•   Kamis, 23 Januari 2020
Pilpres 2019

Jokowi, Petugas Partai, yang punya Inner Circle Ketum Partai

( words)
Dr. H. Tatang Istiawan Wartawan Surabaya Pagi (Wartawan Senior)


Catatan Akal Sehat Kampanye Pilpres 2019 (2)

Belum lama ini, Lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia ( LSI) Denny JA, merilis hasil survei tentang pengaruh elektabilitas Capres-Cawapres, seusai debat perdana pada 17 Januari 2019 lalu. Survei dilakukan 18-25 Januari 2019 terhadap 1.200 responden.
Peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, elektabilitas kandidat nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dibandingkan kandidat nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno.
Pasangan Jokowi - Maruf Amin, meraih 54,8 persen, sementara Prabowo – Sandiaga, mendapatkan 31,0 persen. Sementara yang masih belum memutuskan sebesar 14,2 persen.
Sebaliknya, survei internal Prabowo-Sandi, menyebut gap-nya makin mendekati tanggal 17 April 2019, semakin kecil atau tipis. “Mudah- mudahan progresnya makin baik. Masuknya Pak Sandi betul-betul membawa dampak sangat positif bagi elektabilitas," tutur Sudirman Said, tim sukses Prabowo-Sandi.
Menurut akal sehat saya, bila survei internal Prabowo-Sandi, menunjukan makin tipisnya jarak antara Prabowo dan Jokowi dalam hal elektabilitas, bisa jadi sebagai petahana, Jokowi, bisa disalip alias kalah suara dalam pemungutan suara langsung pada tanggal 17 April 2019.
Apalagi menggunakan hasil jajak pendapat yang dilakukan Media Survei Nasional (Median), per Januari 2019, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf, menurun 47,9 persen dan Prabowo-Sandiaga naik 38,7 persen. Dengan hasil ini, perbedaan elektabilitas keduanya menjadi 9,2 persen.
Jarak ini kian sempit, dibandingkan dengan hasil survei Median pada November 2018. Saat itu elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih di angka 47,7 persen, sedangkan Prabowo-Sandi masih di angka 35,5 persen. Ada selisih elektabilitas 12,2 persen.
Salah satu faktornya adalah kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi yang berada di level medium yaitu sebesar 51,9 persen.
Jajak pendapat atas ketidakpuasan masyarakat terletak di sisi ekonomi, yakni tingginya harga kebutuhan pokok dan listrik.
Dalam diksi-diksi selama ini, celah ini yang dimanfaatkan pasangan nomor urut 02 untuk mendongkrak elektabilitasnya.

***
Hasil studi kasus critical instance yang saya lakukan adalah kasus unik atas penyebutan capres Jokowi, sebagai ‘’petugas partai’’ oleh Ketua Umum PDIP, Megawati.
Akal sehat saya tergelitik melakukan studi ‘’Jokowi petugas partai’’, apakah bisa diterima dengan akal sehat seorang presiden adalah petugas partai. Apakah penyebutan oleh Ketua Umum PDIP ini sekedar jargon atau ada misi lain dari PDIP?
Saya mencatat frase petugas partai ini dilontarkan pertama kali oleh Megawati pada saat kampanye nasional di Stadion Trikoyo, Klaten, Jawa Tengah, pada Sabtu, 5 April 2014.
“Begitu diumumkan bahwa kita lebih dari 20 persen artinya Pak Jokowi yang telah saya perintahkan sebagai petugas partai untuk menjadi calon presiden Republik Indonesia, maka dengan resmi beliau itulah pada pemilu presiden nanti, resmi menjadi calon presiden dari PDI perjuangan,” kata Megawati.
Akal sehat saya menilai bahwa dengan atribut ‘’petugas partai’’, Megawati tetap ingin memposisikan ‘’pimpinan tertinggi’’ Jokowi dengan sejumlah otoritas politik. Sebaliknya, Jokowi adalah petugas partai yang wajib tunduk pada pemegang otoritas yang pernah mengangkat.
Menurut akal sehat saya, ‘’status’’ Jokowi yang hanya ‘’petugas partai’’ kemudian menyeruak di publik, seolah Jokowi itu presiden boneka.

***
Studi yang saya lakukan Presiden Jokowi, memiliki inner circle yang konon sangat berperngaruh dalam pengambilan keputusan.
Diantaranya Megawati, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Konon pengaruh Surya Paloh lebih kuat dari Megawati. Praktis, sampai menjelang berakhirnya jabatan pemerintahan Jokowi-JK, NasDem mendapatkan sejumlah posisi strategis di pemerintahan Jokowi-JK.
Ada Jaksa Agung Muhammad Prasetyo, ada Menteri perdagangan Eggartiasto Lukita dan Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Inner circle Jokowi ketiga adalah Wapres Jusuf Kalla. Kader Partai Golkar ini juga ikut dalam menentukan kabinet dan juga program kerja Jokowi-JK lima tahun.
Orang keempat yang ada di lingkungan terdekat Jokowi adalah adalah mantan Ketua BIN AM (Abdullah Makhmud) Hendropriyono.
Hendropriyono memang tidak berada dalam pemerintahan Jokowi-JK. Tetapi Hendro telah ditunjuk Jokowi menjadi salah satu penasihat tim transisi Jokowi-JK.
Mayjen Andika Perkasa, menantunya selama empat tahun pemerintahan Jokowi, karirnya meroket mengalahkan Akmil angkatan 1985. Pernah di Paspampres, Komandan Kodiklat AD, Pangkostrad dan kini Kasad.
Lingkungan berpengaruh kelima, ada Luhut Binsar Panjaitan. Sebelumnya, ada Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar Setya Novanto.

***

Studi saya menemukan, hampir setiap presiden memiliki orang-orang terdekat (dalam) yang berpengaruh (inner circle).
Konon mereka bisa berperan sebagai pembisik bahkan ada yang mencatut untuk berbagai maksud dan agenda.
Dalam pergaulan saya sehari-hari, saya menemukan ada sejumlah pengusaha yang memampangkan foto dirinya dengan presiden. Orang semacam ini, kadang mencatut otoritas Istana di komunitasnya.
Apakah Enggar, panggilan akrab Menteri Perdagangan, termasuk inner circle Jokowi? Akal sehat saya bisa termasuk inner circle dari Surya Paloh, karena menjadi menteri Enggar, menggunakan jalur NasDem.
Dan Enggar, oleh mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli, dituding memiliki kaitan dengan persoalan impor pangan, di antaranya soal beras,.
Dalam sebuah program stasiun televise, Rizal Ramli mengatakan bahwa Enggar melakukan impor secara berlebihan, sehingga membuat rupiah melemah terhadap dolar AS. Dan Presiden Joko Widodo, dituding Rizal Ramli, tak berani menegur Enggar, karena merupakan anak buah dari Surya Paloh, Ketua Partai NasDem.

***

Presiden itu pimpinan Negara. Dalam ilmu manajemen kepemimpinan adalah influence. Hampir semua pemimpin besar ditopang inner circle ini.
Inner circle adalah orang-orang terdekat seorang pemimpin yang sudah memiliki kesamaan visi, nilai hingga perilaku dengan pemimpin.
Seorang Steve Jobs, misalnya. Steve untuk melakukan launching produk Apple akan membicarakannya dahulu kepada inner circle Apple. Terutama terkait operasionalisasinya.
Steve memilih sepuluh orang dalam yang berpengaruh yaitu : Walt dari WSJ, Andy dari Chicago, Bob dari Houston, David dari New York, Jeff & Edward, Xeni, Omar, Gideon, Stephen. Mereka mewakili beberapa negara bagian Amerika.
Pemimpin seperti Steve menyadari bahwa pengaruhnya perlu didukung oleh orang-orang yang memang sudah memiliki visi yang sama.
Menurut Maxwell, inner circle masuk kedalam hukum ke 11 dalam 21 hukum kepemimpinan sejati. Maklum, pengaruh seorang pemimpin ditentukan juga oeh orang-orang terdekatnya.
Maka itu, sejumlah pemimpin memerlukan waktu untuk menemukan inner circle. Salah satu kriteria adalah orang yang bisa bekerjasama secara positif.
Dalam banyak kasus, membangun inner circle, sering dimulai dengan menginvetarisasi orang-orang yang ada dalam organisasi. Ini karena tidak seluruh organisasi akan dipilih masuk dalam daftar orang terdekat pemimpin.
Nah, Hendropriyono, Luhut Binsar Panjaitan, Surya Paloh, Megawati dan JK serta Enggar, Menteri Perdagangan, adalah orang-orang yang dipercaya Jokowi. Mereka bisa jadi pembisik dan penelur gagasan-gagasan dalam kepemimpinan Jokowi.
Akal sehat saya, inncer circle ini bisa menjadi sasaran tembak oposisi. Dalam promosinya, Jokowi dikenal bersih, sederhana dan merakyat. Tetapi inner circlenya, ada yang dituding merusak reputasi Jokowi, sehingga dalam kampanye saat ini, Jokowi menjadi tumpaan kritik, terutama urusan pengelolaan ekonomi.
Belakangan ini, Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais, mulai nyanyi bahwa Presiden Joko Widodo tak mampu memberantas mafia impor pangan . Benarkah. Mari kita lihat kampanye yang tinggal kurang tiga bulan. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer