Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Jokowi - Prabowo, saling Mengeluh, Siapa yang Gentlemen..?

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Anda berdua sampai kini sama-sama mengeluh jadi korban fitnah. Anda Capres Jokowi dituding pengusung PKI. Anda juga dituduh keturunan China. Selain itu Anda juga dituduh anti Islam. Bahkan Anda Jokowi digembar-gemborkan mengkriminalisasi ulama.
Sementara Ana Capres Prabowo Subianto pekan lalu bertekad meluruskan fitnah yang ditujukan kepada Ansa.
Anda Capres Prabowo yang mengaku selama ini membela Pancasila tapi difitnah mendukung khilafah.
Kemudian tudingan ulama yang memihak Anda dibilang radikal dan anti Pancasila. Padahal Anda Capres Prabowo sejak kecil bersumpah membela Pancasila dan NKRI. Saat menghadiri deklarasi relawan Rhoma Irama, di Soneta Record, Jalan Tole Iskandar, Sukamaju, Cilodong, Depok, Minggu (28/10/2018), Anda Capres Prabowo, mengakuh sedih suasana sekarang penuh curiga, saling fitnah, dan saling menuduh. Dan Anda Capres Prabowo, merasa menjadi korban kecurangan dan fitnah.
Nah, Anda berdua sama-sama mengklaim jadi korban fitnah. Pertanyaannya, siapa diantara berdua, yang paling gentlemen yang berani malaporkan satu sama yang lain. Sampai Senin sore saya melakukan klarifikasi ke Bareskrim Polri, baik Anda Capres Jokowi maupub Capres Prabowo, belum satupun diantara And berdua yang telah melaporkan ke aparat kepolisian atau Bawaslu.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Jujur, pernyataan Anda berdua yang saling tuding menunjukkan kepentingan kekuasaan masih mendominasi daripada menjaga keutuhan hubungan sosial masyarakat.
Akal sehat saya menilai ucapan Anda dan tim sukas Anda berdua sampai semalam, terkesan saling menjatuhkan bertujuan untuk mempertahankan elektabilitas atau dukungan suara.
Satu hal yang tidak bisa saya terima dengan akal sehat adalah Anda bersama tim sukses dan pendukung Anda tidak memikirkan dampak negatif yang berpotensi timbul di masyarakat.
Dari kontens kontens tudingan mayoritas
Berpikir untuk kepentingannya masing-masing. Belum berpikir dampaknya bagi masyarakat luas.
Saya mengambil contoh isu-isu sensitif seperti kebangkitan PKI dan dukungan ke ISIS dan Khilafah, cenderung untuk meraup dukungan dari publik, paling tidak pemilih-pemilih tertentu.
Akal sehat saya berkata, Anda berdua sepertinya tidak memikirkan bahaya bagi kondisi sosial masyarakat jelang pencoblosan serentak tanggal 17 April 2019 mendatang.
Penggunaan isu PKI, ISIS, dan SARA, menurut Amin, akan menimbulkan fragmentasi di masyarakat yang bisa memicu konflik sosial.
Isu PKI, anti Islam, khilafah dan radikalisme bisa menjadi komoditas. Bahkan akan membuat fragmentasi di masyarakat. Itu jelas terjadi.
Saya tak menungkiri, suasana politik makin mendekati tahun 2019 makin sulit. Bahwa perkembangan politik saat itu, disadari atau tidak agak keruh. Dari pernyataan sejumlah elite pendukung Anda berdua menunjukan makin meningkat perasaan saling curiga antargolongan masyarakat dan negara-masyarakat .
Apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa keindonesiaan atau kebangsaan kita tiba-tiba begitu rapuh justru ketika kita hendak merayakan hampir dua dekade reformasi?
Salah satu sumber kekeruhan politik bermula kabar bohong Ratna Sarumpet dan pembakaran bendera HTI, yang dieksploitasi pada kalimat taubidnya.
Bila dirunut, suasana politik keruh sebenarnya sudah terbentuk sejak menjelang Pilkada DKI tahun 2017.
Jujue pembelahan politik yang mewarnai kompetisi pilpres 2019 semestinya sudah perlu dipanas-panasi sejak Anda Berdua menandatangani deklarasi damai di Jakarta, beberapa bulan lalu.
Jujur, sejak menyaksikan di layar TV swasta acara deklarasi damai itu, saya mencatat Anda berdua sepakat mewujudkan politik yang "cair" dan ada rekonsiliatif pasca pilkada DKI 2017. Anda berdua sepertinya sadar, kampanye Pilpres damai diperlukan, agar negeri bisa melanjutkan pembangunan dan janji-janji politik Anda berdua. Siapapun yang menang.
Fakta adanya saling curiga dan fitnah yang Anda risaukan seperti sekarang, ternyata membuktikan politik dan tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang yaitu Politik seringkali menghalalkan segala cara untuk dapat mencapai tujuanya yaitu kekuasaan.
Saya menilai dengan fakta peristiwa yang saling curiga dan fitnah, saya tak melihat Anda berdua adalah politisi gentlemen. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)