan dan kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat emang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, masyarakat akan menjadi ragu-ragu," ucap Jokowi di Kabupaten Tegal, Jumat (9/11) kemarin.
Jokowi memiliki satu istilah khusus untuk menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Ia menyebut cara berpolitik tersebut sebagai ’politik genderuwo’ yakni politik yang menakut-nakuti.
"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, menakut-nakuti," ucapnya, dikutip dari siaran resmi Istana.
Presiden berharap cara-cara berpolitik seperti itu segera ditanggalkan. Ia ingin masyarakat memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di Indonesia.
Jokowi menilai politik dan pesta demokrasi seharusnga disambut dengan gembira oleh masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat memberikan suaranya secara jernih dan rasional untuk memilih pemimpin yang tepat.
"Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh sebab itu, sering saya sampaikan, hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan," ujar Jokowi.
Sebelumnya, Jokowi pada Oktober 2018 lalu pernah menyebut istilah politik sontoloyo. Yaitu, cara berpolitik yang memecah belah masyarakat, menyebabkan kebencian, mengadu domba dengan cara tak beradab itulah yang ia sebut dengan politik sontoloyo.
"Kalau masih pakai cara-cara lama seperti itu, masih memakai politik kebencian, politik sara, politik adu domba, politik pecah belah itu namanya politik sontoloyo," kata Jokowi di ICE, Tangerang, Rabu (24/10) lalu.
TKN Sindir Prabowo
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, menafsirkan pernyataan Jokowi soal ’politik genderuwo’. Karding menduga ucapan itu ditujukan salah satunya ke capres nomor urut 2 Prabowo Subianto.
"Politik itu semestinya buat politik itu tenang, nyaman, bergembira, dan senang hati mendapatkan pendidikan. Itu yang disindir oleh Pak Jokowi. Jadi kalau... Pak Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang agitator dan propagandis terkait hal-hal yang menakutkan," kata Karding kepada wartawan.
"Mungkin salah satu yang disebut, yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo," sambungnya.
Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir juga memperjelas siapa yang dimaksud dalam istilah politikus ‘genderuwo’. Menurutnya, dalam mitos Jawa, genderuwo merupakan bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia. Genderuwo memiliki tubuh besar dan suka menghisap darah manusia.
"Serta diyakini selalu menganggu manusia dengan menakut-nakuti, membisiki berita bohong dan kadang menghasut manusia agar saling berkelahi satu dengan yang lain-nya," kata Inas kepada wartawan, Jumat (9/11/2018).
Inas mengatakan, akhir-akhir ini, di dunia perpolitikan Indonesia, ada sosok genderuwo yang bermunculan. Mereka menghasut, membohongi dan menakut-nakuti rakyat.
"Muncul beberapa genderuwo yang kerjaannya menghasut, membohongi dan menakut-nakuti rakyat. Tapi bedanya genderuwo yang ini pengen banget ganti presiden, malahan ada (genderuwo) yang pengen banget jadi presiden," ujarnya.
Siapa genderuwo yang ingin jadi presiden? Inas enggan secara gamblang menjawab. "Yang pengen banget jadi presiden kan pernah marah-marah di Ponorogo bahkan melecehkan warga Boyolali," katanya. Padahal, pada Pilpres 2019, hanya ada dua capres. Yakni, Jokowi dan Prabowo.
BPN Serang Balik
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, menanggapi istilah politik genderuwo yang dilontarkan Jokowi.
Dahnil tidak merasa istilah itu mengarah kepada kubu Prabowo-Sandiaga. Sebab, menurut Dahnil, politik yang menakuti-nakuti, seperti yang dimaksud Jokowi, biasanya dilakukan oleh pihak yang mempunyai kekuasaan. Karena, ia menilai, pernyataan Jokowi tersebut seperti menjadi pengingat bagi dirinya sendiri.
"Saya kira bagus Pak Jokowi menyampaikan hal tersebut sebagai pengingat karena yang bisa menebar ketertakutan adalau beliau yang memiliki semua sumber daya politik dan kekuasaan," kata Dahnil saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (9/11).
Ia pun kali ini sepakat dengan maksud pernyataan Jokowi agar menyudahi gaya politik yang menakut-nakuti masyarakat dan mengintimidasi kelompok lain yang berbeda sikap politik.
Karenanya, ia meminta agar pernyataan Jokowi kemudian ditindaklanjuti dengan pemerintah berhenti melakukan beberapa hal. Pertama, berhenti menebar ketertakutan dengan ancaman hukum dengan menggunakan alat negara.
Kedua, ia meminta berhenti menuduhkan pihak yang anti-Pancasila dan menganggap pemerintah sebagai penafsir tunggal Pancasila.
"Stop menebar ketertakutan Indonesia akan di Suriah kan, sambil menuduh mereka yang menuntut keadilan sebagai anti-NKRI dan anti-Pancasila, sementara pemerintah bak fasis menganggap dirinya sebagai penafsir tunggal terhadap Pancasila dan paling benar," kata Dahnil.
"Setop menebar ketertakutan kepada para ulama dan cerdik pandai yang kritis sebagai kelompok anti-NKRI dan anti-pancasila," lanjut Dahnil menegaskan.
Singgung Janji Jokowi
Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono mempertanyakan kabar Presiden Jokowi yang terbiasa mengingkari janji kampanye dan komitmennya sejak masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
"Sementara Pak Jokowi beberapa kali pernyataannya soal Esmeka, pertumbuhan ekonomi meroket, soal guru honorer enggak pernah merasa punya tanggung jawab terhadap omongannya. Ingkar janji Pak Jokowi apa kabar?" tanya dia.
Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, Mardani Ali Sera, gembira dengan sikap Jokowi belakangan ini. "Pertama, gembira karena Pak Jokowi dalam dua pekan menggunakan kata yang buat orang Jawa tidak halus dan lembut," kata Mardani dalam keterangannya, Jumat (9/11) kemarin.
Menurut dia, kata genderuwo dan kemarin ’sontoloyo’, jauh dari kebiasaan Jokowi dan mungkin, dalam pandangannya, citra Jokowi akan merosot.
"Karena Jawa, Jawa dan Jawa adalah pusat pertarungan. Kedua, kata sontoloyo dan genderuwo dua kata yang tidak mencerminkan Pak Jokowi selama ini. Citra dan persepsi publik bisa tergerus," papar Mardani.
Pandangan Antropolog
Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Pande Made Kutanegara, mengatakan istilah genderuwo memang lazim diujarkan masyarakat Jawa untuk menjuluki orang dewasa yang doyan marah. Masyarakat Jawa, secara khusus orang-orang di perdesaan, menyebutnya sebagai ’poyokan’ yang bermakna negatif.
"Genderuwo disamakan dengan buto, yang badannya besar, suka mengumbar angkara murka, suka marah. Sedikit sedikit marah," kata Pande.
Kisah-kisah tentang genderuwo kerap disampaikan untuk menakut-nakuti anak kecil. Dalam konsep politik, anak kecil direpresentasikan sebagai sebagai masyarakat yang tak punya kekuasaan, miskin, dan kurang berilmu.
Jadi, genderuwo dalam konsep politik memang digambarkan sebagai orang berkekuasaan, tapi suka menakut-nakuti. Namun, momok genderuwo tak berlaku bagi masyarakat yang berilmu atau masyarakat kalangan tertentu.
Adapun dalam arti sebenarnya, genderuwo berasal dari bahasa Jawa kuno atau Kawi Gandharwa yang artinya raksasa. "Mahluk ini suka menakut nakuti manusia, karena bentuknya tinggi besar, hitam dan menyeramkan," terang Pande. n

Berita Populer